Sunday, September 18, 2005

Idola yang Belum Tentu Idola

Sebagai penggemar American Idol, begitu saya tahu kalau audisinya bakalan hadir di Chicago yang jaraknya hanya 1.5 jam dari Milwaukee, saya langsung tertarik untuk iseng coba coba. Maklum syaratnya selain ketentuan umur adalah para peserta harus U.S. citizen atau Permanent Resident. Saya bukanlah keduanya, jadi kesempatan ini saya pakai untuk melihat, seperti apa sih audisi acara super terkenal American Idol itu (yang untuk season ini bakal mematok harga $705,000 untuk 1 slot iklan selama 30 detik).

Hari Kamis sore sepulang kerja, saya dan yayang berangkat ke Soldier Field, Chicago, tempat di mana audisi akan diadakan. Kami ke sana malam ini hanya untuk mengambil wristband. Dengar2 dari orang, katanya untuk audisi babak awal, kami hanya perlu menunjukkan 1 identitas saja (yaitu driver license), jadi saya tidak khawatir kalau saya akan didepak karena status kewarganegaraan saya yang Indonesia merdeka ini. Perjalanan yang harusnya hanya 1.5 jam, kami tempuh selama 2.5 jam karena harus melawan arus lalu lintas yang luar biasa macetnya karena jam pulang kerja. Sekitar jam 8 malam, kami sampai di sana dan membayar parkir $13. Di dalam stadium tidak ada antrian. Hanya saja banyak orang bermalam di dalam stadium dengan bermodalkan selimut dan sleeping bag. Kamipun menuju petugas untuk dicek kartu identias kami, dan kamipun mendapat wristband. Merah untuk saya yang ikut audisi, dan hijau untuk yayang yang akan mendampingi saya. Setelah itu kami mengambil tiket untuk mendapatkan seat number. Saya ada di section 218, row 21, seat 1. Kurang dari 15 menit kemudian, kamipun melanjutkan perjalanan ke hotel. Untunglah hotel tempat kami menginap malam ini gratis karena selama bekerja saya mengumpulkan Hilton points.

Besok paginya kami bangun jam 5, siap siap, sarapan, dan kembali ke Soldier Field. Jam 7.30 pagi antrian begitu panjang, cuaca dingin menusuk, hujanpun turun tak henti. Tapi karena excited, rasanya jadi biasa saja walaupun saya bergidik kedinginan. Kamipun masuk ke stadium secara teratur dan menunggu di lobby. Jadual pertama kami adalah shooting bersama si rambut jangkrik Ryan Seacrest. Adegannya adalah, dia masuk membawa payung ke dalam lobby stadium, lalu kamu bersorak kegirangan. Adegan sederhanya itu diulang sampai 6 kali. Walah2. Nggak tau deh apa wajah saya masuk ke dalam kamera, karena banyaknya orang yang membawa poster besar. Setelah itu kami bergiliran masuk ke dalam stadium, dan saya ada di level kedua. Sekitar jam 9.45, announcerpun mengumumkan cara audisinya. Ada 14 booths untuk audisi di ronde pertama. Kita harus menyanyi di depan para produser junior dan kalau kita lolos, kita akan mendapatkan "golden ticket" alias kertas kuning, dan kita akan masuk ke ronde kedua yang lokasinya indoor dan menyanyi di depan executive produser. Setelah lolos ronde kedua itu, kita baru akan menyanyi di depan Randy, Simon, dan Paula dan waktunya belum ditentukan. Oh, begitu toh, dalam hati saya...Kemudian mereka mengumumkan, kalau audisi akan dimulali dari section 104. Karena posisi saya di level atas, kira2 berarti section saya akan menjadi section ke 18 yang akan di audisi. Proses audisipun dimulai sekitar jam 10 pagi.
Karena saya tau kalau giliran saya tidak akan dekat2 ini, saya dan yayangpun menunggu dan terus menunggu. Kami mengantre makan siang yang harganya sangat berlebihan (bayangkan 1 botol air mineral kecil $4) dan antriannya sangat luar biasa panjang. Kami putar sana sini untuk mencari tempat yang hangat, karena kami betul2 tidak siap untuk mendapat cuaca yang luar biasa dinginnya ini. Sayapun bolak balik kamar mandi berkali kali, dan saya lihat begitu banyak peserta yang "camping" di dalam kamar mandi karena lebih hangat daripada di luar. Sepanjang perjalanan saya mendengar banyak talenta2 bagus walaupun ada juga yang berantakan. Dandanan yang super anehpun banyak sekali ditemukan.

Setelah saya memperhatikan dari jauh, sedikit sekali orang yang mendapatkan golden ticket. Mereka sangat generous di awal2 audisi, namun mulai ditengah, nampaknya makin sedikit yang mendapatkan "golden ticket". Anehnya sebagian besar yang mendapatkan golden ticket itu adalah orang yang berpakaian sangat aneh. Misalnya: Laki2 dengan baju pink dan sepatu hak tinggi, laki2 gemuk dengan hula2 ala hawaii, seorang gadis yang memakai kostum Jinny dari I Dream of Jinny, seorang laki2 super gendut dengan celana pendek ketat, dan ada juga laki2 tinggi dengan memakai kostum mini dari Alice in Wonderland. Banyak sekali talenta2 bagus yang ditolak oleh produser. Sayapun jadi bertanya2, apa sih sebenarnya tujuan dari kontes ini ?
Jam 6 sore, lebih dari 10 jam saya menunggu, akhirnya sampailah kepada giliran section saya. Sayapun maju bersama teman2 yang lain, sementara si yayang menunggu di atas. Kami harus menyerahkan tiket dan release form ke petugas yang isinya kira: segala tingkah laku kami yang terekam di kamera adalah milik produser, dan kami berhak menghumiliate segala tindakan kamu. Makin jelas lagi kan maksud acara ini ? Setelah mengantri dan diambil gambar oleh juru kamera, kamipun dibagi menjadi group 4 orang. Saya mendapat booth nomor 7 dari 14 yang tersedia. Sayapun melihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana orang yang menyanyi berantakan dan aneh mendapatkan golden ticket, dan orang yang menanyi dengan bagus ditolak mentah2, walaupun ada juga yang betul2 bagus dan mendapatkan ticket. Saya maju ke depan bersama orang segroup saya. Alamak, produsernya ternyata: dua anak muda yang masih culun, satu laki2 botak bertampang garang, dan satu wanita hippies dengan rambut panjang belah tengah dan berkacamata. Kamipun bernyanyi satu2. Pertama teman sebelah saya menanyi lagu yang saya sendiri nggak pernah dengar dan langsung di stop setelah 10 detik. Kedua giliran saya, saya menyanyikan lagu "Angels Brought Me Here" dari Guy Sebastian. Saat itu si produser cewek sudah kasih clue dengan melirik si produser cowok botak. Tapi si cowok botak diem saja. Sebelum sampai refrain pun lagu saya sudah di stop. Ketiga giliran orang sebelah saya yang ternyata maju berdua dan berusaha menghumiliate diri mereka sendiri dengan bernyanyi asal2an lagu "Don't Cha" dari Pussycat Dolls dengan gaya sensual. Alamak... Kemudian kami semua maju kedepan dan si produser cewek cuma bilang: "berdasarkan standard tahun lalu, kalian semua belum cukup bagus", dan kamipun dibubarkan. Wristband kami langsung digunting, dan begitulah, audisipun selesai bagi saya. Dalam hati saya berpikir, apa sih itu standard tahun lalu ? Lindsay Cardinale yang walaupun sudah masuk 12 besar nyanyinya suka fals ? William Hung ? Mary Roach ? Atau laki2 yang cuma bisa ngomong "Can You Dig It ?"

Di luar yayangpun sudah menunggu. Dia nanya apakah saya bete. Soalnya dia bilang: "wih, kalau aku jadi kamu sih aku udah bete. Soalnya yang jelek2 pada masuk." Saya cuma bisa bilang, kalau saya justru nggak bete dan kecewa. Saya justru jadi ngeh, sebenernya apa yang dicari produser. Yang dicari semuanya adalah uang. Kalau nggak ada William Hung atau cerita2 aneh dibalik audisi ini, American Idol mungkin nggak sengetop sekarang. Saya juga baca banyak review dari beberapa pemerhati hiburan di koran2 sini, kalau Idol itu semuanya dibentuk, bukanlah idol sesungguhnya. Kita disuguhi tontonan, kalau Carrie Underwood adalah gadis di desa yang punya impian besar, Scott Savol yang selalu direndahkan martabatnya oleh ayahnya sendiri, Clay Aiken yang dulunya kutu buku, dan masih banyak lagi cerita2 lainnya.

Begitulah pengalaman saya selama mengikuti audisi American Idol. Nothing to lose anyway, karena saya toh memang nggak eligible hehehhehe... Cuma pengalaman kemarin betul2 membuka cakrawala saya soal bisnis pertelevisian. Intinya cuma: DUIT.. Tul nggak ?

No comments:

Post a Comment