Posts

Showing posts from 2005

Jadual Minggu Ini

Belajar...belajar.... belajar.... biar lulus ya Non, CPA nyaaaa... Misa Natal, buka kado...belajar...belajar...belajar.... Plus, sisipkan, nonton pilem Korea di saat break hahahahahah....(jadi malu...) PS: Maap, entry kali ini pendek aja. Maklumlah, lagi gregetan sama buku tebel di depan saya ini. Anyway, Selamat Hari Natal semuanya.. inget, makan jangan banyak-banyak, masih banyak yang kelaparan. Semoga damai kasih akan selalu terasa di dalam hati dan di seluruh dunia... AMIN !! Resolusi taon baru ini: Kurusin badan !!!

Masakan Gue, Suka- Suka Gue Dong!

Image
Buat anak anak yang pernah ke Purdue University, pasti jika mahasiswa Indonesia di sana ditanya restaurant apa yang mereka rekomendasikan, pasti jawabannya mirip-mirip semua. Tapi yang tidak pernah ketinggalan adalah: Kokoro. Dari namanya, orang pasti sudah menebak, kalau ini pasti restaurant yang menyediakan masakan Jepang. Kalau itu tebakan kalian,..maaf jawaban anda kurang tepat. Ini adalah restaurantnya si Tony, dan masakannya adalah Masakan si Tony (Tony’s Food). Memang, si Tony adalah orang Jepang. Orangnya botak, tidak terlalu tinggi. Perawakannya agak keras dan kurang senyum. Umurnya kira kira 60-an. Lalu apa yang sebetulnya istimewa dari masakan si Tony ini, sampai begitu direkomendasikan oleh teman teman kita di West Lafayette sana? Masakannya memang cukup istimewa. Tapi bukan itulah faktor utama yang membuat tempat ini berbeda dari tempat lainnya. Kokoro adalah satu paket keunikan, dan Tony adalah pusat keunikan itu. Restaurant ini adalah restaurant pertama yang saya tem

Naik Naik Ke Puncak Silos

Image
Jumat sore kemarin, saya dongkol habis habisan. Pertama-tama, jadual saya minggu ini yang seharusnya di Appleton, tiba tiba kosong di hari Senin dan Selasa. Dan tak berapa lama kemudian, saya ditelepon oleh salah seorang scheduler (alias si pengatur jadual) dari Chicago. Dengan santainya dia ngomong: "Senin ini kamu ke Frankfort ya." Dalam bayangan saya, wah, Frankfurt kali yang di Jerman. Lumayan jalan jalan ke Jerman. Eh ngga taunya: "Frankfort, Indiana !" Hilanglah sudah bayangan ke Jerman berubah jadi gambaran perkebunan jagung in the middle of nowhere. Yang bikin kesal lagi, kenapa mereka harus mencari staff dari Milwaukee, padahal Frankfort hanyalah 45 menit dari Indianapolis. Bikin gondok aja. Dan bener saja, kalau tugas saya adalah menghitung grains yang terdiri dari jagung dan kedelai. Saya diperintahkan untuk membeli steel toe boots (itu loh, sepatu bot depannya ada lapisan bajanya, biar kalo kejeduk kakinya kagak sakit...). Akhirnya ketemu juga itu bar

Ada Apa Denganmu Sih Non (Seri Kedua)....

Image
Buat orang orang yang tinggal di Amerika, pasti tau yang namanya DV-Lottery. Bahkan yang di Indonesia juga pasti sudah tau karena DV-Lottery ini adalah kesempatan emas untuk mendapatkan green card alias kartu permanent resident. Sekarang ini status visa saya adalah H1-B alias Visa kerja yang berlaku sampai 3 tahun ke depan. Kalau kumpeni saya ini masih menghendaki saya melayani, akan diperpanjang lagi 3 tahun extra, jadi totalnya 6 tahun. Saya sudah membayangkan, walaupun kemungkinan dapetnya kecil sekali, tapi paling nggak ada dong kesempatan untuk dapet. Namanya juga lotere. Tahun lalu aja ada 263 orang Indonesia yang beruntung. Enaknya kalo sudah ada green card, nggak perlu was2 nggak dapet visa, tinggal bolak balik aja kalau waktu dan tempat mengijinkan, dan nggak ada batas waktu buat saya untuk kerja di sini. Seandainya loh yah... Begitu DV-Lottery tahun ini di umumkan, langsung saya kasih tau sodara2 saya di Indonesia, dan mereka kirim foto digital kemari sehingga bisa saya daf

Ada Apa Denganmu sih Nonnnn....

Image
Singkat saja... Tepat 2 tahun lalu, 1 Desember 2003 terjadi peristiwa tak terlupakan, berlokasi di University Avenue, Madison, WI, saya menabrak sebuah mobil di tengah badai salju sepulang sekolah. Bagian depan mobil saya hancur di sisi kiri, bagian belakang mobil di depan saja juga hancur di sisi kanan. Hari ini, 1 Desember 2005, berlokasi di Whitney Way, Madison, WI, saya menabrak sebuah mobil di tengah badai salju, saat akan berangkat ke client dan kurang dari 1 mil kemudian, mobil saya berputar 180 derajat di perempatan Whitney Way dan University Avenue. AAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHH !!! Saat makan siang di Chin's State Street, fortune cookie saya berbunyi: "Happier days are coming your way !" Mudah-mudahan...Habisnya hari ini..alamak... jantung saya serasa copot berkali kali... PS: Puji Tuhan, hari ini tabrakannya nggak kenceng, ngga ada kerusakan fatal, semua selamat. AMIN !

Makannnnnn...

Image
Sodara sodaraku sebangsa dan setanah air, hari Kamis kemarin adalah hari untuk bersyukur. Walaupun setiap hari adalah saat yang tepat untuk berterima kasih kepada Tuhan atas segala berkatnya selama ini, tapi Kamis kemarin terasa lebih special karena kita bisa berkumpul dengan seluruh "keluarga". Sebagai manusia di perantauan, rasanya sangat pas waktunya, di tengah cuaca yang dingin, untuk bersama sama mencari kehangatan ditambah lagi: Makan2 dong ! Jadilah, Kamis 24 November sore, rumah Pak Anton dan Bu Lengleng jadi aula sementara bagi kami anak anak di perantauan ini. Saya nggak bisa terlalu banyak soal menu kemarin itu, saya cuma bisa nyebut: UENAK TENAN..... kita mulai dari ujung ke ujung yah (mudah2an inget semua, maaf kalo ada yang kelewatan): Tahu isi, pempek palembang, baso goreng, lontong sayur, rendang, ayam panggang, telor balado, sambel udang, sayur asem, kerupuk, bakmi ayam, kari, dan ngga lupa syaratnya, si kalkun panggang. Untuk hidangan penutupnya: Cendol, b

Nekad

Image
Cerita ini adalah kenangan saat saya masih duduk di kelas dua SMU. Hari itu adalah hari yang cukup spesial di sekolah, karena kami kedatangan beberapa orang tamu. Tamu-tamu tersebut adalah beberapa buruh Nike Indonesia, ditemani oleh pengacara mereka dari salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat di Jakarta. Maksud kedatangan buruh tersebut adalah mencoba untuk sharing dan menggerakan hati para murid murid supaya kita semua lebih peka terhadap keadaan di sekitar kita. Apalagi saat itu adalah saat dimana bangsa kita betul betul sedang terpuruk setelah peristiwa May 1998 dan krisis ekonomi. Siang itu pada jam pelajaran terakhir, kami semua dikumpulkan di aula. Kamipun diajak untuk mendengarkan cerita kehidupan sehari-hari para buruh Nike yang digaji kurang dari sepuluh ribu rupiah per hari, dan hanya diberi makan nasi perah dan sepotong tempe. Kebetulan para buruh yang datang adalah wanita, dan sekolah kami adalah sekolah khusus wanita, sehingga momen ini sebetulnya cukup pas untuk berbagi

CRASH !

Image
Sekitar 3 minggu lalu. saya baru saya kembali dari Appleton. Jumat sore itu, saya kembali menyalakan komputer saya yang sudah diistrirahatkan selama seminggu. Berhubung lagi capek, saya pikir Jumat sore, mendingan saya nonton film saja di komputer. Kebetulan ada satu film yang sudah nongkrong di komputer saya, tapi belum sempat saya lihat. Mulailah saya membuka media player. Tiba-tiba komputer saya diam, tidak bergerak sama sekali. Saya klik sana, klik sini, pencet tombol ampuh "Control Alt Del", tapi tetap saya komputer saya tidak bergeming. Lalu dengan hopeless, saya pencet tombol restart. Dan apa yang terjadi ? Komputer saya tidak mau di reboot. Cuma gelap saja yang keluar. Dalam keadaan panik, saya telepon si yayang yang mampir langsung dari kantor untuk melihat komputer saya. Dia coba kutak katik, tapi tidak berhasil. Adohhhh... gimana dong ? Apa yang rusak ? Kebetulan saya ingat, ada teman saya si Ardian yang kebetulan jagoan komputer wahid di seantero gedung aparteme

Home Sweet-and-Sour Home

Image
Setelah kemarin saya membahas soal mudik, saya jadi mikir, kalau sesungguhnya sekarang rumah saya yang di Milwaukee juga seperti jadi kampung saya alias home sweet home. Sudah lebih dari sebulan terakhir ini, saya selalu berada di luar kota, paling nggak dari Senin sampai Jumat, bahkan kadang Sabtu saya tidak bisa merasakan keempukan ranjang saya sendiri. Walaupun tidur enak di bermacam hotel, tapi kan saya tetep harus bayar sewa untuk kebutuhan apartemen saya dan iuran cable. Padahal saya cuma menikmatinya selama kurang dari seminggu dalam sebulan. Alhasil, setiap kali saya pulang, yang saya lakukan hanyalah laundry. Isi kulkas tidak banyak berubah. Bahkan kemarin pas saya buka kulkas, saya bingung, itu es krim bekas siapa yah di freezer ? Tinggal yayang saya bilang: ih, itu kan punya kamu. Duh beneran deh saya jadi pikun. Sudah 2 bulan lamanya saya tidak pergi grocery, karena memang tidak ada waktu masak kecuali weekend. Dan weekend rasanya kok sudah lemes duluan, jadi kehilangan s

Mudik Nyok !

Image
Selamat hari raya Idul Fitri untuk semua teman yang merayakan. Mohon maaf jika ada salah kata ataupun perbuatan. Di hari yang penuh rahmat ini, marilah kita bersatu hati dan bergandeng tangan untuk menyambut datangnya perdamaian di bumi dan di dalam diri. Walaupun saya bukanlah penganut agama Islam, Idul Fitri adalah hari yang selalu saya nantikan. Sejak saya kecil, saya merasa bukan hanya Natal dan Paskah yang menjadi hari menyenangkan, melainkan juga Lebaran. Liburan panjang selalu jadi hal yang diidamkan selama masih jadi pelajar. Dan saat lebaran, biasanya paling tidak 10 hari sudah ditangan. Memang, kadang capek juga kalau asisten lagi pada mudik. Sedangkan saya yang asli Jakarta dengan kedua orang tua yang asli Jakarta juga, kami nggak punya kampung, otomatis nggak kenal yang namanya mudik. Kampung kami ya di Jakarta ini, yang kalau lebaran jadi asoy seperti di luar negeri karena macetnya berkurang 90%. Lebaran di keluarga saya, mungkin hampir nggak beda repotnya dengan lebara

Tick and Tie

Image
Bukan kutu ataupun dasi yang saya maksud dengan judul di atas. Tick and tie adalah istilah dalam dunia accounting yang artinya memberi tickmark/ tanda pada sumber dan menghubungkannya dengan tujuan. Misalnya menghubungkan dua laporan yang berbeda, menghubungkan hasil tahun lalu dengan tahun ini, dan sebagainya. Kalau perusahaannya besar, pekerjaan tick and tie ini adalah pekerjaan yang cukup memakan waktu. Mungkin agak sulit untuk menjelaskannya untuk pembaca yang bukan accountant atau financial officer. Pokoknya ini pekerjaan sebetulnya cukup simple, membosankan, menyebalkan, makan waktu, tapi kalau ketemu semua, bikin happy luar biasa deh ! Saat pertama ditugaskan, saya tidak tahu apa yang saya harapkan. Saya hanya diberi tahu kalau saya harus mentransfer laporan dari laporan ala Amerika ke laporan ala Jerman. Ditambah lagi, inilah kali pertama saya meratapi laporan ala Jerman yang lumayan ajaib. Urutannya bolak balik tak jelas, penyesuaian ada di mana mana. Jadilah pekerjaan ex

Geng Jerman

Image
Selama saya bekerja untuk client saya yang sekarang ini, saya ditemani oleh empat orang Jerman. Berikut ini saya ceritakan pengalaman saya bersama empat orang Jerman tersebut. Si Jerman pertama adalah laki laki dengan perawakan tinggi. Dia adalah seorang staff. Rambutnya agak keriwil, cocok jadi model sih. Tapi sayang gara gara dia ikut serta program pertukaran karyawan di perusahaan kami, dia keseringan minum beer dan perutnya mulai menggelembung sedikit..walaupun menurut saya masih okeh okeh saja. Dia paling ngga suka kalau disuruh menghubungi client lewat telepon, karena bagi dia, ngomong bahasa Inggris di telepon itu sangatlah menyiksa. Yang paling seru kalau lagi ngeliatin dia makan. Dalam sekejab, habislah porsi yang dia makan sementara orang orang lain baru saja menyicipi barang dua tiga gigitan. Dia senang ketawa dan bisa diajak gila gilaan ala Amerika. Saat ini dia sudah kembali ke Jerman karena masa pertukaran karyawan sudah selesai. Sedikit story tentang pengalaman dia, k

It's Not Even the Busy Season Yet !!!

Image
Bagi seorang auditor seperti saya, bulan yang paling menyebalkan adalah Januari sampai April, di mana berjuta-juta client kami sepertinya menyusahkan kami pada saat bersamaan. Pergi pagi pulang malam adalah hal yang sangat biasa di bulan bulan itu. Makan siang dan malam di depan komputer sambil bekerja di kantor client juga merupakan santapan sehari-hari. Tapi ini baru bulan Oktober. Saya mengerti memang client saya yang satu ini tutup buku pada tanggal 30 September, tapi mereka tidak siap dengan segala dokumen yang kami butuhkan, sehingga kerja lapangan kami jadi mundur hingga kamis di Minggu kedua bulan Oktober. Parahnya, semua hasil kerja kami harus diserahkan hari ini, Senin, 24 Oktober. Oh tolonglahhhh... kami harus bekerja seperti orang gila... Setiap hari kami kerja mulai jam 8 pagi, dan paling awal, kami pulang jam 8 malam. Pernah satu kali kami pulang jam 10 malam, Di tengah minggu, senior manager kami memberi berita gembira, kalau kami juga harus bekerja pada hari Sabtu. Le

Menjalin Persatuan dan Kesatuan

Image
Tiba tiba saja, dalam perjalanan pulang dari restaurant beberapa minggu lalu, saya dan teman saya teringat masa masa jadul di mana kita masih kanak kanak dan stasiun televisi hanya ada satu saja yaitu TVRI. Ketika para televisi swasta menjamur dengan slogan slogannya seperti: RCTI oke, SCTV ngetop, TPI makin asik aja, INDOSIAR memang untuk anda dan sebagainya, TVRI juga tak mau kalah membuat slogan yang lumayan keren tapi sangat berbau kebaheulaan: Menjalin persatuan dan kesatuan. Dinyanyikannya dengan semangat, dengan kelompok paduan suara yang rasa rasanya mirip dengan paduan suara angkatan bersenjata. Dan sepanjang perjalanan itu, kita membicarakan acara acara yang dulu sempat menghiasi layar kaca dan bikin kita tertawa ngakak. Saat pembukaan jam 4 sore ada lagu Indonesia Raya. Biasanya sore sore ada Cerdas Cermat loh. "Kami dari EsDe Negri 123 Kampung Melayu, nama saya Tini, sebelah kanan saya Tono, dan di sebelah kiri saya Tuti." Lalu tak lupa si pembawa acara bilang:

Mataku oh Mataku...

Image
Persediaan lensa kontak saya sudah mulai menipis. Lebih tepatnya, saya tinggal punya satu pasang lensa kotak yang nempel di mata saya. Maklumlah, biasa setiap kali pulang ke Indonesia, saya selalu menyempatkan diri mampir ke optik Melawai dan membeli persediaan untuk satu tahun ke depan. Berhubung terakhir saya pulang ke Indonesia Agustus tahun lalu, berakhir sudahlah persediaan saya untuk tahun ini. Di Amerika sini, dilarang membeli lensa kontak tanpa menggunakan resep dokter. Alamak... Sepanjang usia saya, saya tidak pernah memeriksakan mata saya di Amerika. Apalagi dengar dengar harganya mahal, tidak seperti di Indonesia dimana kita tinggal nongkrong, lalu dapat periksa gratis. Bahkan kita tidak perlu membeli barang di optik tersebut untuk mendapatkan periksa mata gratisan. Duh, seandainya di sini juga begitu, saya kan jadi tidak perlu repot- repot periksa segala. Pertama sekali saya menggunakan kacamata adalah pada saat saya duduk di kelas 1 SMP. Kenapa saya sampai menggunakan k

Naik Kelas

Image
Sebelas tahun lalu, pertama kalinya saya menginjakkan kaki di sekolah khusus putri itu. Lokasinya tepat ditengah hiruk pikuk kota, tidak terlalu besar, dan terdiri dari dua tingkat. Siswa SMP ada di tingkat pertama, dan siswa SMA ada di tingkat kedua, yang memisahkan kami adalah sebuah tangga. Saat saya SMP dulu, saya membayangkan senangnya kalau nanti pada akhirnya saya bisa naik ke atas. Itu berarti saya diterima di SMA. Namanya juga anak kecil, tentulah berpikir, kalau saya sudah ada di atas situ, saya lebih top daripada kamu yang di lantai bawah. Di atas pakai rok abu abu, di bawah pakai rok biru, jagoan yang abu abu dong ! Namun ternyata pas pada akhirnya saya mengalami pencapaian di lantai atas, yang ada bukannya perasaan jadi jagoan, melainkan tugas yang semakin menumpuk, buku buku yang semakin tebal, dan ulangan ulangan yang semakin menyiksa. Aturannya, sehari boleh ulangan "dipersiapkan" dua kali, dan ulangan "mendadak" satu kali. Kadang guru guru kami de

Ulang Tahun Rame Rame

Tanggal 28 September itu selalu jadi tanggal yang special setiap tahun. Tiga teman saya kebetulan berulang tahun. Semuanya lahir tanggal 28 September 1982. Alex, Lina, Mike baru saja merayakan ulang tahun mereka ke 23. Again, what a coincidence ! Namun yang lebih special lagi, tanggal 28 September adalah ulang tahun Mama saya tercinta. Dulu pada saat saya masih di Indonesia, kami selalu merayakan dua hal sekaligus pada tanggal itu. Tanggal 27 September adalah tanggal perkawinan kedua orang tua saya, dan tanggal 28 September adalah ulang tahun Mama. Karena jaraknya begitu berdekatan, kami biasanya bikin paket hemat alias sekali acara, dua perayaan terlampaui. Tapi setelah Papa dijemput oleh Tuhan di tahun 2001, perayaan di tanggal 27 September itu rasanya jadi kurang relevan lagi. Sedikit yang berbeda dari perayaan tahun ini adalah status saya yang bukan lagi sebagai pelajar, melainkan sebagai pekerja. Adik sayapun sudah bekerja paruh waktu sebagai asisten laboratorium di kampusnya. J

Eh, Ketemu Lagi....

Karena lokasi hotel saya yang lumayan jauh dari Sears Tower, saya terpaksa menggunakan jasa taksi. Kenapa saya bilang terpaksa ? Soalnya menyetop taksi di Chicago pada jam jam sibuk di pagi hari itu susahnya minta ampun, dan alasan kedua, saya sebetulnya lebih suka jalan kalau saja jaraknya memungkinkan, karena cuaca memang sedang lumayan walaupun angin dingin mulai berkeliaran. Padahal, di Chicago itu taksi banyaknya luaaarrr biasa, bahkan sampai ribuan. Cuma saja penduduknya jauh lebih banyak, sehingga supply tidak dapat memenuhi demand. Saking sulitnya mendapatkan taksi, kadang si petugas penyetop taksi di depan hotel sampai harus berjalan dan menunggu di ujung blok lalu menyetop taksinya dengan paksa dan naik ke dalam taksi. Kemudian si penyetop taksi itu berhenti di depan lobby hotel, dan menukar dirinya dengan penumpang yang sudah menunggu dari tadi. Bravo untuk si penyetop taksi, dan tentunya saya tidak ragu untuk menyelipkan tip di tangannya pada saat dia membukakan pintu. Ta

Berteriak

Image
Bisa jadi tandanya kita sedang senang. Misalnya ketemu dengan teman lama yang sudah lama nggak bertemu. Kayak di film film India, si cowok dan cewek berlari lari di taman sambil berteriak memanggil nama masing2 di tengah hujan deras... Bisa jadi tandanya kita sedang mendukung teman kita. Seperti saat kita menyoraki teman teman yang bermain sepakbola dalam pertandingan di Purdue kemarin supaya mereka bermain dengan semangat dan suka cita. Bisa jadi tandanya kita sedang marah dan benci pada seseorang. Saat kita lagi kesal sama teman yang bikin kita kecewa, lalu kita jadi berteriak di depan wajahnya. Bisa jadi tandanya kita lagi ngefans. Itulah yang kita lakukan saat kita melihat artist favorit kita sedang manggung, seperti pas konsernya Gigi kemarin itu loh, teriakan kita membahana memanggil si cungkring Armand Maulana yang suaranya memang aduhai. Bisa jadi tandanya kita cari perhatian. Coba aja di tengah lapangan, pas semua orang diem, lalu kita teriak teriak sendiri... pasti semua

Satu Minggu di Chicago

Saat yang lumayan ditunggu-tunggu oleh para staff di kantor saya bekerja adalah training. Kenapa? Karena pada saat training, kami bisa beristirahat sedikit dari kesibukan kami yang biasanya. Kami bisa enjoy travelling ke Chicago walaupun masih dalam rangka bekerja, dan kumpul2 dengan teman2 membicarakan hal hal yang nggak penting di luar kerjaan. Dan yang paling happy adalah, kami bisa menikmati yang namanya luxury dengan biaya perusahaan heheheh.... Dari Minggu sampai Jumat pagi, kami bisa menginap di hotel yang biaya permalamnya bisa buat makan seminggu, bahkan lebih. Kalau melihat bill hotelnya untuk lima malam, bisa nangis bombay kalau sampai keluar biaya sendiri. Sayangnya, hanya kami sendiri yang bisa menikmatinya. Kami nggak bisa mengajak significant others atau anak anak untuk ikutan. Senin malam kami dinner di Sushi Samba, salah satu restaurant sushi yang “ngepop” banget di downtown Chicago dengan interiornya yang interesting. Makanan nggak henti hentinya keluar, dan teman t

Idola yang Belum Tentu Idola

Sebagai penggemar American Idol, begitu saya tahu kalau audisinya bakalan hadir di Chicago yang jaraknya hanya 1.5 jam dari Milwaukee, saya langsung tertarik untuk iseng coba coba. Maklum syaratnya selain ketentuan umur adalah para peserta harus U.S. citizen atau Permanent Resident. Saya bukanlah keduanya, jadi kesempatan ini saya pakai untuk melihat, seperti apa sih audisi acara super terkenal American Idol itu (yang untuk season ini bakal mematok harga $705,000 untuk 1 slot iklan selama 30 detik). Hari Kamis sore sepulang kerja, saya dan yayang berangkat ke Soldier Field, Chicago, tempat di mana audisi akan diadakan. Kami ke sana malam ini hanya untuk mengambil wristband. Dengar2 dari orang, katanya untuk audisi babak awal, kami hanya perlu menunjukkan 1 identitas saja (yaitu driver license), jadi saya tidak khawatir kalau saya akan didepak karena status kewarganegaraan saya yang Indonesia merdeka ini. Perjalanan yang harusnya hanya 1.5 jam, kami tempuh selama 2.5 jam karena harus m

Tornado oh Tornado

Kemarin sore, saya baru balik dari Green Bay. Sepanjang jalan cuaca gelap, tapi hujan nggak juga turun. Denger2 dari radio, bakalan ada storm warning hampir di seluruh Wisconsin area. Jadilah saya agak agak ngebut pas pulang, soalnya it is not my favorite time driving during a heavy rain. Pas sampai di tempat parkir, saya keluar dari mobil dan jalan terhuyung2 gara2 anginnya luar biasa kenceng. Jam 6 sore langitnya gelap dan saya bisa melihat petir nyamber dari udara...ih serem banget. Cepetan deh saya masuk ke dalem apartemen. Gilanya pas saya baru masuk lobby, ada seorang student dengan santainya pake kaos dan celana pendek mau mulai bersepeda. Kayaknya dia nggak buka jendela kali dari pagi, makanya nggak keliatan tuh kejadian di luar. Nekad amat ya, Mas. Sampai di dalem kamar, saya telepon si Yayang. Dia kedengeran panik banget. Ternyata, di depan Wells Fargo building saat dia nunggu lampu merah, ada pelat metal rambu "road closed" terbang dan menghantam mobilnya dia. Bi

Bangga Deh Jadi Orang Indonesia !

Kemarin, aku dan si yayang berkunjung ke Madison. Maklum lagi labor day weekend, ceritanya kita mau ke Taste of Madison untuk icip2 berbagai makanan enak di Capitol Square. Event ini adalah event tahunan di Madison yang selalu saja menyedot ratusan ribu pengunjung. Quality makanannya asik punya, dan harganya sangat pantas dibandingkan Taste of Chicago. Tak ada harga makanan yang lebih dari $4. Jadi dengan modal 2 lembar $20-an, kita berpuas2 ria icip2 sana sini sampai perut jadi bengkak. Inilah daftar makanan dan minuman yang kita coba dimulai dari awal: Jambalaya with Shrimp (Club Tavern), Padthai (Rising Sons Deli), Lobster Roll (Red Lobster), Prairie Fume Wine (Florsheim Winery), yang ini lupa namanya, pokoknya makanan afrika:Chicken and Carrot with Lentil (Buraka), Opor Ayam (Bandung Restaurant), Pina Colada Smoothie (Maui Wowi), Crab Rangoon (Ruby's), and Sweet Potato Fries (Daddy Rocks). Habis kenyang2 gitu, kita mampir ke Pe-We-Q alias Permias Welcoming BBQ untuk menyambut

Buat Pengunjung Weblog Yang Budiman

Salam jumpa buat anda semua yang lagi kebetulan mampir ke weblog saya ini. Saya tau kalau ada beberapa teman teman yang kerap mengunjungi weblog ini. Baik yang lagi iseng lewat maupun pengunjung setia, ayo ayo, silakan bagi bagi komen, pengalaman, ataupun kritik dan saran...Caranya, tinggal klik aja kok di bawah, "add comment". Saya memang bukan penulis sejati. Bahasa Indonesia maupun Inggris dua duanya sama sama belepotan. Yang saya tulis memang cuma pengalaman sehari hari kehidupan di negeri orang, dan juga curahan hati. Namun bila ada tulisan saya yang kira2 bisa menyentuh hidup anda baik secara positif maupun negatif, saya kepingin sekali dapet masukan yang berharga. Kali kali aja, tulisan saya bisa bikin anda tersenyum, atau bikin anda marah dan bete hahahha...(duh jadi inget bulan May lalu hehhehe...) Sok atuh, monggo, silakan.... Oom, tante, bapak, ibu, saudara, saudari.... PS: Turut berduka cita untuk para korban Hurricane Katrina. Duh, padahal gue dan yayang baru

Tabungan Berharga

Minggu lalu saat acara pemberkatan rumah dan syukuran Marco dan Ira, aku ketemu dengan Romo Yohanes dari Flores. Pada saat dia memperkenalkan diri, dia menyebutkan kalau dia dulu berasal dari Paroki Bidaracina. Itulah Paroki tempat aku menghabiskan 18 tahun pertama hidupku. Dan ingatanku langsung melayang ke sosok Papaku yang begitu aktif menjalankan hari2nya di gereja sebelum akhirnya Tuhan menjemput. Tak disangka, ternyata Romo Yohanes juga kenal dengan sosok ayahku. "Wow, Pak Yusuf Halim... tentu saja aku kenal. Dia aktif sekali di gereja..", begitu kalimat pertama yang dia ucapkan saat kusebut nama Papaku. Tak terasa sudah lebih dari empat tahun lalu Papa meninggalkan orang orang yang dicintai dan mencintainya. Namun masih banyak yang mengingat betapa besar kasih yang dia berikan untuk orang orang disekitarnya. Kadang saat aku kecil, aku merasa Papa memberikan waktunya sangat banyak untuk gereja. Aku ingat Mama dulu sempat cemburu dengan pembagian waktu yang Papa tentuka

Sarung Bantal

Semua orang di Indonesia, pasti tau yang namanya bantal guling. Bantal guling memang paling asik untuk menemani kita tidur. Apalagi kalau bantal gulingnya udah dipake kelamaan, sampe empuk empuk nggak jelas, tapi rasanya nikmat tiada tara pas dipelok. Kayaknya itu guling udah sampe mengikuti bentuk badan kita. Bantal guling saya yang satu ini saya namakan si letoy. Walaupun ada dua bantal guling sejenis dengan merek yang sama yang saya bawa dari Indonesia, tapi tetep aja, paling enak tetep si letoy, karena udah nemenin saya dari freshman, dan empuknya itu loh, udah pas banget deh! Tapi di Amerika sini, nggak ada yang tau namanya bantal guling. Orang sini taunya cuma body pillow: bentuk segi empat panjang, gedenya seamit amit, dan ngga enak dipake, dan yang satu lagi bolster: bentuk kayak guling, tapi pendek dan kecil, tujuannya cuman buat dekorasi doangan. Nah, bantal gulingnya aja nggak ada, gimana mau ada sarungnya? Nyari di Walmart kek, Target kek, K-mart kek, sampe dodol juga ngga

Enambelasagustusduaribulima

Hari ini, bertambah lagi satu tahun usiaku. Terima kasih Tuhan atas berkat berlimpah yang Kau berikan. Keluarga yang mencintaiku, dan teman teman yang mendukungku. Jadikanlah aku semakin bijaksana dalam menempuh setiap langkah hidupku. Jadikanlah aku semakin rendah hati untuk semua orang disekitarku. Buatlah aku mampu memberikan yang terbaik demi kemuliaan nama-Mu.

Americans and Bars

Jujur aja, kalo saya bukan orang yang paling hepi kalo diajak minum gratis di bar andalan temen2 kantor saya. Sementara temen2 bule saya menantikan dengan sukacita kapan bisa minum gratis dengan biaya perusahaan, saya menganggapnya biasa banget dan membosankan. Maklumlah, saya memang nggak bisa menikmati yang namanya alkohol. Bagi saya alkohol itu apalagi yang namanya beer, sangat2 ngga enak. Cuman pait2 di mulut, bikin kenyang, tau tau sehabis minum, kita jadi mabuk nggak jelas, pusing2, muntah, dan endupnya kita jadi hangover. Bagi saya, hangout dan beramah tamah itu nggak harus ke bar. Kan bisa aja kita dinner, makan dessert sama sama, lalu ngobrol2 sambil denger live music. Cuma namanya tradisi Amerika, terutama tradisi Wisconsin, nggak bakalan lengkap kalau tidak ada alkohol saat kita berkumpul. Berkumpul tanpa alkohol itu artinya: ke gereja dan bekerja hehehehhe... Sudah dua kali saya ada engagement di Madison, dan selama dua kali itu team saya selalu ke bar saat kamis malam. Ya

Madison oh Madison...

Hari ini, kembali saya kunjungi kota tercinta Madison, kota dimana saya menghabiskan 4 tahun pertama di Amerika. Suasananya nggak banyak berubah. Masih banyak rumah2 disewakan di sepanjang jalan sebagai apartemen untuk pelajar, pohon2nya masih rimbun di sekitar downtown area. Makan siang tadi, kita berjalan menyusuri State St. Ternyata, dalam waktu kurang dari satu tahun, lumayan banyak yang berubah. Toko Hallmark di pojokan sudah dibeli oleh Reebok. Sekarang renovasi atau lebih tepatnya modernisasi sedang dikerjakan. Ada satu toko lingerie baru, dengan santainya memamerkan pakaian dalam seksi yang dikenakan para mannequin. Pizza Hut buffet yang dulu sempat menemani beberapa kali makan siang sehabis gereja, ternyata sudah tidak eksis lagi. Di sudut antara Gorham dan State St, sebuah gereja Lutheran baru sedang dibangun dengan megahnya, dan menara tingginya yang terbuat dari tembaga sudah siap dipasang. Jimmy John, toko sandwich super cepat sudah membuka cabangnya di seberang Qdoba. Ad

Makan Gratissss, Siapa Takut ?

Setiap kali saya pergi ke luar kota dalam rangka bekerja, makan malam ditanggung oleh perusahaan. Selasa sampai jumat ini saya ada di Green Bay. Berarti ada kesempatan 3 kali untuk makan enak di hari selasa, rabu, dan kamis tanpa mengeluarkan dana pribadi. Memang enak rasanya bisa milih makanan yang kita suka tanpa perlu pikir panjang soal bayarnya. Apalagi perusahaan kasih limit yang cukup besar, paling nggak cukup untuk makan ribs/steak di tempat lumayan plus tip. Kali ini saya dan senior saya yang jangkung dan baik itu memutuskan untuk mencoba sesuatu yang baru bagi dia, dan di hari lain mencoba sesuatu yang baru bagi saya. Selasa kemarin, saya iseng membawa dia ke Thai restaurant. Dia belom pernah makan thai food sebelumnya. Kita pesen spring roll, tom yam kung, chicken panang curry, and volcano shrimp. Dia doyan tuh, dan dia bilang nggak pedes, pedahal pesennya medium loh. Dia say thank you karena udah ngenalin dia ke other culture...alamak, dasar bulee...begitu banyak thai resta

Dasar Leher Merah !

Minggu ini, saya kembali lagi ke daerah bagian utara yang permai alias Green Bay. Saya banyak sekali denger dari orang kalau di kota ini penduduknya agak agak gimana gitu sama orang Asia. Kalau versi bule bilang, mereka sebel dengan orang Asia, soalnya orang2 Hmong di utara sini sering cari gara2. Setiap Hmong festival, end upnya terjadi tawuran antar gank yang menyebabkan korban jiwa. Begitu tau bakalan ditugaskan kemari sebulan lalu, saya agak berjaga2 dan berharap gue nggak dapet perlakuan yang nggak enak. Maklum deh, di daerah sini kan dikit pisan orang Asianya. Seyemmm... Namun semuanya itu berubah saat pertama kali saya menginjakkan kaki di client di sini. Mulai dari resepsionisnya super ramah dan nyengir melulu, lalu orang2 di departemennya sendiri juga pada ngasal dan seru, dan resepsionis di hotel begitu bersahabat. Jadilah saya mulai agak jatuh cinta dengan Green Bay. 3 hari di bulan Juni lalu cukup menyenangkan. Dan begitu saya ditugaskan di sini lagi, gue excited meskipun

Noni mau jadi tukang masak ajaaa…(a.k.a. Dilema sehabis liburan)

Tahun 1999 hampir berakhir. Setiap orang sibuk dengan yang namanya Millenium. Segala sesuatu berbau millenium dikaitkan dengan yang silver2. Mobil warna silver, baju warna silver, sampe lipstick warna silver pun jadi ngetrend (sampe cewe2 yang jadi korban mode mulutnya kayak abis keracunan). Saat itu saya kelas SMA 3. Lagi sibuk2nya mempersiapkan segala sesuatu yang berbau kuliah. Milih universitas sudah pasti penting. Tapi yang susah itu milih jurusan. Kalau jurusan udah tau, kan jelas jadinya mau pilih sekolah yang mana. Bagi saya saat itu, semuanya serba blur, kelabu, nggak jelas lah pokoknya. Akhirnya di sekolah ada test penjurusan berdasarkan minat dan bakat. Tes IQ berkepanjangan kembali dilaksanakan, dan hasilnya: 1> teknik industri, 2> kedokteran. Duh, kalo ngambil teknik industri di Indonesia, kerja dimana saya nanti ? Kayaknya yang agak jelas itu kedokteran. Toh nothing to lose juga karena kalau ambil kedokteran di luar negeri, end upnya malah jadi sulit ngurus ijin kal

Masya ampun !

Tahun 1994 yang indah, dimana saat itu saya masih berseragam merah putih, dimulailah hunting untuk menentukan sekolah lanjutan tingkat pertama. Dengan pedenya, saya hanya mendaftar di 2 sekolah. Yang pertama sekolah yang kebetulan deket banget sama rumah saya, dan yang kedua sekolah favorite yang cewe2nya berseragam putih dan hijau kotak2 di daerah lapangan banteng yang katanya kalo malem2 banyak "kupu kupu" berkeliaran. Terus terang saya berharap bisa masuk ke sekolah yang kedua ini, karena katanya sih, kalo masuk sana pendidikannya disiplin banget, which is saya suka sekali... modelnya saya ini, kalo dikerasin malah makin berusaha mati2an. Test IQ selama 5 jam di sekolah itu saya jalankan dengan sepenuh hati, menyisakan perut lapar di sore hari dimana langsung saya isi dengan Bakmi GM yang yummy itu. Akhirnya saat pengumuman pun tiba. Setelah deg2an menunggu di mobil, nomor pendaftaran saya ternyata tercantum di papan besar di depan kantor pak satpam. Duh senengnya nggak k

Genduttt.... !!

Semalem saya nelepon Mama pas sebelom bobo. Saya nanya: "Ma, udah liat foto foto liburan yang aku kirim belom ?" Lalu nyokap menjawab: " Udah, kamu gendut banget sih, kapan kurusnya ???" Duh, pertanyaan yang sama, itu itu lagi, "KAPAN KURUSNYA". Udah dari kecil saya nggak mengenal yang namanya kurus. Dari lahir udah montok, sampe SD paling bongsor di sekolah. SMP dan SMA hanya diisi dengan mahluk sejenis yang menyebabkan saya agak2 cuek dengan bear badan. Pas saya kecil, saya suka sedih sendiri sih, kenapa yah, badan kok gede begini. Jujur aja, pas kecil itu saya makan bisa banyak banget. Pernah dulu makan pisang raja sereh sekali 7 biji pas kelas 1 SD. Cuma pas masih kecil kan lagi lucu2nya, bisa dimaklumi lah kalau agak agak gemuk sedikit. Tapi kenapa yah ini bisa kebawa sampe gede. Dulu inget banget, pas SD akhir pengen diet2an... makan dikurangi, tetep aja mbul. Saking keselnya, Papa sampe bilang: "Daripada kamu abisin makanan kamu, lebih baik Pa