Wednesday, May 11, 2005

Selembar Kertas

Kemarin malam, saya terlibat pembicaraan seru dengan tante dari teman saya yang notabene sangat bangga dengan anak2nya yang katanya sih terdidik semua dan sayang dengan orang tua. Sebagian orang memang merasa sudah cukup dalam mendidik anak anak mereka. Sebagian orang merasa telah melakukan dosa besar karena anak anak mereka terjerumus ke dalam pergaulan yang salah tanpa mereka sadari sebelumnya. Ada orang tua yang merasa perlu mengekang anak2 mereka, bahkan sampai keterlaluan sehingga anak2nya mencari pelarian. Kalau pelariannya baik, anak anak akan menjadi makin tangguh dan bisa belajar dari keadaan dirinya, sehingga tidak akan berulang ke keturunan mereka selanjutnya. Yang jadi masalah adalah bagaimana jika pelariannya salah, akhirnya terjun ke dalam pergaulan maksiat dan narkotika. Banyak jumlah anak2 ini justru berasal dari kota besar dan keluarga berada. Umumnya mereka kekurangan kasih sayang karena orangtua terlalu sibuk dengan businessnya. Anak2 tersebut hidup diliputi kemewahan, tapi hati begitu gersang karena tak ada tempat mengadu yang tepat. Ditambah lagi tidak ada kedekatan dengan Tuhan, sehingga mereka tidak tau harus lari kemana disaat menghadapi masalah. Kemudian sampailah saya kepada sebuah analogi yang menurut saya cukup pas untuk menggambarkan pribadi seorang anak dan peranan orangtua di dalam perkembangan jiwa anaknya.

Seorang anak yang baru lahir, ibaratnya seperti selembar kertas putih. Ayah dan ibu memulai goresan goresan sketsa kasar pada kertas itu. Lingkungan dan teman2nya akan memulai coretan coretan berwarna warni di dalam bagian yang kosong. Sesekali, orang tua berperan sebagai penghapus. Jika kurang puas, ayah dan ibu akan membetulkan sketsa itu sedikit demi sedikit. Semakin besar usia si anak Ada warna merah, kuning, hijau, dan jutaan warna lainnya yang membuat kertas itu menjadi sebuah lukisan beraneka warna. Ada goresan yang tebal, ada goresan yang tipis. Ada sifat yang menonjol dan ada sifat yang terpendam.

Saat sang anak beranjak dewasa, makin banyak goresan dalam dirinya. Teman dekatnya membuat banyak goresan tebal. Kadang goresan itu malah membuat lukisan menjadi jelek. Orangtua pun bertindak sebagai penghapus, mencoba membersihkan apa yang mengotori lukisan itu. Sayangnya kadang orangtua menghapus terlalu keras, sehingga akhirnya kertas itu menjadi bolong. Orang tua yang terlalu keras mendidik anak dan tidak memperhatikan keinginan anak, cenderung membuat anak tertekan. Akhirnya anak bisa menjadi pemberontak. Mau dibetulkan sudah terlambat. Kertas itu sudah bolong. Paling cuma bisa ditambal, tapi bukan lagi merupakan kertas yang utuh. Namun jika orangtua menghapus goresan itu perlahan lahan dengan kelembutan, goresan itu juga akhirnya bisa luntur. Pemahaman orang tua terhadap perkembangan anak, dan penerimaan anak terhadap nasihat orang tua akan menjadi kunci pendidikan dari orang tua ke anak.

Umur saya masih muda, masih beberapa tahun lagi untuk menjadi seorang ibu. Saya sadar kalau saya sebagai manusia juga kepingin segala sesuatu menjadi sempurna. Mungkin saya pingin anak saya nanti selalu nurut apa yang saya bilang. Tapi kan ngga bisa begitu adanya. Kalau cuma saya yang memberikan goresan itu, kertasnya hanya akan diisi oleh satu warna, dan lukisannya pun tidaklah indah. Saya juga yakin orang tua saya sudah berusaha semaksimal mungkin mendidik saya, menjaga lukisan itu tetap indah, sedap dipandang mata, dan juga mendamaikan hati orang yang melihatnya. Berat juga ya jadi orang tua.

No comments:

Post a Comment