Tuesday, May 17, 2005

Bukan Orang Bodoh Saja Yang Saling Menjatuhkan

Kalimat diatas dilontarkan oleh senior saya yang kebetulan lagi kerja bareng di client kita minggu lalu. Hari itu gue datang terlambat 5 menit karena malamnya saya kurang tidur. Muka sayapun terlihat lemes. Kerja juga nggak bisa konsentrasi. Senior saya langsung merasa kalau hari kemarin itu saya memang kelihatan nggak bisa fokus sama kerjaan. Dia tanya apakah saya ada masalah. Kemudian saya curhat sedikit apa yang saya alami hari sebelumnya. Setelah saya cerita, dia lantas komen seperti yang tertulis di atas itu. Dia juga nambahin: "Kalau orang bodoh bermasalah dengan orang lain, mereka akan main fisik. Killing each other, stabbing each other, screaming like kids. Tapi kalau orang pintar, mereka pakai mental. Pakai media, cari dukungan, adu domba dll. Akibat yang macam begini ini, lebih dari sekedar sakit fisik, tapi lebih kepada sakit hati dan perpecahan."

Waduh, saya langsung merasa, ini orang seperti bisa membaca apa yang sedang ada di dalam pikiran gue. Senior saya yang satu ini memang orangnya agak eksentrik. Merokok setiap 1 jam sekali, swearing sembarangan kalau clientnya nggak memuaskan, makan sebanyak2nya padahal kena diabetes, tapi ternyata dalam hatinya bijaksana juga. Pas dia ngelihat ada orang meninggal karena kena lung cancer, dia bukannya mikir, tapi malah ketawa2 dan bilang, "wah, ini sih diri saya sendiri nih beberapa tahun ke depan." Prinsipnya dia, life is too short for us to be worried about stupid things. Tapi tetep sih sebagai temen saya worry juga, dan saya kadang suka bilangin sama dia soal diet rokok :). Namun kata2nya dia memang bener banget. Makanya itu, saya berusaha untuk membuka hati saya, dan melupakan hal2 yang cukup menyakitkan, karena hidup itu cuman sekali aja.

Nggak salah dunia ini nggak bisa damai juga sampe sekarang. Saya yakin banyak sekali orang pintar di dunia, tapi mengapa mereka tidak menggunakannya kepintarannya itu untuk membangun sesuatu yang berguna bagi umat manusia. Daripada uang untuk perang dan beli senjata perang, kan bisa saja digunakan untuk membangun dunia tertinggal, mendirikan sekolah2, fasilitas air bersih untuk yang membutuhkan. Namun rupanya emosi dan pride manusia itu mengalahkan akan sehat, sehingga kepintaran itu tidak menjadi asset untuk membangun, melainkan asset untuk meruntuhkan orang lain, sehingga dia menjadi pemenang. Sepertinya kepuasan baru didapatkan kalau orang lain itu sudah jatuh dan kalah. Bedanya dengan orang bijak, kepuasan akan didapatkan kalau dia bisa membagi ilmunya pada orang lain, dan orang lain itu menjadi maju, bahkan lebih maju daripada dirinya sendiri.

Tinggal kita milih aja deh, mau jadi orang pinter sekedar pinter, atau mau jadi orang pinter dan bijak ? Orang tua kita kan sekolahin kita sampe gede gini, tentunya kita semua pada pinter kan... Mungkin yang perlu dilatih tinggal hati nuraninya aja, supaya makin keasah, makin peka, dan makin peduli dengan sesama. Saya juga masih butuh banyak latihan nih, biar hati gue tambah besar, penuh dengan sukacita, seperti embun pagi yang menyejukkan.

No comments:

Post a Comment