Saturday, December 24, 2005

Jadual Minggu Ini

Belajar...belajar.... belajar.... biar lulus ya Non, CPA nyaaaa...

Misa Natal, buka kado...belajar...belajar...belajar....

Plus, sisipkan, nonton pilem Korea di saat break hahahahahah....(jadi malu...)

PS: Maap, entry kali ini pendek aja. Maklumlah, lagi gregetan sama buku tebel di depan saya ini. Anyway, Selamat Hari Natal semuanya.. inget, makan jangan banyak-banyak, masih banyak yang kelaparan. Semoga damai kasih akan selalu terasa di dalam hati dan di seluruh dunia... AMIN !! Resolusi taon baru ini: Kurusin badan !!!

Saturday, December 17, 2005

Masakan Gue, Suka- Suka Gue Dong!



Buat anak anak yang pernah ke Purdue University, pasti jika mahasiswa Indonesia di sana ditanya restaurant apa yang mereka rekomendasikan, pasti jawabannya mirip-mirip semua. Tapi yang tidak pernah ketinggalan adalah: Kokoro. Dari namanya, orang pasti sudah menebak, kalau ini pasti restaurant yang menyediakan masakan Jepang. Kalau itu tebakan kalian,..maaf jawaban anda kurang tepat. Ini adalah restaurantnya si Tony, dan masakannya adalah Masakan si Tony (Tony’s Food).

Memang, si Tony adalah orang Jepang. Orangnya botak, tidak terlalu tinggi. Perawakannya agak keras dan kurang senyum. Umurnya kira kira 60-an. Lalu apa yang sebetulnya istimewa dari masakan si Tony ini, sampai begitu direkomendasikan oleh teman teman kita di West Lafayette sana?

Masakannya memang cukup istimewa. Tapi bukan itulah faktor utama yang membuat tempat ini berbeda dari tempat lainnya. Kokoro adalah satu paket keunikan, dan Tony adalah pusat keunikan itu. Restaurant ini adalah restaurant pertama yang saya temui yang memasang aturan lengkap soal tata cara (atau lebih tepatnya tata krama) pelayanan mereka di depan jendelanya. Ada beberapa belas aturan. Saya tidak ingat semuanya, tetapi beberapa di antaranya adalah: Anda tidak boleh memakai topi, anda tidak boleh pesan untuk dibawa pulang, dan si Tony berhak untuk tidak melayani anda kalau dia tidak suka sama anda. Ckckckck.. jadi sebaiknya, jangan macem-macem deh sama si Tony kalau kalian masih mau makan enak.

Masuk ke dalam, anda akan dibawa ke atmosfir rumah makan modern. Kelihatannya berbeda dengan kekakuan yang diciptakan dari aturan-aturan di atas: bar yang cukup lengkap dan bisa dibilang fancy, arsitektur bersih dan simple ala barat. Saat anda melihat menunya, pada halaman muka, Tony menjelaskan soal dirinya dan masakannya. Dia sudah memasak puluhan tahun, dan semua masakan di restaurant ini, dia siapkan dengan tangannya sendiri, dibantu oleh istri tercintanya. Jadi dia mohon maaf kalau pelayanannya agak lama, apalagi karena di usianya yang sudah tua, dia mulai mengidap arthritis. Dia menyebut masakannya Tony’s Food karena semua resep di menunya diciptakan dan dikreasikannya sendiri. Dia juga bilang, kalau dia meninggal, Tony’s Food tidak akan ada lagi. Semua resepnya akan terkubur bersama dengan hilangnya dia dari dunia ini. Wih… dalem banget…

Saya ingat, saat saya datang ke sana dua tahun lalu, dia tidak memakai pelayan sama sekali. Namun seiring dengan usia dan kekuatannya, saat saya datang empat hari lalu, ada tiga pelayan yang membantunya. Saya memesan Hawaiian Maui Roll seharga 18 dolar, semangkok miso soup seharga 2 dolar, dan satu cangkir green tea seharga 1.5 dolar. Dan memang benar, Tony sendirilah yang menggulung sushi saya. Rasanya masih tetap enak seperti dua tahun lalu saya makan di sini, kepitingnya betul betul terasa. Harganya bisa dibilang lumayan tinggi untuk kota kecil seperti Lafayette. Nasi gorengnya saja berkisar dari 17-19 dolar. Tetapi untuk keunikan dan pengalaman yang diberikan oleh Tony, harga adalah faktor kedua.

Pernyataan yang disampaikan Tony mungkin bisa dianggap arogan oleh beberapa orang. Tapi ada banyak hal yang saya setuju dengan cara dia mengelola restaurantnya. “Orang masakan gue kok, kalo elu nggak suka ya jangan makan di sini. “ Padahal denger-denger bisnis restaurant adalah bisnis yang paling cepat tingkat kepunahannya. Kalau kita pikir, restaurant dengan pelayanan kelas atas saja banyak yang gulung tikar di tahun pertamanya, apalagi restaurant yang “usil” seperti punyanya si Tony ini. Tapi Tony sudah memasak selama lebih dari 40 tahun, dan restaurant kebanggaannya masih tetap dikunjungi pelanggan setia. Inilah bukti kalau Tony’s food memang berbeda, dan Tony memang betul betul dicintai, tak peduli berapa banyak aturan yang dia terapkan di jendela restaurantnya.

Wednesday, December 14, 2005

Naik Naik Ke Puncak Silos



Jumat sore kemarin, saya dongkol habis habisan. Pertama-tama, jadual saya minggu ini yang seharusnya di Appleton, tiba tiba kosong di hari Senin dan Selasa. Dan tak berapa lama kemudian, saya ditelepon oleh salah seorang scheduler (alias si pengatur jadual) dari Chicago. Dengan santainya dia ngomong: "Senin ini kamu ke Frankfort ya." Dalam bayangan saya, wah, Frankfurt kali yang di Jerman. Lumayan jalan jalan ke Jerman. Eh ngga taunya: "Frankfort, Indiana !" Hilanglah sudah bayangan ke Jerman berubah jadi gambaran perkebunan jagung in the middle of nowhere. Yang bikin kesal lagi, kenapa mereka harus mencari staff dari Milwaukee, padahal Frankfort hanyalah 45 menit dari Indianapolis. Bikin gondok aja.

Dan bener saja, kalau tugas saya adalah menghitung grains yang terdiri dari jagung dan kedelai. Saya diperintahkan untuk membeli steel toe boots (itu loh, sepatu bot depannya ada lapisan bajanya, biar kalo kejeduk kakinya kagak sakit...). Akhirnya ketemu juga itu barang di Target, tapi buat cowok. Ya dah, berhubung ukuran kaki saya 8.5, saya beli ukuran cowok yang nomor 7. Masih saja kegedean... tapi dibeli juga soalnya memang itu yang paling kecil.

Perjalanan ke Frankfort kira kira 4.5 jam lamanya. Berhubung saya lumayan melesat nyetirnya kayak the flash, saya masih sempet mampir di Steak and Shake Lafayette buat makan burger hihihi.. (dasar si rakus). Pertamanya saya merasa lumayan bersalah lantaran makan sebakul, tapi setelah sampai di perkebunan jagung itu, saya bersyukur karena saya telah menimbun lemak yang cukup. Maklum cuaca dingin menusuk tulang (sekitar 20 Farenheit), dan pekerjaan saya...eng ing eng... siap siap...YAK...

Silos adalah lumbung ala Amerika. Bentuknya seperti tabung, tingginya seperti gedung. Isinya, ya jagung dan kacang-kacangan. Dari kejauhan, saya melihat deretan silos di tengah tengah hamparan salju. Ketika saya sampai di tujuan, saya parkir dan masuk ke dalam kantor kecil.

Pertanyaan pertama dari client saya adalah: "Apakah kamu takut ketinggian ? Saya lupa kasih tau ke kantor pusat kalau kamu tidak boleh takut ketinggian."

Lalu saya menjawab: "Waktu kecil saya sempat takut ketinggian, apalagi kalau lewat jembatan penyeberangan. Saya suka takut lihat kebawah, soalnya kebayang ketabrak mobil. Tapi mudah-mudahan sekarang nggak lagi."

Dia pun komentar: "Wah kamu nggak boleh takut, soalnya kita tidak akan masuk ke dalam silos. Kita akan mengukur dari atap silos."

Mulut saya berujar: "Saya pikir saya tidak takut, karena saya sudah sering naik rollercoaster". Padahal dalam hati: "Aduh Makkk..tolonglah sayaaaa..selamatkanlah saya dari derita ini...."
Kamipun mulai bertualang. Kami naik ke atas dengan tangga kecil. Tangganya ini berputar mengelilingi silos. Bentuknya seperti tangga rumahan yang muter, tapi step-stepnya kecil. Betul betul kecil dan licinnya bukan main karena salju masih menumpuk. Saya deg degan luar biasa.

Makin ke atas, anginnya makin lumayan. Tapi lama lama, kok saya merasa nyaman. Saya nggak gimana takut lagi. Sensasinya beda total, saya merasa pede saja berjalan. Tinggi silos pertama itu mirip dengan tinggi gedung 6-7 tingkat. Tapi kami nggak pakai pengaman, cuma mengandalkan pegangan besi saja. Total silos di kompleks ini ada sepuluh. Tujuh di dalam kompleks pertama, dan tiga lainnya terpisah. Dari satu silo ke silo yang lain, kami menyeberangi jembatan kurus kecil. Kalau saya berukuran jumbo, tentu saya tidak bakalan muat. Selain itu tinggi silos2 tersebut juga berbeda beda. Karena itu selain naik jembatan, kami juga harus memanjat tangga-tangga. Tangganya ini kayak tangga pemadam kebakaran. Lurus, titiannya kecil kayak pipa pipa pralon. Kalau kepeleset, amit amit deh...Akhirnya kompleks pertama selesai dan kami turun lewat tangga muter yang pertama tadi.

Saya masih ambil napas karena capeknya bukan main. Kita langsung jalan ke kompleks kedua. Kompleks kedua ini, ada tiga silos. Tingginya lebih dari 20 meter. Dan ternyata, di sini nggak ada lagi yang namanya tangga muter. Yang ada adalah tangga model kedua yaitu yang model pipa pralon. Kami harus naik ke atas, tegak lurus. Saya naik pelan pelan, tangan dan kaki saya mulai gemetar. Lutut dan kaki saya sakit bukan main karena selain harus menahan badan, beberapa kali kaki saya tidak sengaja terbentur tangga. Begitu saya sampai di atas, saya betul betul merasa jadi pemenang.

Setelah mengukur silo pertama, saya pikir ada jembatan yang menghubungi ketiga silos ini. Ternyata... pisah sodara-sodaraku sebangsa dan setanah air. Kita harus turun dulu ke bawah dengan tangga yang sama, lalu naik ke silo selanjutnya. Untunglah silos yang kedua dan ketiga dihubungkan dengan jembatan. Tapi tetap saja, masih perlu perjuangan saya sekali lagi untuk naik ke atas dengan tangga lurus itu. Begitu semua selesai dan saya kembali turun ke bawah, saya merasa jadi juara Fear Factor ! Yeah !

Sebelum pulang, saya sempat ngobrol dengan salah satu pekerja di sana. Umurnya sudah lumayan tua, badannya kurus dengan jenggot yang sudah memutih. Saya bilang, "Gile, saya ngerasa ini olahraga paling seru yang pernah saya lakukan. Capeknya bukan main, nafas saya kayak mau putus di cuaca seperti ini". Lalu dia bilang,"Bagi saya, ini membosankan. Saya melakukan ini sudah puluhan tahun, dan sudah menjadi rutin bagi saya." Lalu saya cuma bisa senyum. Saya membayangkan, saya yang muda ini saja sudah ngos-ngosan seperti ini. Si bapak ini sudah tua, dan dia melakukan ini setiap hari baik cuaca dingin, panas, dan hujan. Luar biasa....

Pengalaman kemarin di Indiana membuka cakrawala baru bagi saya. Saya makin menghargai usaha para petani dan usaha para orang yang bekerja untuk mendistribusikan makanan untuk kita di musim dingin seperti ini. Walaupun nggak jadi ke Frankfurt-Germany, Frankfort-Indiana tetaplah begitu berkesan buat saya.

Tuesday, December 06, 2005

Ada Apa Denganmu Sih Non (Seri Kedua)....


Buat orang orang yang tinggal di Amerika, pasti tau yang namanya DV-Lottery. Bahkan yang di Indonesia juga pasti sudah tau karena DV-Lottery ini adalah kesempatan emas untuk mendapatkan green card alias kartu permanent resident. Sekarang ini status visa saya adalah H1-B alias Visa kerja yang berlaku sampai 3 tahun ke depan. Kalau kumpeni saya ini masih menghendaki saya melayani, akan diperpanjang lagi 3 tahun extra, jadi totalnya 6 tahun. Saya sudah membayangkan, walaupun kemungkinan dapetnya kecil sekali, tapi paling nggak ada dong kesempatan untuk dapet. Namanya juga lotere. Tahun lalu aja ada 263 orang Indonesia yang beruntung. Enaknya kalo sudah ada green card, nggak perlu was2 nggak dapet visa, tinggal bolak balik aja kalau waktu dan tempat mengijinkan, dan nggak ada batas waktu buat saya untuk kerja di sini. Seandainya loh yah...

Begitu DV-Lottery tahun ini di umumkan, langsung saya kasih tau sodara2 saya di Indonesia, dan mereka kirim foto digital kemari sehingga bisa saya daftarkan. Jauh-jauh hari, aplikasi mereka sudah saya kirimkan. Tapi saya sendiri foto aja belum. Saya taruh reminder di komputer saya kalau pendaftaran loterenya akan ditutup tanggal 5 Desember. Nggak tau kenapa, tiap kali saya mo foto buat lottery itu, selalu ada aja. Misalnya kamera saya ketinggalan lah, baterenya abis lah, dan seterusnya, sehingga saya nggak sempat untuk foto.

Akhirnya kemarin malam tanggal 4 Desember jam 9, saya ingat kalau pendaftarannya sebentar lagi ditutup alias jam 12 malam. Lagi lagi kamera saya ada di mobil. Dengan pakai baju tidur, sendal jepit dan jaket, saya turun ke tempat parkir untuk mengambil kamera saya. Sayapun foto2 sendiri pakai timer. 15 menit kemudian, foto saya sudah siap, dan saya tinggal mengirimkan foto itu online dan mengisi data data saya.

Namun pas begitu saya buka websitenya: PENDAFTARAN SUDAH DITUTUP !!! HUAAAA.... rasanya saya kepingin menangis sejadi jadinya. Ternyata ditutupnya jam 12 siang sodara2, bukan jam 12 malaaaammmm..... Memang, kemungkinan saya dapet kecil banget, cuma kan kali aja nama saya mustinya nyangkut di situ....Huaaa..saya beneran nangis akhirnya kayak anak kecil nggak dikasih permen...

Ini pelajaran buat saya. Nggak boleh nunda nunda. Nggak boleh jadi procrastinator sampe the last minute. Pasang alarm yang banyak, biar nggak lupa, yang bunyinya kenceng... Ya dah, taon depan saya ikut lagi... Nasib....

Friday, December 02, 2005

Ada Apa Denganmu sih Nonnnn....


Singkat saja... Tepat 2 tahun lalu, 1 Desember 2003 terjadi peristiwa tak terlupakan, berlokasi di University Avenue, Madison, WI, saya menabrak sebuah mobil di tengah badai salju sepulang sekolah. Bagian depan mobil saya hancur di sisi kiri, bagian belakang mobil di depan saja juga hancur di sisi kanan.

Hari ini, 1 Desember 2005, berlokasi di Whitney Way, Madison, WI, saya menabrak sebuah mobil di tengah badai salju, saat akan berangkat ke client dan kurang dari 1 mil kemudian, mobil saya berputar 180 derajat di perempatan Whitney Way dan University Avenue.
AAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHH !!!

Saat makan siang di Chin's State Street, fortune cookie saya berbunyi: "Happier days are coming your way !"

Mudah-mudahan...Habisnya hari ini..alamak... jantung saya serasa copot berkali kali...
PS: Puji Tuhan, hari ini tabrakannya nggak kenceng, ngga ada kerusakan fatal, semua selamat. AMIN !

Sunday, November 27, 2005

Makannnnnn...


Sodara sodaraku sebangsa dan setanah air, hari Kamis kemarin adalah hari untuk bersyukur. Walaupun setiap hari adalah saat yang tepat untuk berterima kasih kepada Tuhan atas segala berkatnya selama ini, tapi Kamis kemarin terasa lebih special karena kita bisa berkumpul dengan seluruh "keluarga". Sebagai manusia di perantauan, rasanya sangat pas waktunya, di tengah cuaca yang dingin, untuk bersama sama mencari kehangatan ditambah lagi: Makan2 dong ! Jadilah, Kamis 24 November sore, rumah Pak Anton dan Bu Lengleng jadi aula sementara bagi kami anak anak di perantauan ini.

Saya nggak bisa terlalu banyak soal menu kemarin itu, saya cuma bisa nyebut: UENAK TENAN..... kita mulai dari ujung ke ujung yah (mudah2an inget semua, maaf kalo ada yang kelewatan): Tahu isi, pempek palembang, baso goreng, lontong sayur, rendang, ayam panggang, telor balado, sambel udang, sayur asem, kerupuk, bakmi ayam, kari, dan ngga lupa syaratnya, si kalkun panggang. Untuk hidangan penutupnya: Cendol, biji salak, kue sus, lapis surabaya, bika ambon, pumpkin pie, cheesecake, cream pie, pudding, dst, dsb... kenyangggg.... Dan ngga percuma mami mami kita ngajarin kita masak, karena semua masakannya delicioso (kata Mbak Dora the Explorer).

Sehabis makan, kita dihibur oleh group karawitan yang dengan pedenya menyanyikan segala tembang dengan modal Karaoke dari Playstation 2. Mulai dari Material Girl dan Like a Virgin-nya Madonna, sampe ke Endless Love-nya Lionel Richie kami nyanyikan dengan lantang tanpa basa basi. Dengan support membara dari para penonton dengan ikut menyanyi bersama, para penyanyi karawitan itu bener bener ngerasa kayak lagi show di Caesar Palace dah! Selain itu, masih ada lagi aksi beladiri dan penyundulan bola dari anak anak yang melakukan pelampiasan diri lewat eye-toy... ada yang nyampe keringetan loh..weleh weleh...

Pokoknya malam kemarin, bener bener terasa hangatnya. Ruangan penuh canda dan tawa ria (kayak lagunya Paramitha Rusady), dan cuaca dingin di luar ? Apaan tuh ? Anget gini kok...apalagi kalo duduknya rapet2an hihihi.. Happy Thanksgiving everyone ! Jangan sampe keinjek2 gara gara ngejar sale yah... Barang bagus kalo udah jodoh kaga lari kemane kok...

Sunday, November 20, 2005

Nekad


Cerita ini adalah kenangan saat saya masih duduk di kelas dua SMU. Hari itu adalah hari yang cukup spesial di sekolah, karena kami kedatangan beberapa orang tamu. Tamu-tamu tersebut adalah beberapa buruh Nike Indonesia, ditemani oleh pengacara mereka dari salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat di Jakarta. Maksud kedatangan buruh tersebut adalah mencoba untuk sharing dan menggerakan hati para murid murid supaya kita semua lebih peka terhadap keadaan di sekitar kita. Apalagi saat itu adalah saat dimana bangsa kita betul betul sedang terpuruk setelah peristiwa May 1998 dan krisis ekonomi.

Siang itu pada jam pelajaran terakhir, kami semua dikumpulkan di aula. Kamipun diajak untuk mendengarkan cerita kehidupan sehari-hari para buruh Nike yang digaji kurang dari sepuluh ribu rupiah per hari, dan hanya diberi makan nasi perah dan sepotong tempe. Kebetulan para buruh yang datang adalah wanita, dan sekolah kami adalah sekolah khusus wanita, sehingga momen ini sebetulnya cukup pas untuk berbagi. Mereka bekerja lebih dari 12 jam sehari dalam keadaan berdiri, termasuk beberapa ibu yang sedang hamil. Mereka tidak diberikan waktu untuk duduk pada saat kaki mereka lelah. Dan ketika para buruh wanita minta cuti sehari karena "tamu bulanan" datang, cuti itu tak pernah dikabulkan dengan alasan mengejar omset. Miris hati saya mendengar kisah itu, apalagi mengetahui seberapa mahalnya harga sepasang sepatu Nike. Dan saya juga mengetahui, cukup banyak anak di sekolah saya yang jika ingin sepasang sepatu merek itu, tinggal bilang saja pada orang tua. Tapi bagi parah buruh itu, untuk makan saja kok sulitnya bukan main.

Setelah mereka bercerita, murid murid dipersilakan untuk bertanya atau mengemukakan pendapatnya. Satu persatu murid mulai mengemukakan pendapatnya. Betapa mengejutkan, ternyata pendapat murid murid umumnya adalah: "Kenapa sih kalian para buruh kerjaannya bikin susah ? Papa saya sampe kerepotan menangani kalian. Sudah bagus punya kerjaan, tapi masih minta ini dan itu." Murid lainnya lagi menyambung:" Iya betul. Gara gara kalian demo minta kenaikan gaji, kantor Papa saya jadi berhenti aktivitasnya. Memangnya kalian saja yang butuh makan ? Kami juga keluarganya butuh makan." Suasana saat itu hening. Tapi saya bisa melihat kalau para buruh yang duduk di depan itu mulai meneteskan air mata. Maksud kedatangan mereka kemari untuk berbagi, kok malah berbalik jadi ajang penghinaan ?

Saat itu, saya adalah siswi kelas dua. Dan kebetulan yang menyampaikan pendapat2 di atas tadi adalah siswi kelas tiga. Memang banyak rumor, kalau sampai kita yang junior berbuat macam macam dan menentang anak kelas tiga, bisa bisa kita dibenci oleh seluruh anak kelas tiga. Tapi hati saya berkata lain. Saya tidak bisa membiarkan orang tertindas semakin ditindas. Saya sudah tidak peduli lagi dengan "status" saya yang sebagai anak kelas dua, rasanya saya harus bangkit dan membuka mata mereka. Tanganpun saya angkat, dan saya berdiri. Saya memandang dengan tegas kepada teman teman di satu aula, dan tanpa saya sadari, mulut ini seperti ada yang menggerakan. " Teman-teman, saya tidak tau apa yang kalian pikirkan. Tapi seharusnya kalian tidak menjelek-jelekan mereka dan mementingkan keluarga kalian sendiri. Kalian seharusnya berterima kasih kepada mereka. BAHKAN PAKAIAN DALAM KALIAN SEMUA, DIJAHIT OLEH MEREKA MEREKA INI !"

Saat itu seisi aula diam dan tegang, tapi kemudian saya mendengar tepukan tangan dan sorakan meriah di telinga saya. Ternyata ada juga teman teman yang setuju dengan pendapat saya. Cuma mereka malu dan takut, karena bisa bisa dibenci oleh kakak kelas. Memang, hari itu sepulang sekolah, kakak-kakak kelas saya banyak yang memandang saya dengan pandangan kekesalan. Mungkin mereka pikir, ini anak kecil kok kurang ajar berani ngelawan kakak kelas. Tapi ada juga yang memandang saya dengan ramah. Bahkan kepala sekolah mengundang saya ke kantornya karena kenekadan saya itu dan beberapa minggu kemudian, saya dikirim mewakili sekolah untuk pelatihan leadership bersama perwakilan sekolah lain di Jakarta.

Kalau kita ada di pihak yang benar, kita tidak boleh takut untuk bicara. Mungkin hari itu saya jadi orang paling dibenci oleh seisi kelas tiga. Biarin orang mau bilang apa, tapi pulang sekolah hari itu, hati rasanya puas dan legaaa...hehehehhe...

Wednesday, November 16, 2005

CRASH !


Sekitar 3 minggu lalu. saya baru saya kembali dari Appleton. Jumat sore itu, saya kembali menyalakan komputer saya yang sudah diistrirahatkan selama seminggu. Berhubung lagi capek, saya pikir Jumat sore, mendingan saya nonton film saja di komputer. Kebetulan ada satu film yang sudah nongkrong di komputer saya, tapi belum sempat saya lihat. Mulailah saya membuka media player. Tiba-tiba komputer saya diam, tidak bergerak sama sekali. Saya klik sana, klik sini, pencet tombol ampuh "Control Alt Del", tapi tetap saya komputer saya tidak bergeming. Lalu dengan hopeless, saya pencet tombol restart. Dan apa yang terjadi ? Komputer saya tidak mau di reboot. Cuma gelap saja yang keluar. Dalam keadaan panik, saya telepon si yayang yang mampir langsung dari kantor untuk melihat komputer saya. Dia coba kutak katik, tapi tidak berhasil. Adohhhh... gimana dong ? Apa yang rusak ?

Kebetulan saya ingat, ada teman saya si Ardian yang kebetulan jagoan komputer wahid di seantero gedung apartemen tercinta yang sudah termashur. Saya titipkan hard drive saya supaya dia bisa memeriksa apa masalahnya. Setelah 2 minggu, dia memberi kabar, kalau hard disk saya nampaknya sudah tidak bisa terselamatkan lagi. Dia bilang nasibnya sudah FUBR (F***ed Up Beyond Repair) (Thanks berat Ardian, udah bantuin diagnosa). Saya cuma bisa bengong, OH NO ! Gimana nasib foto2 saya dari freshman ? Memori2 saya, lagu lagu yang sudah menemani saya bertahun tahun. Kenangan2 indah dan keculunan saya, metamorfosa kehidupan... saya sampai stress berat dan kepingin nangis....HUAAA..

Ardian menyarankan saya untuk pergi ke Geek Squad di Best Buy. Biaya perbaikannya minimal $279 dolar. Saya pikir, daripada saya kehilangan kenangan indah, lebih baik saya bayar saja. Tapi yang terjadi, setelah Geek Squad personnel mengecek hard drive saya, mereka menyerah, data saya sudah tidak bisa terdeteksi sama sekali. Bahkan personel Geek Squad menganjurkan saya untuk ke Circuit City Computer Aid. Dengan perasaan bete, saya dan yayang mampir ke Circuit City, dan setelah "membuang waktu" selama 45 menit, mereka juga menyerah. Padahal orang Circuit City ini usahanya lumayan berat loh. Dia merasa bersalah dengan ketidakmampuannya mendeteksi masalah, dan ngomong "I'm Sorry" ibaratnya sampe berbusa. Saya cuma bilang "It's okay, it's not your fault. I think my hard drive is too old already."

Dalam perjalanan pulang, saya sampai nangis di mobil karena ingat betapa banyak kenangan yang harus saya korbankan. Si Yayang sampe nggak habis pikir kenapa saya bisa nangis kayak begitu. Mungkin memang perpaduan dari kebetean dan kestressan di kantor jadi lepas dalam tangisan. Saya mampir di tempat yayang dalam keadaan capek dan ngantuk. Akhirnya saya bobo sore. Pas saya bangun, si yayang ngomong:"Eh, hard disk kamu udah beres tuh. Semua data sudah aku pindahin ke komputer aku." HAH ?

Lalu si Yayank menjelaskan dengan santai. Dia bilang, kalau data di harddisk saya tidak bisa terdeteksi sama sekali oleh 3 jagoan di bidangnya, itu berarti bukan masalah software atau virus. Itu pasti masalah hardware. Jadi dengan modal solder, dia menyambung salah satu komponen yang kelihatannya lepas. Dan begitulah sodara sodari, hard drive saya diselamatkan oleh solder. Kenangan saya nggak hilang, dan saya nggak perlu mengeluarkan sepeser uang sama sekali. Nggak salah punya yayang insinyur elektro. HOREEEE....!! (akhirnya tetep sih saya beli hard drive baru dan battery cadangan untuk komputer, tapi nggak sampe $279 hehehhe).

Saturday, November 12, 2005

Home Sweet-and-Sour Home


Setelah kemarin saya membahas soal mudik, saya jadi mikir, kalau sesungguhnya sekarang rumah saya yang di Milwaukee juga seperti jadi kampung saya alias home sweet home. Sudah lebih dari sebulan terakhir ini, saya selalu berada di luar kota, paling nggak dari Senin sampai Jumat, bahkan kadang Sabtu saya tidak bisa merasakan keempukan ranjang saya sendiri. Walaupun tidur enak di bermacam hotel, tapi kan saya tetep harus bayar sewa untuk kebutuhan apartemen saya dan iuran cable. Padahal saya cuma menikmatinya selama kurang dari seminggu dalam sebulan.

Alhasil, setiap kali saya pulang, yang saya lakukan hanyalah laundry. Isi kulkas tidak banyak berubah. Bahkan kemarin pas saya buka kulkas, saya bingung, itu es krim bekas siapa yah di freezer ? Tinggal yayang saya bilang: ih, itu kan punya kamu. Duh beneran deh saya jadi pikun. Sudah 2 bulan lamanya saya tidak pergi grocery, karena memang tidak ada waktu masak kecuali weekend. Dan weekend rasanya kok sudah lemes duluan, jadi kehilangan semangat memasak. Apartemen saya keadaannya cukup berantakan, walaupun masih bisa dibilang cukup rapih dibandingkan dengan kapal pecah heheheheh..

Hari ini akhirnya saya kembali ke kantor, hanya untuk satu hari saja. Kebetulan kemarin team kami bisa menyelesaikan tugas satu hari lebih awal, sehingga kami bisa pulang pada kamis malam. Pas masuk ke kantor, si resepsionis langsung komen: "Where have you been ?" Sang sekretaris juga nampaknya menyadari hal itu. Masuk ke kantor hari ini rasanya mirip seperti pulang ke asal, seperti waktu awal2 saya masuk kerja dan belum ditugaskan kemana mana. Cubicle kecil yang biasanya kelihatan menyebalkan, berubah jadi my lil comfort zone dibandingkan dengan conference room di client. Keberadaan saya yang selalu mobile, membuat segala sesuatu yang static seperti cubicle ini menjadi sesuatu yang dirindukan (walaupun nggak rindu2 amat..., siapa sih yang kangen kerjaan bertumpuk ??).

Akhirnya lagi, hari ini saya bisa sampai ke rumah di Jumat sore pada jam yang normal, bukan pada saat jam makan malam. Hari ini, saya bisa berkumpul kembali dengan si Letoy, si Nupnup, dan ribuan tungau2 di ranjang saya yang besok seprainya harus dicuci.

Saturday, November 05, 2005

Mudik Nyok !


Selamat hari raya Idul Fitri untuk semua teman yang merayakan. Mohon maaf jika ada salah kata ataupun perbuatan. Di hari yang penuh rahmat ini, marilah kita bersatu hati dan bergandeng tangan untuk menyambut datangnya perdamaian di bumi dan di dalam diri.

Walaupun saya bukanlah penganut agama Islam, Idul Fitri adalah hari yang selalu saya nantikan. Sejak saya kecil, saya merasa bukan hanya Natal dan Paskah yang menjadi hari menyenangkan, melainkan juga Lebaran. Liburan panjang selalu jadi hal yang diidamkan selama masih jadi pelajar. Dan saat lebaran, biasanya paling tidak 10 hari sudah ditangan. Memang, kadang capek juga kalau asisten lagi pada mudik. Sedangkan saya yang asli Jakarta dengan kedua orang tua yang asli Jakarta juga, kami nggak punya kampung, otomatis nggak kenal yang namanya mudik. Kampung kami ya di Jakarta ini, yang kalau lebaran jadi asoy seperti di luar negeri karena macetnya berkurang 90%.

Lebaran di keluarga saya, mungkin hampir nggak beda repotnya dengan lebaran di keluarga Muslim. Bedanya, kami mungkin nggak pakai baju baru dan menjalankan sholat Ied. Tapi yang namanya masak masak heboh dan lengkap, kumpul2 keluarga, pasti nggak ketinggalan. Mama yang memang hobi memasak, selalu siap siaga dengan perlengkapan perangnya : Ketupat, semur daging tahu, telur balado, opor ayam, sambal goreng ati, dan tentunya sayur pepaya muda. Krupuk dan bawang goreng juga nggak ketinggalan dong. Duh, sedapnya bikin saya ngiler sekarang.. bagi tissue dong ! Sebelum libur lebaran, biasanya kami juga sudah menyiapkan bingkisan untuk sahabat2 kami yang setiap hari selalu setia dengan pekerjaannya. Para asisten kami, pak pos, pak hansip, mas loper koran, pak pos, abang tukang sampah, dan mbak tukang kue ikutan kebagian rejeki.

Pas saya kecil dulu, liburan lebaran biasanya kami sekeluarga pergi ke villa kami di Puncak. Malam takbiran tak pernah kami lewatkan. Jalan Raya Cipanas begitu meriah. Suara bedug bertalu talu di atas mobil bak terbuka, dan rasanya kemacetan saat itu justru menjadi begitu nikmat. Semua orang tersenyum, dan saya tidak takut membuka jendela untuk ikut berteriak teriak gembira. Biasanya juga, malam itu Mama sudah hampir melakukan "finishing touch" menu ketupat lengkapnya...nyammm..

Ngomong2 soal mudik, saya baru merasakan mudik pertama saat saya mulai bersekolah di sini. Saya jadi tau, gimana rasanya rindu pada kampung halaman, rindu pada sanak saudara, rindu pada kehidupan saya yang lama. Walaupun di sini udara bersih dan hidup teratur, saya kangen berat dengan Jakarta tercinta. Biasanya paling tidak saya pulang setahun sekali. Tapi tahun ini, nampaknya saya tidak bisa melepas rindu karena tuntutan pekerjaan saya. Mamaaaa..pengen mudikkkk..pengen minta dikelonin... huaaaa....

Saturday, October 29, 2005

Tick and Tie





Bukan kutu ataupun dasi yang saya maksud dengan judul di atas. Tick and tie adalah istilah dalam dunia accounting yang artinya memberi tickmark/ tanda pada sumber dan menghubungkannya dengan tujuan. Misalnya menghubungkan dua laporan yang berbeda, menghubungkan hasil tahun lalu dengan tahun ini, dan sebagainya. Kalau perusahaannya besar, pekerjaan tick and tie ini adalah pekerjaan yang cukup memakan waktu. Mungkin agak sulit untuk menjelaskannya untuk pembaca yang bukan accountant atau financial officer. Pokoknya ini pekerjaan sebetulnya cukup simple, membosankan, menyebalkan, makan waktu, tapi kalau ketemu semua, bikin happy luar biasa deh !

Saat pertama ditugaskan, saya tidak tahu apa yang saya harapkan. Saya hanya diberi tahu kalau saya harus mentransfer laporan dari laporan ala Amerika ke laporan ala Jerman. Ditambah lagi, inilah kali pertama saya meratapi laporan ala Jerman yang lumayan ajaib. Urutannya bolak balik tak jelas, penyesuaian ada di mana mana. Jadilah pekerjaan extra berat untuk saya. Sebelum mulai, si manager sudah berpesan, kalau bagian ini adalah bagian yang lumayan berat, dan bisa memakan waktu beberapa hari untuk 1 anak perusahaan. Berdasarkan pengalaman tahun lalu, bagian inilah yang paling tidak disukai oleh satu team. Makanya saya dikasih 2 minggu total untuk membereskan semua laporan ini. Lah, memangnya perusahaannya ada berapa ? Ternyata ada empat sodara sodari. Huaa...mau nangis rasanya... gimana mata saya nggak mau tambah rusak... sebelumnya sudah jelek, ditambah lagi saya harus memandangi berjuta2 angka di ribuan baris. Nasiibbb....

Ternyata, laporan pertama bisa saya selesaikan dalam waktu kurang dari satu hari. Demikian juga laporan kedua, ketiga, dan keempat. Si manager sangat puas dengan hasil kerja saya, dan saya begitu bersyukur karena akhirnya semuanya selesai. Tiba saatnya mata saya untuk beristirahat...legaa.... Kebetulan, di divisi lain, ada juga orang yang ditugaskan seperti saya (si Jerman nomor 4 dari entry sebelumnya). Dia bertanggung jawab untuk 1 anak perusahaan. Sudah 1 hari penuh dia berusaha untuk melakukan ticking and tying, tapi baru selesai 1/4nya saja. Menyadari hal ini, si manager dengan sigap langsung memanggil saya. Setelah dia menumpahkan "pujian" tak berapa lama kemudian, datanglah "tanda mata" dari si manager, "Leony, kamu tolong gantikan si Jerman no 4 ya. Saya menyadari kamu jauh lebih efisien. Bla bla bla bla...." HIKSSS.. baru saja saya berlega hati, eehhh malah dikasih "hadiah" yang sama sekali tidak diharapkan. Dasar !

Syukurlah dalam waktu 7 jam, pekerjaan buangan dari si Jerman nomor 4 itu bisa saya selesaikan. Dan hari ini, selesailah sudah pekerjaan saya di client yang satu ini. Saya yang seharusnya bekerja selama empat minggu, ternyata bisa pulang setelah tiga minggu. Kebetulan jadual saya minggu depan (yang harusnya untuk client yang ini) jadi kosong.. HOREE...bisa istirahatttt !! Tapi.... TUNGGU DULU ! Sebelum saya pulang, si Manager kembali memanggil.

"Leony, saya kira saya akan mengambil jadual kamu untuk minggu depan."

Saya cuma cengo, "Oh ya ? Di mana ?"

"Oh, di downtown Chicago, di sebuah law firm di Prudential Plaza, depan Millenium Park", dia membalas.

"Lalu tugas saya di sana apa ya ?"

Dengan tersenyum dia menjawab, "Sesuai keahlian kamu, ticking and tying"

AAAAAAAAAARRRRGGGGGHHHH !!!

Wednesday, October 26, 2005

Geng Jerman



Selama saya bekerja untuk client saya yang sekarang ini, saya ditemani oleh empat orang Jerman. Berikut ini saya ceritakan pengalaman saya bersama empat orang Jerman tersebut.

Si Jerman pertama adalah laki laki dengan perawakan tinggi. Dia adalah seorang staff. Rambutnya agak keriwil, cocok jadi model sih. Tapi sayang gara gara dia ikut serta program pertukaran karyawan di perusahaan kami, dia keseringan minum beer dan perutnya mulai menggelembung sedikit..walaupun menurut saya masih okeh okeh saja. Dia paling ngga suka kalau disuruh menghubungi client lewat telepon, karena bagi dia, ngomong bahasa Inggris di telepon itu sangatlah menyiksa. Yang paling seru kalau lagi ngeliatin dia makan. Dalam sekejab, habislah porsi yang dia makan sementara orang orang lain baru saja menyicipi barang dua tiga gigitan. Dia senang ketawa dan bisa diajak gila gilaan ala Amerika. Saat ini dia sudah kembali ke Jerman karena masa pertukaran karyawan sudah selesai. Sedikit story tentang pengalaman dia, kalo di Jerman cellphone itu disebutnya handy. Pas dulu dia baru dateng, dia lapor ke bos. Dan dia ditanya, butuh apa apa lagi nggak ? Eh dia jawab, “ Can I get a handy, Sir ?” Hahahaha…. It’s so… gimanaahhh gitu…duh cowok tinggi gagah, kok minta handy…

Si Jerman kedua adalah laki laki berperawakan sedang, agak berumur dan berjenggot tipis. Dia adalah si senior manager, sudah 5 tahun menetap di Chicago. Bahasa Inggrisnya lancar, tapi orangnya sangat tidak terorganisir. Kertas berserakan dimana-mana sampai sempat kehilangan salah satu dokumen penting yang akhirnya saya temukan setelah saya bergumul dengan tumpukan kertas bekas yang dia buang di lantai. Bahkan saya yang berantakan ini dia bilang sangat rapih. Dia muji muji saya berkali kali, tapi belakangnya saya dikasih setumpuk kerjaan. Terkadang dia suka expect too much dari kita kita bawahannya. Bahkan senior saya sempat stress dibuatnya. Dia bisa lngomong loncat2 kesana kemari, nggak jelas lah pokoknya. Yang paling menyebalkan, dia tetap menyuruh kita bekerja rodi, padahal sudah jam 9 malam, dan kita belum dinner sama sekali. Anehnya, dia kok nggak lapar ya ? Dia bisa mengirim email berjuta2, terus akhirnya lupa... Sudahlah… saya lagi agak kesal sama dia.

Si Jerman ketiga adalah laki laki tinggi dengan potongan rambut belah tengah ala Eropa. Bahasa Inggrisnya lumayan kaku, dan kalau ngomong suka nggak jelas. Dia adalah seorang senior dan peminum expresso sejati. Setiap kali ngobrol dengan si Jerman kedua, dia selalu pakai bahasa Jerman. Dia nggak mikir kalau orang orang disekitarnya berbahasa Inggris. Kadang mereka berdua tertawa tawa sendiri sambil ngelirik lirik ke kita yang tidak mengerti apa yang mereka omongkan. Suatu hari saya tembak,”Hey it sounds funny. Do you mind sharing the joke ?” Terus dia bilang,” No, no, it’s internal joke.” Dasar..kurang ajar juga nih si Jerman. Gantian hari ini, saya dan salah satu teman saya yang orang Amerika lagi bercerita seru, dan kita ketawa tawa. Terkadang dia memang nggak ngerti apa yang kita omongin kalau kita ngomong bahasa Inggris dengan cepat. Apalagi teman ngobrolnya di Jerman nomor 2 tadi sudah balik ke Chicago. Pas lagi seru2nya ngobrol dengan teman Amerika saya, tiba tiba, dia ngomong dengan keras: “Hey, I’m trying to work here.” Dalam hati saya, “Rasain lo..emangnya kemaren pas elu ketawa2 sama si Jerman nomor 2, gue ngga bete ?” hahahah…

Si Jerman keempat, seorang cewek setinggi saya, rambut lurus coklat dan bahasa Inggrisnya sangat lancar karena dia lulusan graduate school di Lousiana. Sayang saya tidak lama bekerja dengan dia karena dia ditugaskan di divisi lain. Yang pasti sebelum saya bertemu dengan orang ini, saya diberitahu oleh si Jerman nomor 1 yang kebetulan roomatenya, kalau si cewek ini lumayan menyebalkan. Suatu hari, sempat juga saya bertemu dengan dia, dan kita ngobrol2 pas dinner di salah satu bar. Ternyata orangnya menyenangkan kok, tidak seperti yang si Jerman nomor 1 bilang. Sampai akhirnya Jumat malam kemarin, kita makan di Melting Pot, salah satu restaurant yang cukup romantis. Setelah 2 gelas Margarita, mulailah si cewek ini bertingkah laku aneh. Dan pada saat kita lagi asyik menyantap makanan utama, dia mulai bercerita soal kucing mati yang dia temukan di depan rumahnya pas dia masih SMA, dan dia berusaha untuk memotong ekor kucing itu dengan gunting kertas…. ALAMAKKKK…si Jerman nomor 3 sampai melotot dibuatnya…Kami hampir saja kehilangan napsu makan kalau saja kami tidak berpikir yang di depan mata kami adalah lobster dan steak, bukan kucing.

Begitulah sedikit cerita tentang Geng Jerman yang lucu, aneh, memusingkan, tapi kadang cukup menakjubkan...

Monday, October 24, 2005

It's Not Even the Busy Season Yet !!!


Bagi seorang auditor seperti saya, bulan yang paling menyebalkan adalah Januari sampai April, di mana berjuta-juta client kami sepertinya menyusahkan kami pada saat bersamaan. Pergi pagi pulang malam adalah hal yang sangat biasa di bulan bulan itu. Makan siang dan malam di depan komputer sambil bekerja di kantor client juga merupakan santapan sehari-hari.
Tapi ini baru bulan Oktober. Saya mengerti memang client saya yang satu ini tutup buku pada tanggal 30 September, tapi mereka tidak siap dengan segala dokumen yang kami butuhkan, sehingga kerja lapangan kami jadi mundur hingga kamis di Minggu kedua bulan Oktober.

Parahnya, semua hasil kerja kami harus diserahkan hari ini, Senin, 24 Oktober. Oh tolonglahhhh... kami harus bekerja seperti orang gila... Setiap hari kami kerja mulai jam 8 pagi, dan paling awal, kami pulang jam 8 malam. Pernah satu kali kami pulang jam 10 malam, Di tengah minggu, senior manager kami memberi berita gembira, kalau kami juga harus bekerja pada hari Sabtu. Lengkaplah sudah kemeriahan yang saya alami. Sabtu malam saya baru kembali dari Appleton, dan Minggu malam harus kembali lagi ke Appleton.

Sekarang Senin subuh di ruangan hotel tercinta. Saya baru saja selesai menyicil bahan ujian saya untuk bulan November. Duh, sepertinya piring saya penuh sekali dengan kerjaan dan belajar. Dan saya betul2 rindu ranjang saya di rumah...Tapi tenang saudara2ku sekalian, saya tidak separah si Oom di gambar itu kok hehehe...

Sunday, October 16, 2005

Menjalin Persatuan dan Kesatuan


Tiba tiba saja, dalam perjalanan pulang dari restaurant beberapa minggu lalu, saya dan teman saya teringat masa masa jadul di mana kita masih kanak kanak dan stasiun televisi hanya ada satu saja yaitu TVRI. Ketika para televisi swasta menjamur dengan slogan slogannya seperti: RCTI oke, SCTV ngetop, TPI makin asik aja, INDOSIAR memang untuk anda dan sebagainya, TVRI juga tak mau kalah membuat slogan yang lumayan keren tapi sangat berbau kebaheulaan: Menjalin persatuan dan kesatuan. Dinyanyikannya dengan semangat, dengan kelompok paduan suara yang rasa rasanya mirip dengan paduan suara angkatan bersenjata. Dan sepanjang perjalanan itu, kita membicarakan acara acara yang dulu sempat menghiasi layar kaca dan bikin kita tertawa ngakak.

Saat pembukaan jam 4 sore ada lagu Indonesia Raya. Biasanya sore sore ada Cerdas Cermat loh. "Kami dari EsDe Negri 123 Kampung Melayu, nama saya Tini, sebelah kanan saya Tono, dan di sebelah kiri saya Tuti." Lalu tak lupa si pembawa acara bilang: "Tepuk tangan untuk SD Negri 123", diikuti oleh tepuk tangan malu malu dari para penonton yang notabene adalah teman2 dan guru guru sekampung. Jangan lupa acara kartunnya yang nggak kalah menarik, seperti Ghostbuster dan Teenage Mutant Ninja Turtles ! Saat itu saya dan adik sampai mengkoleksi ke-4 tokoh kura kura hasil radiasi tersebut. Si Merah Raphael, Biru Leonardo, Ungu Donatello, dan tentunya si Kuning Michael Angelo. Kesukaannya ? Pizza dong... sesuai dengan namanya yang sok Italia.

Kadar acara pendidikan di TVRI boleh dibilang lumayan walau settingnya agak memprihatinkan. Selain Cerdas Cermat yang sudah disebutkan di atas, ada lagi acara pelajaran bahasa Inggris bersama Anton Hilman yang kumis tipisnya menghibur kita. Untuk penduduk yang tinggal di desa, nggak mau kalah juga dong acara pendidikannya. Ada acara pembudidayaan ternak dan tanaman, dan yang paling beken sih: Klompencapir dong ! Singkatan dari apa ya itu ? Kadang saya suka nunggu2 acara ini untuk melihat bagaimana kompaknya orang dari Desa A melawan Desa B. Lalu jurinya yang kadang2 suka subjektif, pokoknya cukup menghibur lah. Pertanyaannya juga menantang loh. Gimana cara memasak sayuran ? Saya ingat, yang motong dulu baru dicuci, dikurangi nilainya... nasib nasib..

Jangan lupa acara beritanya: Berita Nusantara pada jam 5 sore, dilanjutkan English News Service pada jam 6:30 sore, Berita Nasional jam 7:00, Dunia Dalam Berita jam 9 malam, dan Berita Terakhir. Nah, yang terakhir disebut ini, jamnya tidak pernah sama. Suka suka dong, pas selesai acara terakhir ya berarti berita terakhir. Kadang si pembawa acara berita sampai terkantuk kantuk dibuatnya.

Masih ingat acara musiknya ? Ada Aneka Ria Safari, Selekta Pop, Kamera Ria, dan Album Minggu Kitaaaaaaa (harus panjang aaaa nya, soalnya memang begitu cara menyanyinya). Aneka Ria Safari pada awalnya disiarkan dari Studio TVRI, dan akhirnya pindah shooting ke klub Dynasty di Gajah Mada Plaza. Video klip ? Nggak ada tuh, yang ada cuma penyanyi di panggung dengan beberapa penari latar, dan biasanya si pencipta nongkrong di depan piano. Jaman dulu pencipta yang terkenal ya si Rinto Harahap, Pance Pondaag, dan Pompi. Kalau lagunya sedih, siap siap deh, soalnya penyanyinya biasanya nyanyi sambil berurai urai air mata. Makin berurai air mata, makin menjiwai lah yaow... Rasanya awal mula video klip itu di acara Kamera Ria. Jangan bayangkan Rizal Mantovani punya karya. Yang ada adalah si artis menyanyi dengan latar belakang TNI lagi latihan baris berbaris. Paling mentok lokasi shootingnya di Taman Mini. Hiksss.... Video klip yang lumayan rasanya ada di acara Selekta Pop. Lokasinya mulai bergeser ke plaza2, lobby hotel, jalan raya, dunia fantasi, walaupun tetep aja Taman Mini masih jadi favorit.

Pas akhir 80-an, muncullah acara TVRI yang cukup populer dan masih diingat sampai saat ini. Di bidang musik, ada Berpacu dalam Melodi bersama Mas Koes Hendratmo dan Ireng Maulana, dan Gita Remaja yang mempopulerkan Bang Tantowi Yahya. Ada juga Kuis Siapa Dia bersama Kang Aom Kusman. Masih banyak lagi kuis2 lainnya yang masanya tidak terlalu panjang. Kreatornya ? Siapa lagi kalau bukan Ani Sumadi. Walaupun ada beberapa yang asli ngejiplak Game Show Amrik, tapi teteplah Bu Ani patut diacungi jempol buat usahanya.

Aneka Ria Safari, selalu saya menjadi bagian favorit yang saya tunggu tunggu. Biasanya di akhir pekan sepulang dari belanja di Golden Truly, saya merengek2 minta pulang cepet2 supaya bisa nonton Aneka Ria Safari yang dimulai tepat sehabis Dunia Dalam Berita. Begitu sampai dirumah dan siap didepan Tivi, ternyata ada LAPORAN KHUSUS ! Isinya ? Pak Harmoko, Pak Moerdiono, atau kunjungan Pak Presiden Soeharto ke kampung2.... Oh Orde Baru...
Biar bagaimanapun, TVRI tetap ada dihati....

Sunday, October 09, 2005

Mataku oh Mataku...


Persediaan lensa kontak saya sudah mulai menipis. Lebih tepatnya, saya tinggal punya satu pasang lensa kotak yang nempel di mata saya. Maklumlah, biasa setiap kali pulang ke Indonesia, saya selalu menyempatkan diri mampir ke optik Melawai dan membeli persediaan untuk satu tahun ke depan. Berhubung terakhir saya pulang ke Indonesia Agustus tahun lalu, berakhir sudahlah persediaan saya untuk tahun ini. Di Amerika sini, dilarang membeli lensa kontak tanpa menggunakan resep dokter. Alamak...

Sepanjang usia saya, saya tidak pernah memeriksakan mata saya di Amerika. Apalagi dengar dengar harganya mahal, tidak seperti di Indonesia dimana kita tinggal nongkrong, lalu dapat periksa gratis. Bahkan kita tidak perlu membeli barang di optik tersebut untuk mendapatkan periksa mata gratisan. Duh, seandainya di sini juga begitu, saya kan jadi tidak perlu repot- repot periksa segala.

Pertama sekali saya menggunakan kacamata adalah pada saat saya duduk di kelas 1 SMP. Kenapa saya sampai menggunakan kacamata ? Pertama kali saya ulangan fisika, saya mendapatkan nilai 3.5 ! Tau penyebabnya ? Karena saya tidak bisa membaca tulisan guru di papan tulis... duh sedihnya. Maklum, dengan badan saya yang besar, saya jadi ditempatkan di sisi belakang, dan sangat sulit dan mengganggu kalau saya bolak balik ruangan. Akhirnya saya menyadari, kalau mata saya sudah tidak sempurna. Pertama kali memakai kacamata, ukurannya: minus 1.25 dan minus 0.75. Dan ulangan fisika selanjutnya ? 9 dong !

Setiap tahun ukuran kejelekan penglihatan saya selalu mengalami kenaikan, sampai saya di kelas 2 SMA, dengan ukuran minus 2.75 dan minus 2.25. Anehnya, sejak saat itu sampai 6 tahun ke depan, mata saya oke oke saja, dan saya setia dengan ukuran yang sama.
Sampai pagi ini, setelah saya periksa mata... ukurannya sekarang menjadi : JRENG : minus 3.5 dan minus 3 !!!!... (kagetnya saya mirip dengan tampang bayi di atas itu...) pengen nangisss... memang sejak saya kerja, saya mulai merasa mata saya berkurang ketajamannya..tapi mengapa oh mengapa bisa naik sampai tiga per empat begituuuu... Setelah 6 tahun dengan ukuran yang sama, akhirnya mata saya tidak mampu bertahan lagi...Mataku oh matakuuu....

Thursday, October 06, 2005

Naik Kelas


Sebelas tahun lalu, pertama kalinya saya menginjakkan kaki di sekolah khusus putri itu. Lokasinya tepat ditengah hiruk pikuk kota, tidak terlalu besar, dan terdiri dari dua tingkat. Siswa SMP ada di tingkat pertama, dan siswa SMA ada di tingkat kedua, yang memisahkan kami adalah sebuah tangga. Saat saya SMP dulu, saya membayangkan senangnya kalau nanti pada akhirnya saya bisa naik ke atas. Itu berarti saya diterima di SMA. Namanya juga anak kecil, tentulah berpikir, kalau saya sudah ada di atas situ, saya lebih top daripada kamu yang di lantai bawah. Di atas pakai rok abu abu, di bawah pakai rok biru, jagoan yang abu abu dong !

Namun ternyata pas pada akhirnya saya mengalami pencapaian di lantai atas, yang ada bukannya perasaan jadi jagoan, melainkan tugas yang semakin menumpuk, buku buku yang semakin tebal, dan ulangan ulangan yang semakin menyiksa. Aturannya, sehari boleh ulangan "dipersiapkan" dua kali, dan ulangan "mendadak" satu kali. Kadang guru guru kami dengan kejamnya mengetes kami dengan ulangan tipe kedua tepat setelah ulangan tipe pertama selesai. Banyaknya "kejutan" mengerikan itu membuat saya semakin rindu akan masa masa sekolah dulu.

Di awal bulan ini, saya kembali mengalami naik kelas. Sama seperti waktu sekolah dulu, saya senang sekaligus cemas. Dan hari ini, kali pertama pak guru dan adik kelas saya berada di ruangan yang sama. Pak guru bilang kalau saya harus mengajari adik kelas saya seperti saya dulu diajarkan oleh kakak kelas saya, dan pak guru juga bilang, kalau saya harus memeriksa pekerjaan adik kelas saya dan menilai, apakah pekerjaannya layak untuk diserahkan ke pak guru. Saya takut...Gimana kalau saya salah, gimana kalau saya nggak ngerti, gimana kalau penjelasan saya nggak lengkap, kan bisa disetrap pak guru... Segala tetek bengek itu kembali berputar putar di otak saya sejak pagi hari...

Hari ini lewat. Saya sudah menapaki tangga saya satu pijak...dan saya bisa sedikit bernafas lega. Masih ada sekitar 524,500 menit lagi sampai saya naik kelas ke lantai berikutnya. Duh, bakal banyak ulangan mendadak nggak ya ?

Tuesday, October 04, 2005

Ulang Tahun Rame Rame

Tanggal 28 September itu selalu jadi tanggal yang special setiap tahun. Tiga teman saya kebetulan berulang tahun. Semuanya lahir tanggal 28 September 1982. Alex, Lina, Mike baru saja merayakan ulang tahun mereka ke 23. Again, what a coincidence !

Namun yang lebih special lagi, tanggal 28 September adalah ulang tahun Mama saya tercinta. Dulu pada saat saya masih di Indonesia, kami selalu merayakan dua hal sekaligus pada tanggal itu. Tanggal 27 September adalah tanggal perkawinan kedua orang tua saya, dan tanggal 28 September adalah ulang tahun Mama. Karena jaraknya begitu berdekatan, kami biasanya bikin paket hemat alias sekali acara, dua perayaan terlampaui. Tapi setelah Papa dijemput oleh Tuhan di tahun 2001, perayaan di tanggal 27 September itu rasanya jadi kurang relevan lagi.

Sedikit yang berbeda dari perayaan tahun ini adalah status saya yang bukan lagi sebagai pelajar, melainkan sebagai pekerja. Adik sayapun sudah bekerja paruh waktu sebagai asisten laboratorium di kampusnya. Jadi kami sudah bisa menghasilkan sesuatu untuk diberikan untuk Mama, setidaknya sebagai tanda balasan kami atas kasih sayang yang telah dia berikan sepanjang hidupnya.

Saya dan adik sayapun merencanakan acara kecil2an untuk ultah mama kali ini. Adik saya sudah memesan kue beberapa hari sebelum acara tanpa sepengetahuan mama. Pada hari H, mama diajak untuk berkunjung ke rumah Oom, dan disana kue ulang tahun sudah disiapkan. Rupanya acaranya lumayan sukses. Menurut laporan pandangan mata dari adik saya, mama begitu senang, bahkan sempat berkaca2 saat membaca kartu ucapan yang saya kirimkan. Saya cuma bisa menyampaikan doa dan cinta dari negeri seberang, supaya Mama panjang umur, sehat, dan diberikan kemurahan oleh Tuhan. Selamat ulang tahun ke 49, Mamaku yang cantik. I love you !

Monday, October 03, 2005

Eh, Ketemu Lagi....

Karena lokasi hotel saya yang lumayan jauh dari Sears Tower, saya terpaksa menggunakan jasa taksi. Kenapa saya bilang terpaksa ? Soalnya menyetop taksi di Chicago pada jam jam sibuk di pagi hari itu susahnya minta ampun, dan alasan kedua, saya sebetulnya lebih suka jalan kalau saja jaraknya memungkinkan, karena cuaca memang sedang lumayan walaupun angin dingin mulai berkeliaran. Padahal, di Chicago itu taksi banyaknya luaaarrr biasa, bahkan sampai ribuan. Cuma saja penduduknya jauh lebih banyak, sehingga supply tidak dapat memenuhi demand.

Saking sulitnya mendapatkan taksi, kadang si petugas penyetop taksi di depan hotel sampai harus berjalan dan menunggu di ujung blok lalu menyetop taksinya dengan paksa dan naik ke dalam taksi. Kemudian si penyetop taksi itu berhenti di depan lobby hotel, dan menukar dirinya dengan penumpang yang sudah menunggu dari tadi. Bravo untuk si penyetop taksi, dan tentunya saya tidak ragu untuk menyelipkan tip di tangannya pada saat dia membukakan pintu.
Tapi kejadian unik berlangsung saat saya keluar dari Sears Tower. Seperti biasa saya menyetop taksi untuk kembali ke hotel. Kali ini taksinya merah, dengan sopirnya yang orang Afrika dengan nama yang super panjang (kedengerannya seperti Olamadehemadehi Olalalalaledungledung, agak maksa sih.. pokoknya panjang lah). Karena namanya itu, memori saya langsung bekerja. Dia sopir yang paling cekatan menurut saya selama saya naik taksi di Chicago dan paling jago mencari jalan pintas.

Rabu sore, saya keluar dari Sears Tower, dan saya kembali menyetop taksi. Tanpa sadar, saya masuk ke dalam, dan kembali terlihat kartu namanya: Olalalala.... Eh ketemu lagi ! Bayangkan, ada ribuan taksi di kota sebesar Chicago, dan saya bisa naik taksi yang sama dari asal dan tujuan yang sama selama dua hari berturut turut. Dan rupanya dia masih ingat dengan saya. Tanpa banyak tanya, kembali dia mengantar saya sampai tujuan. What a coincidence !

Wednesday, September 28, 2005

Berteriak


Bisa jadi tandanya kita sedang senang. Misalnya ketemu dengan teman lama yang sudah lama nggak bertemu. Kayak di film film India, si cowok dan cewek berlari lari di taman sambil berteriak memanggil nama masing2 di tengah hujan deras...

Bisa jadi tandanya kita sedang mendukung teman kita. Seperti saat kita menyoraki teman teman yang bermain sepakbola dalam pertandingan di Purdue kemarin supaya mereka bermain dengan semangat dan suka cita.

Bisa jadi tandanya kita sedang marah dan benci pada seseorang. Saat kita lagi kesal sama teman yang bikin kita kecewa, lalu kita jadi berteriak di depan wajahnya.

Bisa jadi tandanya kita lagi ngefans. Itulah yang kita lakukan saat kita melihat artist favorit kita sedang manggung, seperti pas konsernya Gigi kemarin itu loh, teriakan kita membahana memanggil si cungkring Armand Maulana yang suaranya memang aduhai.

Bisa jadi tandanya kita cari perhatian. Coba aja di tengah lapangan, pas semua orang diem, lalu kita teriak teriak sendiri... pasti semua mata nengok ke kita.

Bisa jadi tandanya ingin bebas, melepaskan semua penat yang ada di dalam jiwa...Supaya bisa Terbang, seperti lagunya Gigi... Coba terbangkan khayalku, dari sadarku, dari sadarku...

Sunday, September 25, 2005

Satu Minggu di Chicago

Saat yang lumayan ditunggu-tunggu oleh para staff di kantor saya bekerja adalah training. Kenapa? Karena pada saat training, kami bisa beristirahat sedikit dari kesibukan kami yang biasanya. Kami bisa enjoy travelling ke Chicago walaupun masih dalam rangka bekerja, dan kumpul2 dengan teman2 membicarakan hal hal yang nggak penting di luar kerjaan. Dan yang paling happy adalah, kami bisa menikmati yang namanya luxury dengan biaya perusahaan heheheh....

Dari Minggu sampai Jumat pagi, kami bisa menginap di hotel yang biaya permalamnya bisa buat makan seminggu, bahkan lebih. Kalau melihat bill hotelnya untuk lima malam, bisa nangis bombay kalau sampai keluar biaya sendiri. Sayangnya, hanya kami sendiri yang bisa menikmatinya. Kami nggak bisa mengajak significant others atau anak anak untuk ikutan.

Senin malam kami dinner di Sushi Samba, salah satu restaurant sushi yang “ngepop” banget di downtown Chicago dengan interiornya yang interesting. Makanan nggak henti hentinya keluar, dan teman teman yang nggak pernah makan sushi jadi berani nyoba. Kami hampir mencoba segala makanan yang ada di dalam menu. Rasanya piring kecil saya malam itu diganti lebih dari 10 kali oleh waiter. Kalau minuman jangan ditanya, semua pasti pesan minuman beralkohol (kecuali saya yang nggak bisa minum alcohol). Selasa malam kami makan di Harry Caray’s, dan yang kami pesan nggak jauh dari filet mignon dan prime rib steak. Rabu malam, dilanjutkan makan di Carmaine, restaurant Italia yang tertua di Chicago. Salah satu pengunjung tetapnya adalah si entertainer sejati Tony Bennett. Homemade pastanya betul2 bikin lidah bergoyang. Koleksi Italian winenya juga sangatlah beragam. Belum lagi dessertnya yang aduhai. Yang lucu adalah, saya pesan lemonade karena saya nggak bisa minum wine. Ternyata lemonadenya datang dalam botol kecil, dan diimpor dari Milano (jangan2 harganya sama dengan wine yang teman2 saya minum).

Untuk Kamis malam, nampaknya saya harus menyediakan satu paragraph khusus. Karena hari ini adalah jadual happy hour di mana kita bisa minum sepuasnya, saya dan teman2 memilih menghindari dinner dan icip2 appetizer saja di lokasi yang sudah ditentukan. Dalam cuaca hujan yang lumayan deras (yang membuat saya terpaksa membeli payung jelek seharga $13 di Walgreens), kami naik El ke Duffy’s bar. El yang mirip dengan subway adalah salah satu alat transportasi andalan di Chicago yang terkenal dengan kemacetannya. Setelah sekitar 3 jam puas minum dan ngobrol di bar, kami melanjutkan perjalanan ke Hog and Honey’s Bar. Yang bikin bar ini beda adalah di sana tersedia bull ride. Kalau anak Milwaukee kan ada tuh cabe di La Perla, cuma bull ride ini lebih menantang, kayak di film film koboy. Teman2 saya termasuk sang manager ikut menunggangi si mesin kerbau rodeo itu. Memang kalau sudah mabuk, orang orang makin susah diprediksi kelakuannya. Sayang saya pakai rok malam itu. Kalau nggak sih, saya juga mau ikutan! Setelah puas berjoget2 dan nonton orang2 melakukan hal hal aneh, jam 12:30 pagi, kamipun kembali ke hotel dalam keadaan pusing2 sedikit dan kuping agak agak budeg sedikit karena dijejali oleh musik metal dan hiphop. Saya terlelap kira2 pukul 1:30 pagi.

Ajaib, hari Jumat jam 8:30 pagi, kami sudah nongkrong lagi di dalam kelas. Ada 8 orang terlambat, bahkan ada yang 1 jam terlambat. Namun teman2 yang pulang bareng saya malam kemarin itu semuanya sudah siap di kelas pada jam 8 pagi. Anehnya, ada orang yang tidak ikutan ngumpul pas happy hour, tapi terlambat sampai setengah jam. Begitulah, training minggu ini sudah berakhir dengan berbagai kenangan gila tapi seru. Entry ini saya tulis di dalam Amtrak dalam perjalanan pulang ke Milwaukee (kena delay sedikit karena baru bisa diposting lewat tengah malam).

Sunday, September 18, 2005

Idola yang Belum Tentu Idola

Sebagai penggemar American Idol, begitu saya tahu kalau audisinya bakalan hadir di Chicago yang jaraknya hanya 1.5 jam dari Milwaukee, saya langsung tertarik untuk iseng coba coba. Maklum syaratnya selain ketentuan umur adalah para peserta harus U.S. citizen atau Permanent Resident. Saya bukanlah keduanya, jadi kesempatan ini saya pakai untuk melihat, seperti apa sih audisi acara super terkenal American Idol itu (yang untuk season ini bakal mematok harga $705,000 untuk 1 slot iklan selama 30 detik).

Hari Kamis sore sepulang kerja, saya dan yayang berangkat ke Soldier Field, Chicago, tempat di mana audisi akan diadakan. Kami ke sana malam ini hanya untuk mengambil wristband. Dengar2 dari orang, katanya untuk audisi babak awal, kami hanya perlu menunjukkan 1 identitas saja (yaitu driver license), jadi saya tidak khawatir kalau saya akan didepak karena status kewarganegaraan saya yang Indonesia merdeka ini. Perjalanan yang harusnya hanya 1.5 jam, kami tempuh selama 2.5 jam karena harus melawan arus lalu lintas yang luar biasa macetnya karena jam pulang kerja. Sekitar jam 8 malam, kami sampai di sana dan membayar parkir $13. Di dalam stadium tidak ada antrian. Hanya saja banyak orang bermalam di dalam stadium dengan bermodalkan selimut dan sleeping bag. Kamipun menuju petugas untuk dicek kartu identias kami, dan kamipun mendapat wristband. Merah untuk saya yang ikut audisi, dan hijau untuk yayang yang akan mendampingi saya. Setelah itu kami mengambil tiket untuk mendapatkan seat number. Saya ada di section 218, row 21, seat 1. Kurang dari 15 menit kemudian, kamipun melanjutkan perjalanan ke hotel. Untunglah hotel tempat kami menginap malam ini gratis karena selama bekerja saya mengumpulkan Hilton points.

Besok paginya kami bangun jam 5, siap siap, sarapan, dan kembali ke Soldier Field. Jam 7.30 pagi antrian begitu panjang, cuaca dingin menusuk, hujanpun turun tak henti. Tapi karena excited, rasanya jadi biasa saja walaupun saya bergidik kedinginan. Kamipun masuk ke stadium secara teratur dan menunggu di lobby. Jadual pertama kami adalah shooting bersama si rambut jangkrik Ryan Seacrest. Adegannya adalah, dia masuk membawa payung ke dalam lobby stadium, lalu kamu bersorak kegirangan. Adegan sederhanya itu diulang sampai 6 kali. Walah2. Nggak tau deh apa wajah saya masuk ke dalam kamera, karena banyaknya orang yang membawa poster besar. Setelah itu kami bergiliran masuk ke dalam stadium, dan saya ada di level kedua. Sekitar jam 9.45, announcerpun mengumumkan cara audisinya. Ada 14 booths untuk audisi di ronde pertama. Kita harus menyanyi di depan para produser junior dan kalau kita lolos, kita akan mendapatkan "golden ticket" alias kertas kuning, dan kita akan masuk ke ronde kedua yang lokasinya indoor dan menyanyi di depan executive produser. Setelah lolos ronde kedua itu, kita baru akan menyanyi di depan Randy, Simon, dan Paula dan waktunya belum ditentukan. Oh, begitu toh, dalam hati saya...Kemudian mereka mengumumkan, kalau audisi akan dimulali dari section 104. Karena posisi saya di level atas, kira2 berarti section saya akan menjadi section ke 18 yang akan di audisi. Proses audisipun dimulai sekitar jam 10 pagi.
Karena saya tau kalau giliran saya tidak akan dekat2 ini, saya dan yayangpun menunggu dan terus menunggu. Kami mengantre makan siang yang harganya sangat berlebihan (bayangkan 1 botol air mineral kecil $4) dan antriannya sangat luar biasa panjang. Kami putar sana sini untuk mencari tempat yang hangat, karena kami betul2 tidak siap untuk mendapat cuaca yang luar biasa dinginnya ini. Sayapun bolak balik kamar mandi berkali kali, dan saya lihat begitu banyak peserta yang "camping" di dalam kamar mandi karena lebih hangat daripada di luar. Sepanjang perjalanan saya mendengar banyak talenta2 bagus walaupun ada juga yang berantakan. Dandanan yang super anehpun banyak sekali ditemukan.

Setelah saya memperhatikan dari jauh, sedikit sekali orang yang mendapatkan golden ticket. Mereka sangat generous di awal2 audisi, namun mulai ditengah, nampaknya makin sedikit yang mendapatkan "golden ticket". Anehnya sebagian besar yang mendapatkan golden ticket itu adalah orang yang berpakaian sangat aneh. Misalnya: Laki2 dengan baju pink dan sepatu hak tinggi, laki2 gemuk dengan hula2 ala hawaii, seorang gadis yang memakai kostum Jinny dari I Dream of Jinny, seorang laki2 super gendut dengan celana pendek ketat, dan ada juga laki2 tinggi dengan memakai kostum mini dari Alice in Wonderland. Banyak sekali talenta2 bagus yang ditolak oleh produser. Sayapun jadi bertanya2, apa sih sebenarnya tujuan dari kontes ini ?
Jam 6 sore, lebih dari 10 jam saya menunggu, akhirnya sampailah kepada giliran section saya. Sayapun maju bersama teman2 yang lain, sementara si yayang menunggu di atas. Kami harus menyerahkan tiket dan release form ke petugas yang isinya kira: segala tingkah laku kami yang terekam di kamera adalah milik produser, dan kami berhak menghumiliate segala tindakan kamu. Makin jelas lagi kan maksud acara ini ? Setelah mengantri dan diambil gambar oleh juru kamera, kamipun dibagi menjadi group 4 orang. Saya mendapat booth nomor 7 dari 14 yang tersedia. Sayapun melihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana orang yang menyanyi berantakan dan aneh mendapatkan golden ticket, dan orang yang menanyi dengan bagus ditolak mentah2, walaupun ada juga yang betul2 bagus dan mendapatkan ticket. Saya maju ke depan bersama orang segroup saya. Alamak, produsernya ternyata: dua anak muda yang masih culun, satu laki2 botak bertampang garang, dan satu wanita hippies dengan rambut panjang belah tengah dan berkacamata. Kamipun bernyanyi satu2. Pertama teman sebelah saya menanyi lagu yang saya sendiri nggak pernah dengar dan langsung di stop setelah 10 detik. Kedua giliran saya, saya menyanyikan lagu "Angels Brought Me Here" dari Guy Sebastian. Saat itu si produser cewek sudah kasih clue dengan melirik si produser cowok botak. Tapi si cowok botak diem saja. Sebelum sampai refrain pun lagu saya sudah di stop. Ketiga giliran orang sebelah saya yang ternyata maju berdua dan berusaha menghumiliate diri mereka sendiri dengan bernyanyi asal2an lagu "Don't Cha" dari Pussycat Dolls dengan gaya sensual. Alamak... Kemudian kami semua maju kedepan dan si produser cewek cuma bilang: "berdasarkan standard tahun lalu, kalian semua belum cukup bagus", dan kamipun dibubarkan. Wristband kami langsung digunting, dan begitulah, audisipun selesai bagi saya. Dalam hati saya berpikir, apa sih itu standard tahun lalu ? Lindsay Cardinale yang walaupun sudah masuk 12 besar nyanyinya suka fals ? William Hung ? Mary Roach ? Atau laki2 yang cuma bisa ngomong "Can You Dig It ?"

Di luar yayangpun sudah menunggu. Dia nanya apakah saya bete. Soalnya dia bilang: "wih, kalau aku jadi kamu sih aku udah bete. Soalnya yang jelek2 pada masuk." Saya cuma bisa bilang, kalau saya justru nggak bete dan kecewa. Saya justru jadi ngeh, sebenernya apa yang dicari produser. Yang dicari semuanya adalah uang. Kalau nggak ada William Hung atau cerita2 aneh dibalik audisi ini, American Idol mungkin nggak sengetop sekarang. Saya juga baca banyak review dari beberapa pemerhati hiburan di koran2 sini, kalau Idol itu semuanya dibentuk, bukanlah idol sesungguhnya. Kita disuguhi tontonan, kalau Carrie Underwood adalah gadis di desa yang punya impian besar, Scott Savol yang selalu direndahkan martabatnya oleh ayahnya sendiri, Clay Aiken yang dulunya kutu buku, dan masih banyak lagi cerita2 lainnya.

Begitulah pengalaman saya selama mengikuti audisi American Idol. Nothing to lose anyway, karena saya toh memang nggak eligible hehehhehe... Cuma pengalaman kemarin betul2 membuka cakrawala saya soal bisnis pertelevisian. Intinya cuma: DUIT.. Tul nggak ?

Thursday, September 15, 2005

Tornado oh Tornado

Kemarin sore, saya baru balik dari Green Bay. Sepanjang jalan cuaca gelap, tapi hujan nggak juga turun. Denger2 dari radio, bakalan ada storm warning hampir di seluruh Wisconsin area. Jadilah saya agak agak ngebut pas pulang, soalnya it is not my favorite time driving during a heavy rain.

Pas sampai di tempat parkir, saya keluar dari mobil dan jalan terhuyung2 gara2 anginnya luar biasa kenceng. Jam 6 sore langitnya gelap dan saya bisa melihat petir nyamber dari udara...ih serem banget. Cepetan deh saya masuk ke dalem apartemen. Gilanya pas saya baru masuk lobby, ada seorang student dengan santainya pake kaos dan celana pendek mau mulai bersepeda. Kayaknya dia nggak buka jendela kali dari pagi, makanya nggak keliatan tuh kejadian di luar. Nekad amat ya, Mas.

Sampai di dalem kamar, saya telepon si Yayang. Dia kedengeran panik banget. Ternyata, di depan Wells Fargo building saat dia nunggu lampu merah, ada pelat metal rambu "road closed" terbang dan menghantam mobilnya dia. Bisa bayangin kan seremnya, angin kenceng, tiba2 ada object begitu gede melayang2 di udara. Lantas dia telepon polisi dan bikin police report. Cuma sampe sekarang, blom tau gimana nasib mobil "project"-nya itu. Mudah2an Milwaukee Public Transportation bisa ngegantiin kerusakan yang dialami.

Saya cuma bisa bengong, baru storm aja seperti ini, gimana pas Hurricane Kartina mampir di New Orleans yah. Duh, nggak bisa ngomong deh...

Tuesday, September 06, 2005

Bangga Deh Jadi Orang Indonesia !

Kemarin, aku dan si yayang berkunjung ke Madison. Maklum lagi labor day weekend, ceritanya kita mau ke Taste of Madison untuk icip2 berbagai makanan enak di Capitol Square. Event ini adalah event tahunan di Madison yang selalu saja menyedot ratusan ribu pengunjung. Quality makanannya asik punya, dan harganya sangat pantas dibandingkan Taste of Chicago. Tak ada harga makanan yang lebih dari $4. Jadi dengan modal 2 lembar $20-an, kita berpuas2 ria icip2 sana sini sampai perut jadi bengkak.

Inilah daftar makanan dan minuman yang kita coba dimulai dari awal: Jambalaya with Shrimp (Club Tavern), Padthai (Rising Sons Deli), Lobster Roll (Red Lobster), Prairie Fume Wine (Florsheim Winery), yang ini lupa namanya, pokoknya makanan afrika:Chicken and Carrot with Lentil (Buraka), Opor Ayam (Bandung Restaurant), Pina Colada Smoothie (Maui Wowi), Crab Rangoon (Ruby's), and Sweet Potato Fries (Daddy Rocks).

Habis kenyang2 gitu, kita mampir ke Pe-We-Q alias Permias Welcoming BBQ untuk menyambut anak2 baru dan kembalinya teman2 lama. Acaranya di Sheboygan Park. Di sini sih udah nggak makan deh.. nggak kuat lagi...Tapi aku bisa melepas kangen dengan temen2 lama dan ngobrol2 ngalor ngidul walaupun nggak lama. Eh, sehabis dari sana, aku dan temen2 balik lagi ke Taste of Madison...nahloh..makan2 lagi deh..

Lanjut listnya: Bumbleberry Pie with Vanilla Ice Cream (Elegant Foods), Rujak Cuka (Bandung Restaurant), and Passion Papaya Smoothie (Maui Wowi). Nah, bayangin deh... makan sebanyak gitu dari jam 1 siang sampai jam 5 sore. Mungkin masih ada kali makanan yang lupa dilist di atas...

Tapi ada satu hal yang membuat aku bangga. Di Taste of Madison itu semua makanan diperlombakan. Ternyata Opor Ayam Indonesia menang First Place di dua kategori: Best Asian Dish dan Best Ethnic Dish. Padahal saingannya buanyak banget...kayaknya ada lebih dari 50 restaurants yang ambil bagian di acara ini dan masing2 restaurant membawa lebih dari 2 menu.

"I'm so proud to be an Indonesian ! Now, may I have one Opor Ayam please ?" Dan si cashier bule itupun tersenyum...

Sunday, September 04, 2005

Buat Pengunjung Weblog Yang Budiman

Salam jumpa buat anda semua yang lagi kebetulan mampir ke weblog saya ini. Saya tau kalau ada beberapa teman teman yang kerap mengunjungi weblog ini. Baik yang lagi iseng lewat maupun pengunjung setia, ayo ayo, silakan bagi bagi komen, pengalaman, ataupun kritik dan saran...Caranya, tinggal klik aja kok di bawah, "add comment".

Saya memang bukan penulis sejati. Bahasa Indonesia maupun Inggris dua duanya sama sama belepotan. Yang saya tulis memang cuma pengalaman sehari hari kehidupan di negeri orang, dan juga curahan hati. Namun bila ada tulisan saya yang kira2 bisa menyentuh hidup anda baik secara positif maupun negatif, saya kepingin sekali dapet masukan yang berharga.
Kali kali aja, tulisan saya bisa bikin anda tersenyum, atau bikin anda marah dan bete hahahha...(duh jadi inget bulan May lalu hehhehe...)

Sok atuh, monggo, silakan.... Oom, tante, bapak, ibu, saudara, saudari....

PS: Turut berduka cita untuk para korban Hurricane Katrina. Duh, padahal gue dan yayang baru ke sana 4 bulan yang lalu. Untuk mengenang kembali keindahan New Orleans, kalian bisa liat entry bulan Juli.

Thursday, September 01, 2005

Tabungan Berharga

Minggu lalu saat acara pemberkatan rumah dan syukuran Marco dan Ira, aku ketemu dengan Romo Yohanes dari Flores. Pada saat dia memperkenalkan diri, dia menyebutkan kalau dia dulu berasal dari Paroki Bidaracina. Itulah Paroki tempat aku menghabiskan 18 tahun pertama hidupku. Dan ingatanku langsung melayang ke sosok Papaku yang begitu aktif menjalankan hari2nya di gereja sebelum akhirnya Tuhan menjemput. Tak disangka, ternyata Romo Yohanes juga kenal dengan sosok ayahku. "Wow, Pak Yusuf Halim... tentu saja aku kenal. Dia aktif sekali di gereja..", begitu kalimat pertama yang dia ucapkan saat kusebut nama Papaku.

Tak terasa sudah lebih dari empat tahun lalu Papa meninggalkan orang orang yang dicintai dan mencintainya. Namun masih banyak yang mengingat betapa besar kasih yang dia berikan untuk orang orang disekitarnya. Kadang saat aku kecil, aku merasa Papa memberikan waktunya sangat banyak untuk gereja. Aku ingat Mama dulu sempat cemburu dengan pembagian waktu yang Papa tentukan antara gereja, lingkungan, dan keluarga yang menurut Mama kurang adil. Setiap kali Mama dan anak anak mengeluh kenapa hampir setiap malam Papa selalu sibuk dengan kegiatan rohani, Papa menjawab dengan tenang, "Aku sedang menabung untuk di surga."

Siapa sangka Papa dipanggil begitu cepat di usia ke empat puluh delapan. Saat itu aku tersentak, karena ternyata saat itu dia betul betul sedang menabung. Mungkin dia merasa kalau dia tidak menabung dari awal, tabungannya tak akan cukup. Setiap hari sebelum pemakamannya, rumah duka begitu penuh oleh orang orang yang bahkan sudah puluhan tahun tidak pernah bertemu dengan Papa. Rupanya di masa lampau, mereka semua sempat merasakan sentuhan kasih Tuhan melalui Papaku, dan mereka tidak pernah melupakannya walaupun waktu telah berlalu. Keluarga kami bukanlah keluarga kaya raya yang punya rumah gedung mewah dengan mobil mobil berkelas. Kami tidak bisa memberikan materi berlebihan kepada orang orang. Tapi cinta kasih dan perhatian yang diberikan oleh Papa tak lekang dimakan waktu. Satu menit yang lalu ataupun empat puluh tahun yang lalu, masih tetap terkenang di dalam hati orang yang merasakannya.

Kadang aku masih sedih, masih kangen, masih butuh kasih sayang dari Papa. Dulu aku mengharapkan kalau kedua orang tuaku bisa hadir di wisudaku tahun lalu dan turut bangga menyaksikan anaknya memakai toga dan menerima diploma. Kenyataan mengatakan, kalau hanya Mamaku saja yang bisa menghadirinya. Tapi aku yakin Papa pasti turut tersenyum dari atas sana. Usia tak ada yang tahu, yang bisa kita lakukan hanyalah menabung dan terus menabung...

Saturday, August 27, 2005

Sarung Bantal

Semua orang di Indonesia, pasti tau yang namanya bantal guling. Bantal guling memang paling asik untuk menemani kita tidur. Apalagi kalau bantal gulingnya udah dipake kelamaan, sampe empuk empuk nggak jelas, tapi rasanya nikmat tiada tara pas dipelok. Kayaknya itu guling udah sampe mengikuti bentuk badan kita. Bantal guling saya yang satu ini saya namakan si letoy. Walaupun ada dua bantal guling sejenis dengan merek yang sama yang saya bawa dari Indonesia, tapi tetep aja, paling enak tetep si letoy, karena udah nemenin saya dari freshman, dan empuknya itu loh, udah pas banget deh!

Tapi di Amerika sini, nggak ada yang tau namanya bantal guling. Orang sini taunya cuma body pillow: bentuk segi empat panjang, gedenya seamit amit, dan ngga enak dipake, dan yang satu lagi bolster: bentuk kayak guling, tapi pendek dan kecil, tujuannya cuman buat dekorasi doangan. Nah, bantal gulingnya aja nggak ada, gimana mau ada sarungnya? Nyari di Walmart kek, Target kek, K-mart kek, sampe dodol juga nggak bakalan ketemu yang namanya sarung bantal guling. Modal saya selama ini hanyalah dua sarung bantal guling yang saya beli di plaza senayan pas dulu pulang Indo. Dan selama ini, hanya sarung itu yang saya pake. Kalo kotor, laundry, terus pake lagi sampe tipis.

Ulang tahun saya yang ke 23 ini, saya dibeliin mesin jahit listrik sama yayang tercinta. Ngga ngerti deh tujuannya apaan. Mungkin dia pengen saya jadi ibu rumah tangga yang baik dan benar, bisa memasak dan juga bisa menjahit. Pas saya dapet itu mesin, langsunglah instinct saya menuju Walmart, dan misi saya yang pertama: bikin sarung bantal guling..horeee…. Saya beli bahan, meteran, jarum pentul, benang jahit, gunting jahit dan kawan2, yang ternyata biayanya lebih gede daripada saya beli sarung bantal di plaza senayan itu. Jumat kemarin semaleman saya bikin itu sarung bantal. Begitu jadi, nikmatnya mengalahkan segala biaya dan tenaga yang udah saya keluarin…cihuiiii…akhirnya saya punya sarung guling handmade!! Letoyku sayang akhirnya punya baju baru…

Wednesday, August 17, 2005

Enambelasagustusduaribulima

Hari ini, bertambah lagi satu tahun usiaku.

Terima kasih Tuhan atas berkat berlimpah yang Kau berikan.

Keluarga yang mencintaiku, dan teman teman yang mendukungku.

Jadikanlah aku semakin bijaksana dalam menempuh setiap langkah hidupku.

Jadikanlah aku semakin rendah hati untuk semua orang disekitarku.

Buatlah aku mampu memberikan yang terbaik demi kemuliaan nama-Mu.

Saturday, August 13, 2005

Americans and Bars

Jujur aja, kalo saya bukan orang yang paling hepi kalo diajak minum gratis di bar andalan temen2 kantor saya. Sementara temen2 bule saya menantikan dengan sukacita kapan bisa minum gratis dengan biaya perusahaan, saya menganggapnya biasa banget dan membosankan. Maklumlah, saya memang nggak bisa menikmati yang namanya alkohol. Bagi saya alkohol itu apalagi yang namanya beer, sangat2 ngga enak. Cuman pait2 di mulut, bikin kenyang, tau tau sehabis minum, kita jadi mabuk nggak jelas, pusing2, muntah, dan endupnya kita jadi hangover. Bagi saya, hangout dan beramah tamah itu nggak harus ke bar. Kan bisa aja kita dinner, makan dessert sama sama, lalu ngobrol2 sambil denger live music. Cuma namanya tradisi Amerika, terutama tradisi Wisconsin, nggak bakalan lengkap kalau tidak ada alkohol saat kita berkumpul. Berkumpul tanpa alkohol itu artinya: ke gereja dan bekerja hehehehhe...

Sudah dua kali saya ada engagement di Madison, dan selama dua kali itu team saya selalu ke bar saat kamis malam. Yang pertama kali tentu saja "kewajiban" karena saat itu adalah St. Patrick Day. Walaupun badai salju menghadang, kita tetap melaju. Untuk yang kedua ini sebetulnya tidak ada alesan khusus. Hanya saja sang manager dan sang senior manager tercinta lagi berkunjung ke client, dan inilah kesempatan yang nyata untuk tidak malu2 lagi makan di tempat enak dan bar hopping sesuka hati. Kebetulannya lagi, senior saya juga bakalan ultah hari Jumatnya. Dengan alasan yang bisa dikatakan "appears reasonable" (katanya accountant) kembali kita melaju dengan pasti.

Dinner di Brocach Irish restaurant and pub sangatlah menyenangkan. Makanannya enak, suasananya enak, ngobrol2 juga enak. Inilah waktu favorit saya kalau jalan2 dengan temen2.
Jam 8.30, suasana bar pertama yang kita kunjungi masih lengang. Hanya ada segelintir orang di dalamnya. Kok rasanya aneh pas masuk... ternyata : smoking is banned in Madison sodara sodariiii... !! Seneng bener saya. Pantesan kok barnya jadi bau karpet bekas gitu yah huahahha.. ternyata bar sama aja, ada atau ngga ada asep rokok, baunya tetep ada. Cuman aja baunya beda. Saya cuman minum 1 gelas kecil midori plus sprite. Kayaknya cuman itu doang yang bisa saya nikmati, soalnya manis dan dikit alkoholnya. Begitu bosen, kita langsung cari bar laennya. Saat itu jam 9.30an. Suasana ramai mulai terasa. Tapi karena masih kurang asik, nggak berapa lama, kita pindah lagi ke bar berikutnya...

Di sini bener2 panas alias rame buanget. Ada 1 genk anak kuliahan lagi ngerayain ultah ke 21, ada sekumpulan cewek2 lagi asik berbacholerette party ria, dan ada salesman rokok Marlboro yang nawar2in Zippo buat orang yang perokok. Group kita tujuh orang semuanya nggak ngerokok, namun dengan segala keteguhan hati, kita berusaha mendapatkan Zippo gratis itu. Sayangnya, si salesman tetep keukeuh untuk tidak memberikan Zippo itu kepada kita karena kita terlalu jujur untuk bilang kalo kita bukan perokok... gagalah usaha kita.

Jam 11-an, temen2 di group saya paling nggak udah minum 5 gelas beer. Dan saya bertahan untuk nggak minummm. YAY ! Cuaca di luar hujan deras (kenapa yah ?? waktu itu snow storm, hari ini hujan), jadi saya juga nggak niat jalan kaki sendirian buat balik ke hotel. Temen saya dua orang udah capek, dan mereka memutuskan untuk balik ke hotel mereka yang jaraknya dua blok dari bar. Sementara hotel saya kayaknya 10 blok dari bar. Males banget deh ya malem-malem sendirian, nanti disangkain cewek apaan lagi...

Jam 11.30 saya memutuskan balik naik taksi. Tak disangka ternyata dua coworker saya, si manager dan si intern juga memutuskan untuk balik. Wihii.. jadi saya nggak naik taksi sendirian deh. Si birthday boy masih setia nongkrong di bar bersama si senior manager. Pas saya pamit si birthday boy bilang dalam keadaan 1/2 mabuk: "Leony, you're the most Americanized Indonesian that I've ever known."

Kesimpulannya: If you wanna be an American, you better go to the bars, do some bar hoppings, and get drunk :P

Tuesday, August 09, 2005

Madison oh Madison...

Hari ini, kembali saya kunjungi kota tercinta Madison, kota dimana saya menghabiskan 4 tahun pertama di Amerika. Suasananya nggak banyak berubah. Masih banyak rumah2 disewakan di sepanjang jalan sebagai apartemen untuk pelajar, pohon2nya masih rimbun di sekitar downtown area. Makan siang tadi, kita berjalan menyusuri State St. Ternyata, dalam waktu kurang dari satu tahun, lumayan banyak yang berubah.

Toko Hallmark di pojokan sudah dibeli oleh Reebok. Sekarang renovasi atau lebih tepatnya modernisasi sedang dikerjakan. Ada satu toko lingerie baru, dengan santainya memamerkan pakaian dalam seksi yang dikenakan para mannequin. Pizza Hut buffet yang dulu sempat menemani beberapa kali makan siang sehabis gereja, ternyata sudah tidak eksis lagi. Di sudut antara Gorham dan State St, sebuah gereja Lutheran baru sedang dibangun dengan megahnya, dan menara tingginya yang terbuat dari tembaga sudah siap dipasang. Jimmy John, toko sandwich super cepat sudah membuka cabangnya di seberang Qdoba. Ada sebuah restoran baru juga yang menamakan dirinya Southwestern BBQ. Kota ini memang betul2 dinamis. Dan itu hanya perjalanan saya menyusuri setengahnya dari State St yang melegenda itu.

Di antara begitu banyak perubahan yang dialami, ada satu yang tidak berubah. Semangat Badger masih tetap menyala di kota ini. Kota yang sudah menelurkan sarjana2 unggulan masa depan, yang siap mengekspor ilmunya ke penjuru Amerika dan mancangara, namun tetap saja menimbulkan kerinduan yang mendalam. Kerinduan untuk duduk2 di tepi danau Mendota, menikmati matahari terbenam, sambil menjilat es krim Babcock yang rasanya tambah nikmat di summer seperti sekarang ini..

Friday, August 05, 2005

Makan Gratissss, Siapa Takut ?

Setiap kali saya pergi ke luar kota dalam rangka bekerja, makan malam ditanggung oleh perusahaan. Selasa sampai jumat ini saya ada di Green Bay. Berarti ada kesempatan 3 kali untuk makan enak di hari selasa, rabu, dan kamis tanpa mengeluarkan dana pribadi. Memang enak rasanya bisa milih makanan yang kita suka tanpa perlu pikir panjang soal bayarnya. Apalagi perusahaan kasih limit yang cukup besar, paling nggak cukup untuk makan ribs/steak di tempat lumayan plus tip.

Kali ini saya dan senior saya yang jangkung dan baik itu memutuskan untuk mencoba sesuatu yang baru bagi dia, dan di hari lain mencoba sesuatu yang baru bagi saya. Selasa kemarin, saya iseng membawa dia ke Thai restaurant. Dia belom pernah makan thai food sebelumnya. Kita pesen spring roll, tom yam kung, chicken panang curry, and volcano shrimp. Dia doyan tuh, dan dia bilang nggak pedes, pedahal pesennya medium loh. Dia say thank you karena udah ngenalin dia ke other culture...alamak, dasar bulee...begitu banyak thai restaurant, baru pertama kali makan thai food. Billnya dateng diatas rata2 karena makanannya rada mahal.

Rabu kemaren, kita decided nggak makan bareng, soalnya dia mau review workpaper gue. Saya akhirnya beli makanan to go di chinese restaurant. Restonya cukup meyakinkan. Pas masuk ada bar gede, tapi kok semuanya bule yah. Kasirnya, waiternya..hmm.. menunya ? Semuanya serba American Chinese food. Dengan segala kepasrahan diri, saya pesen Kung Pao triple delight. Yang terjadi, isinya cuman 5 udang, secuil ayam, secuil daging sapi, dengan segambreng water chesnut. Rasanya ? Duh..biasa banget deh...mana mahal lagi. Tapi kali ini billnya dibawah rata2.
Hari ini senior saya membawa saya ke restoran yang katanya dia enak banget. Cuman dia udah kasih tau kalo harganya bakalan mahal. Saya tanya: emangnya nggak apa apa makan mahal ? Dia bilang: kerjaan kamu di client ini bagus banget, anggep aja ini hadiah.
Hihihi..asikkk...walaupun perusahaan yang bayar kan kalo mencurigakan gini bisa dipatok ayam nanti... Akhirnya kita masuklah ke restaurant fancy tersebut. Bentuknya kecil, biasa aja, gelap2 dikit. Kursinya nggak terlalu banyak, di pojokan ada fire place dengan moose head yang gedenya seamit2 sambil memandang dengan pasrah. Menunya simple, cuma selembar kertas, tapi ternyata diganti harian. Begitu melihat menunya, saya langsung ngiler2. Selaen karena makanannya enak, harganya juga enak. Bayangin, di kota kecil gini, menu ikannya dari hawaii, ada steak daging bison, rib eye, daging rusa. Nama2 ikannya aja udah nggak jelas dan semua terdengar menggiurkan. Entree termurah hari ini seharga $26. Demi menjaga modesty dan budget, saya tidak minum aneh2, hanya lemonade saja. Ternyata lemonadenya fresh squeezed dan harganya lebih mahal daripada beer. Saya sampe nggak enak hati karena nggak tau. Menu utama, saya memesan scallop stuffed hawaiian opakapaka fish wrapped in serrano ham, served with lebanese couscous, baby squash, and cherry tomato based sauce. Nahloh..panjang amat ya menunya. Begitu terhidang dimeja, saya cuman bisa memandang dengan kagum, how beautiful the presentation is and how wonderful the taste is in my pallet. Porsinya pas untuk sebuah main course. Ikannya segar, hamnya tepat dimasak sehingga tidak terlalu kering. Namun diperut masih tetap ada tempat untuk sepiring dessert. Sekali lagi saya tanya senior saya, apakah kita akan melaju dengan dessert ? Dia bilang boleh aja.Weleh..ini dia yang tanggung jawab nih kalo beneran sampe dipatok ayam. Akhirnya saya pesen chocolate beignete with hazelnut gelato and pomegranette sauce. Wuih...sekali lagi saya dibikin impressed oleh penampilannya yang cantik.
The beignette was made fresh, melted in my mouth, dan begitu dimakan bersama dengan gelatonya, rasanya jadi seperti makan coklat ferrero roche yang udah lembek. Panas dan dingin berpadu menjadi satu, saus pomegranettenya membuat mulut menjadi segar. Pokoknya top deh. I'll be back to this restaurant if I have a chance. Thanks to my senior for introducing me to the best restaurant in Green Bay. Memang ujungnya kerasa. Semua makanan itu membuat kita menderita membaca tagihannya.

Itulah pengalaman makan gratis saya selama 3 hari berada di kota Packers ini. Pengalaman semakin bertambah, lemak semakin menumpuk. Besok gue harus kembali lagi ke Milwaukee. Nggak ada lagi makan gratis di tempat fancy. Tapi yang pasti rasanya lebih enak, soalnya makan barengan sama yayang heheheh...

Wednesday, July 27, 2005

Dasar Leher Merah !

Minggu ini, saya kembali lagi ke daerah bagian utara yang permai alias Green Bay. Saya banyak sekali denger dari orang kalau di kota ini penduduknya agak agak gimana gitu sama orang Asia. Kalau versi bule bilang, mereka sebel dengan orang Asia, soalnya orang2 Hmong di utara sini sering cari gara2. Setiap Hmong festival, end upnya terjadi tawuran antar gank yang menyebabkan korban jiwa. Begitu tau bakalan ditugaskan kemari sebulan lalu, saya agak berjaga2 dan berharap gue nggak dapet perlakuan yang nggak enak. Maklum deh, di daerah sini kan dikit pisan orang Asianya. Seyemmm...

Namun semuanya itu berubah saat pertama kali saya menginjakkan kaki di client di sini. Mulai dari resepsionisnya super ramah dan nyengir melulu, lalu orang2 di departemennya sendiri juga pada ngasal dan seru, dan resepsionis di hotel begitu bersahabat. Jadilah saya mulai agak jatuh cinta dengan Green Bay. 3 hari di bulan Juni lalu cukup menyenangkan. Dan begitu saya ditugaskan di sini lagi, gue excited meskipun jauh.

Hari ini sepulang kerja senior saya ajak makan malem bareng. Kelar makan, saya keluarin mobil dengan santai dari tempat parkir, ada mobil Ford warna ijo melaju kenceng banget. Gue lantas kaget dan ngerem, dia juga ngerem mendadak. Ternyata ada seorang tante2 dengan model gaya leher merah yang luar biasa, rambut keriting mekar, mukanya mandang ke saya dengan sangar, terus ngacung2in tangannya ke saya. Mulutnya monyong dan keluar ngomongan: "HMONG !!" Lalu saya say sorry dan kasih dia lewat. Dengan kurang ajarnya dia masih bergumam terus dan memandang saya dengan sepanya. Terus dia keluarin rokok dan ngebuang kotaknya lewat jendela, padahal mobil saya terang2 ada di belakang dia. Saya sampai menyabar2kan diri untuk tetep smile and positive thinking.

Rusaklah lagi semua pandangan indah yang saya bangun waktu itu soal kota ini. Ternyata orang leher merah masih aja banyak berkeliaran di sini, yang membenci orang cuman karena perbedaan warna kulit. Dan saya yakin, bukan cuma di sini aja orang2 berpikiran sempit berkeliaran. Saat kita jadi curiga karena perbedaan bangsa dan bahasa, saat kita memandang orang sebelah mata karena perbedaan agama, kita nggak ada bedanya dengan leher merah yang super chauvinis. Saya hampir saja menjadi seperti si leher merah juga kalau tadi gue kembali bersungut2 dan membalas perlakuannya dia.

Tapi kenapa pandangan saya harus berubah soal kota ini ya ? Client saya masih baik2 aja, orang orang yang lain juga masih ramah sama saya. Green Bay masih tetep hijau dan permai. Tinggal gimana cara saya mengambil banyak yang positive untuk menutupi yang negative.

PS: Ngomong2 soal diskriminasi, contoh nyata adalah restoran Fortune di HW 100 dengan menunya yang berbeda buat Chinese and American. Duh, ternyata nggak dimana dimana, orang cina kek, bule kek, apa kek sama aja. Damai dong damai... no more discrimination pleaseee....Bule bule itu kan juga pengen makan jellyfish... hmmm yummy...

Monday, July 18, 2005

Noni mau jadi tukang masak ajaaa…(a.k.a. Dilema sehabis liburan)

Tahun 1999 hampir berakhir. Setiap orang sibuk dengan yang namanya Millenium. Segala sesuatu berbau millenium dikaitkan dengan yang silver2. Mobil warna silver, baju warna silver, sampe lipstick warna silver pun jadi ngetrend (sampe cewe2 yang jadi korban mode mulutnya kayak abis keracunan). Saat itu saya kelas SMA 3. Lagi sibuk2nya mempersiapkan segala sesuatu yang berbau kuliah. Milih universitas sudah pasti penting. Tapi yang susah itu milih jurusan. Kalau jurusan udah tau, kan jelas jadinya mau pilih sekolah yang mana. Bagi saya saat itu, semuanya serba blur, kelabu, nggak jelas lah pokoknya. Akhirnya di sekolah ada test penjurusan berdasarkan minat dan bakat. Tes IQ berkepanjangan kembali dilaksanakan, dan hasilnya: 1> teknik industri, 2> kedokteran. Duh, kalo ngambil teknik industri di Indonesia, kerja dimana saya nanti ? Kayaknya yang agak jelas itu kedokteran. Toh nothing to lose juga karena kalau ambil kedokteran di luar negeri, end upnya malah jadi sulit ngurus ijin kalau balik ke Indonesia. Jadilah dalam otak saya isinya kedokteran terus. Pedahal, kalau ngeliat nilai biologi saya di sekolah, duh, berantakan deh… Selain saya emang nggak bakat, gurunya semena2 banget kalo ngasih nilai. Satu2nya motivasi saya masuk kedokteran saat itu adalah, kedokteran itu jurusan yang cukup decent di Indonesia, dan kalo saya sampe nggak jadi dokter yang hebat, setidaknya ada pemasukan dikit2 dari jadi dokter umum.

Pergantian tahun 1999 ke 2000 saya habiskan bersama keluarga dengan travelling ke Eropa. Selama 18 hari itu, saya bener bener membebaskan diri dari yang namanya mikirin masa depan, apalagi detail2 soal pelajaran sekolah. Millenium baru saya sambut dengan hati yang lapang, tanpa ada beban di dada dan pikiran. Tambah bahagia lagi, karena pas hari Natal, kita sekeluarga melewati Holy Door yang cuma dibuka 25 tahun sekali. Rasanya begitu indah dan nggak terlupakan. Sepulangnya dari liburan, saya masih menyisakan 1 hari untuk santai sejenak. Lusanya saya kembali lagi ke sekolah. Di sekolah rasanya biasa2 saja, semua berjalan normal. Waktu berlanjut, sampai akhirnya sekitar jam 1.30 pagi. Saat itu gue lagi ngobrol2 sama dede saya, bahkan lagi becanda2 karena nggak bisa bobo. Maklum, setelah 2 hari pulang, jet lagnya masih betul2 terasa.

Tiba tiba aja saya diem, dan saya nangis sendiri. Saya ngerasa kok hidup saya begini2 aja. Kok rasanya liburan kemarin begitu menyenangkan, dan sekarang saya harus kembali ke dalam rutinitas yang membosankan. Dan saat itu juga saya lari ke atas, ke kamar Mama Papa. Saya nangis sambil ngetokin pintu kamar mereka. Mama pun kaget, dan bingung kenapa saya nangis sendiri. Pas ditanya, saya cuman bisa ngomong:“ Mama, pokoknya Noni ngga mau jadi dokter. Noni mau jadi tukang masak aja. Tuh liat, buktinya bakmi Gajah Mada mulain dari emperan, sekarang udah bisa kaya, punya cabang di mana mana.“ Nah loh, tinggal nyokap bengong, tak bisa berkata2. Nyokap cuman mikir, kalau saat itu saya lagi stress karena terlalu kesenengan pas liburan. Tapi keputusan spontan yang saya ambil saat itu betul2 mengubah jalan hidup saya 100%. Saya beneran ngga mau jadi dokter, dan saya nggak mau lagi disetir oleh motivasi absurd yang asalnya bukan dari diri saya sendiri. Dan inilah saya sekarang, seorang accountant. Jauh banget dari yang namanya bu dokter. Dan saya bersyukur atas pilihan ini, karena gue emang ngga tegaan kalau ngeliat darah.

Kejadian 5 tahun lalu itu, berulang lagi di tahun 2005, saat saya baru aja pulang dari New Orleans. Rasanya pas lagi liburan itu, setiap hari kita bangun, dan selalu aja excited untuk pergi ke tempat yang kita belum pernah kunjungi sebelumnya. Beneran, semangat jadi naik. Bangun pagipun tidak menyiksa. Begitu kembali ke dunia rutinitas, rasanya segalanya bisa ditebak. Semua terencana: Senin – Jumat = hari kerja, Sabtu Minggu = libur. Minggu malam adalah hari yang menyebalkan, karena sudah membayangkan kalau Senin pagi, saya sudah harus bergumul dengan workpaper, client yang kadang tidak bersahabat, dan senior yang kadang mengharapkan lebih dari juniornya yang manis ini. Jadilah selama seminggu, bawaan saya marah2 terus kayak lagi kena PMS. Yang jadi korban, siapa lagi kalau bukan si yayang. Duh, kasihan deh dia tiap hari kena ocehan saya yang lagi sensi.

Hari ini minggu kedua setelah liburan selesai. Rasanya saya udah bisa lagi balik ke rutinitas. Client saya hari ini nggak ada di tempat, kerjaan yang ada sudah saya selesaikan, dan saya bengong2 menunggu jam kerja berakhir. Ternyata hidup itu jauh lebih simple kalo saya nggak mikirin yang aneh2. Jalanin aja hidup step by step. Soalnya kalo mikir kejauhan ke depan, yang ada saya malah jadi stress dan nggak bisa bersyukur atas hal2 kecil yang saya terima sekarang. Hmm... ntar sore masak apaan yah...

Saturday, July 16, 2005

Masya ampun !

Tahun 1994 yang indah, dimana saat itu saya masih berseragam merah putih, dimulailah hunting untuk menentukan sekolah lanjutan tingkat pertama. Dengan pedenya, saya hanya mendaftar di 2 sekolah. Yang pertama sekolah yang kebetulan deket banget sama rumah saya, dan yang kedua sekolah favorite yang cewe2nya berseragam putih dan hijau kotak2 di daerah lapangan banteng yang katanya kalo malem2 banyak "kupu kupu" berkeliaran. Terus terang saya berharap bisa masuk ke sekolah yang kedua ini, karena katanya sih, kalo masuk sana pendidikannya disiplin banget, which is saya suka sekali... modelnya saya ini, kalo dikerasin malah makin berusaha mati2an. Test IQ selama 5 jam di sekolah itu saya jalankan dengan sepenuh hati, menyisakan perut lapar di sore hari dimana langsung saya isi dengan Bakmi GM yang yummy itu.

Akhirnya saat pengumuman pun tiba. Setelah deg2an menunggu di mobil, nomor pendaftaran saya ternyata tercantum di papan besar di depan kantor pak satpam. Duh senengnya nggak kira2, rasanya pengen kasih tau seluruh dunia deh. Apalagi saya inget kalo SD saya itu salah satu sekolah yang nggak gitu dianggep di Jakarta, dan saya atu2-nya perwakilan dari SD saya yang masuk sekolah favorite itu. Tinggalah proses administrasi, buku2, dan tetek bengek lainnya yang harus saya dan nyokap kerjain.

Sampailah di hari pembayaran uang pangkal. Kebetulan mama dan saya kena giliran paling pagi (katanya sih yang jem segini bakalan diperes sama suster kepsek). Setelah negosiasi beres, saya dan mama ke aula buat beli kebutuhan sekola kayak seragam, buku2, dll. Bodi saya yang semlohoi ini pun siap diukur untuk bikin seragam sekolah. Si suster tua berkacamata itu udah nongkrong dengan meteran yang siap dilingkerin di badan. Pas ngukur pinggang saya, dia langsung teriak: " MASYA AMPUNNNN..., gede amat yah..."

Duh...serasa kena durian runtuh..cuman durian yang ini bener bener masih ada durinya dan jatoh tepat di atas kepala saya. Dalam hati saya cuman pengen ngomong: "Suster, saya kan masih imyut2 dan masih bertumbuh... maklum dong kalo badan saya seksi seperti ini..." (beginilah kalo orang pede... makanya kagak kurus kurus ampe sekarang.... )

Wednesday, July 13, 2005

Genduttt.... !!

Semalem saya nelepon Mama pas sebelom bobo. Saya nanya: "Ma, udah liat foto foto liburan yang aku kirim belom ?" Lalu nyokap menjawab: " Udah, kamu gendut banget sih, kapan kurusnya ???"

Duh, pertanyaan yang sama, itu itu lagi, "KAPAN KURUSNYA". Udah dari kecil saya nggak mengenal yang namanya kurus. Dari lahir udah montok, sampe SD paling bongsor di sekolah. SMP dan SMA hanya diisi dengan mahluk sejenis yang menyebabkan saya agak2 cuek dengan bear badan. Pas saya kecil, saya suka sedih sendiri sih, kenapa yah, badan kok gede begini. Jujur aja, pas kecil itu saya makan bisa banyak banget. Pernah dulu makan pisang raja sereh sekali 7 biji pas kelas 1 SD. Cuma pas masih kecil kan lagi lucu2nya, bisa dimaklumi lah kalau agak agak gemuk sedikit. Tapi kenapa yah ini bisa kebawa sampe gede. Dulu inget banget, pas SD akhir pengen diet2an... makan dikurangi, tetep aja mbul. Saking keselnya, Papa sampe bilang: "Daripada kamu abisin makanan kamu, lebih baik Papa buang aja."

Kalo menurut nyokap, yang bikin saya gemuk adalah, saya bisa mengkreasikan sesuatu dari bahan2 yang ada, dan malah bikin jadi lebih nikmat. Kayak misalnya pas kecil, di meja ada roti tawar, dan di kulkas ada sosis sebiji. Buat anak laen mungkin tinggal goreng aja tu sosis dimakan dengan roti tawar. Lah kalo saya laen lagi. Saya ambil 2 roti tawar, gue potong jadi 4 bagian. Sosisnya gue bagi 4, terus saya gulung di dalem roti tawarnya dan saya tusuk pake tusuk gigi supaya nggak keluar2. Lalu saya bikin adonan tepung, air es, baking powder, garem, dan lada, trus saya celupin itu roti yang udah saya gulung, terus saya deep fried. Jadilah 4 potong roti sosis goreng yang yummy banget daripada cuman sekedar makan roti dan sosis. Itulah yang kadang bikin nyokap geleng2 kepala.

Masalah embul ini terus aja berlangsung. Pas kuliah, sempet mengalami yang namanya gendut abis abisan. Saat itu pas masih tinggal di dorm, makan nggak jelas, banyak cheesy2an, apalagi favorit saya tuh nachos..walah... jadi deh gendutnya nggak kira kira. Tapi kemudian, badan mulai kurusan dikit, karena banyak kerja keras, sibuk sekolah, naik sepeda, dll. Pas lagi aktif2nya di fall 2003, eh malah keserang batu ginjal. Dioperasilah daku.. nasib nasib. Untung masih bisa survive dengan nilai yang nggak hancur2 amat. Masa setahun terakhir kuliah, rasanya berat badan cukup stabil, bahkan mengalami penurunan di saat semester terakhir. Seneng sih, apalagi bayangin kalau masuk kerja nanti bakalan capek, terus berat badan jadi turun.. Namun yang terjadi ternyata sebaliknya.

Berat badan naik terusssss... kerja apaan sih ini... padahal stress, tiap hari berpusing2 ria mikirin client dan kawan2 (walaupun masih sempet nulis blog kayak sekarang ini). Belum lagi suka ada senior yang ngga tanggung jawab ninggalin kerjaan..walah, meriahlah segala kestressan yang ada di dalem otak. Kadang ada sedikit penghiburan dari temen2 kantor kalau saya ini not even large in US. Bahkan masih bisa masuk ke dalam baju ukuran small. Tapi tetep aja di Indo saya ini guede, large, grande (you can put any other word in this bracket that means BIG). Ada orang bilang kalau happy, badan jadi gemuk. Tapi ada juga yang bilang, kalau stress jadi pengen melalap apa aja. Apakah saya sekarang lebih happy ? Ataukah justru sekarang saya lebih stress ?

Yang pasti cuman satu. Saya nggak pengen jadi gendut.