Monday, October 13, 2014

Untuk Para Bridezilla

Tulisan ini saya dedikasikan khusus untuk para bridezilla, ex-bridezilla, dan semua yang mampir ke sini gara-gara nyari info soal kawinan. Hayo, pada ngacung! Saya tuh ngerasa pembaca di blog saya itu meningkat sejak saya nikah loh, alias sejak posting foto kawinan.

Banyak banget blogger yang jadi punya blog, gara-gara nyiapin kawinan. Katanya biar terkenang-kenang memori pada saat menyiapkan. Tapi yang sering terjadi adalah, kita kelewat kepingin perkawinan yang sempurna luar biasa, nyari-nyari vendor dan deal terbaik sampai kalap, dan ujung-ujungnya, CAPE! Berapa banyak saya liat calon pengantin di luar sana lelah banget saat mempersiapkan acara perkawinan yang cuma satu hari itu. Belum lagi penuh brantem dan drama-drama, yang seringkali justru mengancam kelangsungan hubungan itu sendiri. Dalam hidup saya ini, sudah banyak teman saya yang gagal menikah justru karena banyak selisih paham di saat mempersiapkan pernikahan.

Padahal, persiapan pernikahan itu merupakan hal yang seharusnya paling dinikmati loh. Waktu saya mempersiapkan perkawinan sendiri, saya merasa saat-saat itu nikmatnya minta ampun. Karena apa? Karena kita justru tidak menghabiskan akhir pekan kita yang berharga itu cuma untuk ngurusin vendor pernikahan semata. Kita lebih banyak pacarannya. Bayangin, kalau suami saya yang jemput saya dari Jakarta Barat, ngelewatin macet tol dalam kota ke Jakarta Timur untuk ngejemput saya, dan kita cuma ngurusin wedding vendors, geez, rugi banget. At that moment, there was almost no stressful moment. Ketemu vendor itu, bisa dihitung pakai jari, dan jari satu tangan doang! Sayangnya, ngga terlalu banyak yang mempersiapkan wedding bisa santai. Sering banget denger temen-temen curhat soal keribetan nyari vendor. Bukan cuma cewe yang curhat, cowonya juga curhat kalau cewenya banyak maunya.

Jaman saya mempersiapkan pernikahan itu sampai sekarang pun, kalau mau nyari vendor, cara yang ngetrend masih pameran wedding, dan forum. Dan kalau pembaca blog ini pernah liat posting saya sebelumnya, saya gak suka banget ke pameran wedding dan baca-baca forum yang bikin gila. Di dunia social media yang makin ganas ini, saya yakin orang-orang makin pada bingung untuk melihat banyak opsi yang tersedia. Beberapa waktu lalu, teman saya nulis di status Facebooknya, kalau foto preweddingnya dia (yang kebetulan diambil di Prague) di feature di instagramnya Bridestory, dan kayaknya dia seneng banget. Sebagai orang yang sudah nikah, saya biasanya gak gitu ambil pusing, tapi karena teman sendiri yang mentioned soal web itu, saya jadi tertarik, dan meluncurlah saya ke situ. Pas liat webnya, saya langsung mikir, coba dari dulu ya ada web macem Bridestory ini, jadi kan saya nggak sempet terjebak ke forum wedding yang isinya seringkali cuma banggain vendor sendiri dan jelekin vendor lain, ataupun terjebak di pameran wedding raksasa yang bikin saya nahan pipis gara-gara antrian kamar kecilnya kayak antri sembako.

Coba deh, buat yang belum nikah maupun yang udah nikah, mampir ke sana. Saya sendiri mampir, karena saya penasaran, feature apa sih yang bikin dia beda dari website perkawinan sejenis. Dan jujur nih, feature yang saya paling suka di Bridestory ini adalah adanya opsi milih vendor berdasarkan BUDGET! Berapa banyak coba, orang yang pusing tujuh keliling gara-gara kepentok budget pada saat nyiapin pernikahan. Sementara di Bridestory ini, kita bisa langsung lihat dan sortir. Kalau misalnya tanda $-nya satu artinya terjangkau, $$ artinya sedang, kalau tanda $$$, ya artinya lebih premium harganya. Itu baru satu. Belum lagi, pas buka halaman pertama aja, kita udah bisa dapetin gambar-gambar yang menyejukkan mata dari vendor-vendor yang akan diupdate berkala, dan tinggal di klik aja nama vendornya. 

Buat yang mau nyari inspirasi, dijamin pas buka Bridestory udah bikin kita feel inspired. Sebagai manusia yang sangat terstruktur dan sistematis, saya seneng liat tampilannya, karena kita juga bisa mengklasifikasi langsung berdasarkan jenis vendornya, misalnya mau bridal, catering, fotografi, tinggal di check and uncheck aja untuk mengkategorikan, langsung deh dia sortir otomatis sesuai yang kita mau lihat. Ademmmm...Feature lain yang saya suka adalah, untuk search vendor juga gampang banget, gak usah browsing-browsing sampai tulalit, tinggal masukin nama vendor di sisi kanan atas, terus langsung ada suggested pagenya. Langsung deh kontak sama si vendor, gak usah ribet. Ih enak banget deh! Lucky you buat para calon pengantin jaman sekarang. Itu sih yang menurut saya kepake banget sama saya ya. Saya sih yakin kalau kita ke sana, kita pasti bakal nemuin feature lain yang kita suka.

Kebetulan, beberapa vendor yang saya dulu gunakan juga ada di Bridestory. Nih saya jadi ngoprek foto-foto lama saya deh. Kali-kali bisa kasih inspirasi buat yang lain hihihi.

Yang ini namanya Ko Willy Wahyudi, dari W2 Hair and Make-Up yang ngedandanin saya biar hari itu jadi princess (biasanya preman)

Ini lobby dari lokasi resepsi kita Ritz Carlton, Mega Kuningan

Kalau ini dekorasi kita hasil karya dari Vica Decoration

Last but not least, itu yang nyempil lagi iseng motret kita di dalam lift, Edward dari Edward Suhadi Production
Jadi, buat para calon pengantin, selamat mencari vendor yang sreg di hati. Daripada makin banyak kamu ketemu orang, makin kamu mabok. mendingan liat aja portfolionya di Bridestory, kontak langsung, kalau cocok dengan selera dan harganya, tinggal janjian ketemu sekali dua kali, beres deh!

PS: Di bawah ini adalah analisa sotoy saya kenapa nama websitenya adalah Bridestory.

Yang paling ribet kalau nyiapin kawinan dan sampe udah kelar kawinan masih suka terbayang-bayang sama vendor dan masih suka ngecek-ngecek kawinan orang lain tuh pasti BRIDE-nya. Yang suka ngambek kalau nyiapin kawinan, itu pasti BRIDE-nya. Yang hobinya nawar minta ini ono sama vendor, pasti BRIDE-nya. Bride itu emang paling banyak punya story. Makanya nama websitenya Bridestory. Coba kalau groom, yang penting kalo kondangan: MAKAN! huauhahhaa... Makanya namanya bukan Groomstory kan? Plus, kagak ada tuh Groomzilla.

Bride oh bride....

Monday, October 06, 2014

Rekrut(e)men

Saya yakin banget, di antara anda-anda yang baca ini, pasti pernah ada yang jadi "korban" rekrutmen entahlah produk MLM, Asuransi, atau apapun sejenis itu dari temen sendiri, makanya postingan kali ini saya kasih judul rekrut(e)men.

Tidak pernah dalam hidup saya, saya ingin menjelekkan profesi apapun selama itu adalah profesi yang halal, termasuk juga orang yang bergelut dalam bidang Multi Level Marketing. Entah itu produknya berupa kosmetik dan alat-alat kecantikan, barang-barang kesehatan, atau apapun itu. Begitu pula untuk orang-orang yang bergerak di bidang asuransi. Menurut saya, jadi agen asuransi itu adalah hal yang baik, apalagi anda bisa membantu orang lain, dengan cara yang halal pula. Kalau moneygame, saya angkat tangan, karena menurut saya itu gak halal. 

Yang saya suka keki dari orang-orang yang bergelut di bidang itu adalah, cara-cara mereka merekrut orang yang kadang suka ngeselin! Kalau orang tersebut tidak saya kenal, ya sudah lah ya, kita dengan lebih mudah untuk menolak kalau diajak ketemuan. Tapi kalau orang tersebut adalah orang yang dekat bahkan sahabat kita, itu baru yang kadang agak repot. Seperti yang saya kemukakan sebelumnya di postingan Blunt v. Harsh, kalau di Indonesia kita mau blunt alias terus-terang kalau kita tidak suka dengan cara  mereka mendekati kita, nanti kita malah dibilang harsh. Repot kan? Jadi selama ini, saya berusaha banget untuk meladeni dan "ngikutin" mau mereka dulu. Biarlah mereka keki di akhir, tapi saya nggak kasar nolak mereka dari awal. Biar gimana, mereka ini adalah orang-orang yang dekat dengan saya.

Saya ceritain aja ya beberapa kejadian rekrut(e)men ini, mulai dari yang menyenangkan, sampai yang menyebalkan. Yang ada di sini, yang sudah terpilih aja ya hehehe. Kalau semuanya dijembrengin nanti kebanyakan. Saya anggap saja suatu kehormatan buat saya yang sering dicoba direkrut ini, artinya saya dianggap punya potensi untuk jadi "downline" (ataupun alasan lainnya bisa jadi karena sekarang saya mulai jadi pengangguran). 
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Maminya Temen Baik Ngajak Ketemuan

Waktu itu saya baru banget balik ke Indonesia, kemudian saya diajakin ketemuan sama temen saya dan maminya. Ketemuannya di salah satu gedung di daerah Thamrin situ di hari Sabtu pagi. Karena sudah lama nggak ketemu sama teman itu, jadilah saya berniat juga untuk ngobrol dan lepas kangen (sama temen saya ya, bukan sama maminya hahaha). 

Pas sampai sana, tau-tau saya diajakin ke sebuah seminar, daftar, duduk, yang saya nggak tau itu seminar apaan. Mendadak ada pembicaranya berbicara dengan semangat, yang tipenya, "APA KABAR??" Lalu seluruh peserta menjawab dengan teriak, "LUAR BIASA!! YES YES YES!!" Matek dah eike! Apaan sih ini? Ternyata ini seminar isinya adalah rekrutmen buat agen asuransi! Jadi ceritanya, ada beberapa orang bersaksi di situ, kalau dengan ikut asuransi tersebut, hidup mereka yang terpuruk sampai akhirnya bisa travel keliling dunia, beli mobil baru, pendapatan sekian miliar per tahun, dan lain-lain. Bukannya kenapa-napa sih, tapi saya kok berasa kejebak aja diajakin ketemuan temen-tapi akhirnya malah berujung pada kebengongan saya melihat orang-orang semangat teriak YES YES YES!! Totally not my thing at that moment.

Sesudah selesai seminar itu, maminya temen ngajak saya dan beberapa orang ke kantornya, dikasih segepok map mengenai recruitment plan, komisi, dan lain-lain. Saya kaget berat, dan saya bisa melihat kalau temen saya sendiri sebenernya mukanya menunjukkan rasa nggak enak hati. Saya sih tanggepi saja pas maminya ajak ngobrol, tapi jujur ngga ada yang masuk ke otak saat itu. Yang ada bawaannya saya pingin cepet kabur. 

Siang itu, saya lunch bareng sama temen saya. Berdua aja. Di situ dia nanya saya, apakah saya tertarik untuk join? Dia bilang, kalau dia sebagai anak mau nggak mau harus bantu maminya untuk merekrut orang baru. Tetapi di dalam hati kecilnya, kelihatan dia sendiri pun nggak terlalu suka ada di bidang itu. Saya bilang sama dia, kalau itu bukan bakat saya, saya sungguh gak tertarik. Tetapi teman saya ini cukup baik, dia milih mempertahankan persahabatan kita dan tidak mengejar saya lagi soal rekrutmen. Kalau kita ketemuan selanjutnya, dia sama sekali nggak pernah membahas soal itu dan menjadikannya kenangan masa lalu (yang kayaknya bikin dia nggak enak hati juga hehe).

Setahun berikutnya, saya lihat dia sendiri pun melepaskan urusan asuransi, dan membuka apa yang jadi passion dia yaitu e-commerce, dan ternyata sukses besar. Kalau ada yang langganan majalah business SWA, dia sudah masuk beberapa kali sebagai top 10 young entrepreneurs di Indonesia. Di situ saya lihat, kalau memang orang bakatnya bukan di MLM/ Asuransi, biar ortunya agen besar sekalipun, belum tentu mau ngikutin orang tuanya. 

Temen Kantor Punya Istri Yang Pengen Kenalan

Kejadiannya ini saat saya masih ngantor dulu. Saya punya temen baik di kantor. Posisi sudah lumayan tinggi, sudah sukses. Dan saya pun sering ngobrol sama orang ini baik di kantor maupun di luar kantor. Suatu hari, dia bilang istri dia kepingin kenalan sama saya. Saya pikir apa salahnya toh ya. Soalnya dia waktu itu nikah di Bali, jadinya nggak bisa undang semua orang kantor. Jadi kita janjian ketemuan after works, terus katanya mau lanjut dinner. 

Saat jam pulang kantor tiba, saya ketemuan sama istrinya di lobby. Temen saya sendiri katanya masih ada kerjaan di atas, jadinya saya ngobrol-ngobrol aja sama istrinya. Terus saya diajak jalan kaki ke gedung sebelah, dan diajak naik ke lantai atas. Katanya mau ditawarin produk wajah yang bagus banget. Dia nanya saya apa saya bisa tebak umur dia brapa. Ya berhubung saya udah kenal sama suaminya, ya saya tebak aja umur dia sekian. Dan ternyata bener! Gagal deh pancingan, padahal mungkin dia berharap saya nebak umurnya jauh lebih muda HWAHAHAHA... *ketawa ala genderuwo* 

Pas sampai di tempatnya, saya bingung, banyak banget ibu-ibu di situ, terus mereka kasak kusuk dan negur istri temen saya itu. Komennya, "Udah diamond ya? Tas Chanelnya keren banget. Asli ya." Dalam hati saya, habis deh ini, MLM nih kayaknya, mana ada diamond-diamond-an kalau bukan MLM. Setelah itu, saya diajakin untuk test kulit, katanya supaya nanti produknya itu bisa diapply dan langsung bisa dilihat perubahannya. Jadi saya diminta hapus bedak pakai pembersih, supaya gak ketutupan sisa make up. Begitu saya test kulit, dia berharap bakalan ketemu keriput, flek hitam, dan lain-lain, supaya nanti efek produknya langsung keliatan. Apa daya, pas habis test, ternyata hampir gak ada problem ditemukan di kulit saya! Dia sendiri nampak cukup putus asa saat itu. Tapi tetep dong, harus apply produk di sisi kulit sebelahnya, supaya keliatan katanya beda kanan dan kiri. Ternyata lagi, setelah diapply, gak keliatan bedanya sisi kanan sama sisi kiri. CAPEK GAK SIH?

Akhirnya si suami nyusul. Terus si suami bilang gini ke istrinya, "Apa gue bilang, dia mah kulitnya baek-baek aja, gak bisa ditawarin produk. harus ditawarin yang lain." Haduh, mulai makin mencium gelagat gak enak nih saya. Habis gitu, acara dilanjutkan sama dinner, di restoran yang cukup bagus di Jakarta. Mulai deh tuh, baik istri maupun suami, ngerayu saya ikutan dia jualan, dan merekrut banyak orang. Ngomongin keuntungannya sekian-sekian, didukung pula oleh suaminya yang saya tau penghasilannya udah tinggi, dengan bilang, "Lu percaya gak Le, istri gue ini penghasilannya lebih tinggi dari gue." Saya he-eh he-eh aja dah, sambil terus ngeganyem. Maklum laper. Padahal omongannya rada masuk kuping kanan, keluar kuping kiri. 

Jadilah, malam itu, plan suami istri gagal total. Pertama, jelas saya nggak butuh produknya. dan kedua, jelas saya emang gak tertarik ditawarin jadi agen MLM, walaupun produknya eksklusif. Tapi itung-itung, saya dapet makan gratis deh. Asik! Tapi setelah itu, rasanya kok hubungan kita jadi menjauh dan jarang kontak-kontakan lagi sampai sekarang. Huks!

Sahabat Baik Saya Hampir 20 Tahunan, Kangen Ingin Ketemu

Yang terakhir ini, sebenarnya agak sulit saya ceritakan, karena dia ini adalah kawan baik saya dari masih SMP. Tetapi kenapa saya nekad cerita, karena menurut saya, ada batas antara business dan persahabatan yang garisnya itu sudah memudar yang membuat suasana jadi kurang enak. 

Setelah kawan saya ini menikah di tahun 2007, rumah dia jadi jauh di bilangan Jakarta Barat, sementara saya masih di bilangan Jakarta Timur. Kemudian saat saya mau melahirkan di akhir 2012, saya juga pindah di bilangan Jakarta Barat. Sehabis saya melahirkan, dia kontak saya, katanya mau nengok, karena rumahnya dekat sekarang, dan juga kangen sama saya sudah lama nggak ketemuan. Waktu itu dia akhirnya datang ke rumah saya, sama suami dan anak-anaknya, sekalian nengok. Saya sendiri senang sekali sudah lama nggak bersua sejak resepsi pernikahan saya di 2011. Jadi rasanya kepingin banget catch up. 

Beberapa minggu setelah dia nengok itu, dia kontak saya lagi di Whatsapp. Katanya kangen mau lihat Abby, jadi kepingin datang lagi ke rumah. Saya pun bersedia dia datang ke rumah, karena pas pertemuan pertama juga belum bisa ngobrol banyak. Saat itu saya terima dengan senang hati, dan yang saya bingung dia datang bersama suaminya. Jadi ya mau cerita gimana juga ya, namanya ada suaminya mana bisa bebas? Dari ngobrol mulai ngalor ngidul, saya mulai digambari ini itu soal investasi, soal penyakit kanker, dan lain-lain, dan ujung-ujungnya nawarin asuransi. Mulai dari asuransi kesehatan, pendidikan, unit link, jiwa, segala macam produk deh.

Suasana mulai tidak nyaman, karena saat itu saya masih menyusui langsung setiap 1 jam sekali, dan mereka nggak mau pulang-pulang! Saya sampai repot menyusui di rumah sendiri harus pakai apron, dan sesudah lebih dari 3 jam, mereka tetap masih ngendon di rumah. Mertua saya waktu itu dateng, dan mereka masih tetep nggak mau pulang juga loh! Hebat nggak tuh. Saya sampai ngga enak hati karena mertua saya agak cuekin. Akhirnya saya capek, saya bilang saya butuh istirahat dan makan siang dulu. Baru deh mereka pulang.

Saya pikir semuanya sudah selesai. Setiap kali dia Whatsapp saya, bawaan saya jadinya deg-degan, ngeri mau ditawarin ini itu lagi. Sesudah setahun lebih cuma ngobrol basa basi di Whatsapp, kira-kira dua bulan lalu, dia kontak saya lagi, katanya kangen sama Abby dan pingin main ke rumah. Waduh, gawat dalam hati saya. Terus saya bilang aja kalau mau ketemuan, gimana kalau saya saja yang main ke rumah dia, toh saya sudah jadi IRT jadi bisa nyetir siang-siang. Tapi dia nolak, dan akhirnya dia nawarin untuk ketemuan di mall. Saya bersyukur banget bisa pindahkan lokasi ke mall. Setidaknya saya tau kalau di mall, nggak bakalan bisa lama-lama juga. Akhirnya kita ketemuan di food court, ngobrol-ngobrol, lalu dilanjutkan ke area bermain anak. Kebetulan di sana dia ketemu dengan kawan lain, dan saat itu sudah jam tidur siang Abby. Suasananya juga sangat berisik, sehingga tidak nyaman. Lalu saya pamit sama dia, saya bilang Abby mau bobok siang. Toh kita juga sudah lebih dari 2 jam ketemuannya. Hore! Gak ditawarin apa-apaan hihihi.

Di saat (lagi-lagi) saya pikir semua sudah selesai, seminggu lalu teman saya itu kontak lagi hari Rabu pagi-pagi. Dia bilang hari itu juga mau main ke rumah saya. Saya bilang saya nggak bisa karena mau nganter kado, ada teman yang mau lahiran (Mel O), udah keburu janji mau anter. Lagian kok mau dateng, ngasih taunya mendadak. Terus dia nanya, Kamis bisa nggak? Saya bilang saya ada di rumah, tapi saya mau sambil baking karena mertua saya anniversary. Terus dia bilang, kalo gitu Jumat pagi bisa nggak? (gile ngga nyerah-nyerah). Akhirnya saya bilang bisa. Gak enak kan ditembak terus sampai ketemu kata "bisa". 

Jumat itu, pagi-pagi banget dia udah nelepon saya lagi, padahal saya masih tidur. Tau-tau dia udah di depan aja gitu loh! Saya cuma sempat sikat gigi lalu nemuin dia. Dan saudara-saudara... dia nggak pulang-pulang aja gitu! Sampai sudah mau jam makan siang! Luar biasa nggak sih? Lagi-lagi dia datang sama suaminya, ngobrol ngalor ngidul, tapi disisipin, "Menurut lu, investasi yang bagus itu sekarang apa, Le?" Langsung saya jawab, "Properti." Terus dia mulai ngomong lagi ngalor ngidul, terus mendadak dia nanya, "Menurut lu, pekerjaan seperti yang gue dan suami gue lakukan gimana, Le?" 

Saya jawab, "Pekerjaan lu dan suami itu bagus banget. Buat orang-orang yang berbakat dan punya passion di bidang itu, pekerjaan lu itu sangatlah menghasilkan. Bahkan gue tau banyak orang-orang di sekitar gue yang sukses menjalankan pekerjaan sebagai agen asuransi. Elu berdua adalah contohnya. Tetapi memang tidak semua orang mempunyai bakat yang sama di bidang itu, bahkan gue punya temen pun, ada yang ortunya sangat sukses dan punya agency besar, tetapi anaknya tidak mau nerusin karena tidak punya passion." Lalu saya cerita dikit soal teman saya yang tadi saya ceritakan itu, yang sekarang punya e-commerce. 

Saya tambahin, "Kalau gue, gue sama sekali nggak bisa. Gue sudah sering ditawarkan, bahkan ikutan seminarnya, dan gue merasa awkward. Itu bukan dunia gue. Tapi itu adalah dunia kalian berdua. Kalian cocok dan punya bakat." Teman saya dan suaminya itu manggut-manggut. Saya pikir bakalan kelar loh, ternyata masih belum mau pulang juga. Padahal udah tiga jam lebih hu hu hu. Saat itu perut saya sudah krucukan, maklum belum sarapan. Akhirnya saya ijin, saya mau ke dapur untuk menghangatkan nasi dan sayur untungnya masih ada sisa sayur semalam, bayangin biasanya saya masak loh, hari itu sampai belum sempat masak karena meladeni agen asuransi. Akhirnya saat saya mulai ke belakang, ambil-ambil sayur dari kulkas dan angetin di microwave, mereka baru mulai mau pamit on LUNCH TIME! Phewww.... 

Bayangin, sudah dua kali ke rumah buat nawarin asuransi dan merekrut, sudah dua kali pula berjam-jam ngga mau pulang. Saya sih salut dengan persistensi mereka. Tapi sekarang saya merasa persahabatan saya bisa jadi di ujung tanduk. Saya sudah bilang sama diri saya sendiri, sekali lagi dia kontak saya untuk ketemuan, saya mau bilang sama dia, tolong untuk sama sekali tidak bicara soal asuransi, investasi, apapun itu. Saya lebih senang kita membahas petualangan masa kecil kita, masa remaja kita, membahas guru-guru kita, ataupun membahas soal anak-anak. Please, I don't want to put our friendship at stake. :(

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Temanku, kalau seandainya kamu sempet baca ini, mungkin kamu mengerti, kalau tidak semua orang nyaman diperlakukan seperti itu. Buat seluruh agen-agen, asuransi ataupun MLM, ataupun apapun, saya mengerti banget kalau kalian itu usaha terbesarnya bukan jualan, tetapi merekrut orang. Saya tau kamu ingin income yang besar, berkeliling dunia, punya mobil mewah, punya warisan. Saya mengerti buanget-buanget karena dulu saat seminar itu, kita diajarkan untuk mengajak siapa saja yang kita kenal. Tetapi tolonglah, jagalah hubungan baikmu dengan beberapa orang jika menurutmu itu berharga. Jangan sampai kamu kehilangan persahabatan baik cuma karena kamu ingin extra income. Coba-coba rekrut boleh, tapi lihatlah batasannya. Sahabat baik itu susah dicari, lebih susah dari pada nyari downline!

There you go, I said it. 

Friendship is always a sweet responsibility, never an opportunity ~ Khalil Gibran

Wednesday, September 24, 2014

Abby Tamasya Ke Bali - Bagian 2

Sekarang kita lanjut ke bagian dua ya. Bagian satu dari seri Abby Tamasya Ke Bali, bisa dilihat di sini.

Minggu, 14 September 2014

Setelah makan malam, kita check in di hotel kita untuk tiga hari dua malam ke depan yaitu, Conrad Bali. Kenapa saya pilih hotel ini? Karena saya tau, saya nggak akan kecewa. Saya pernah menginap di sini saat liburan tahun 2006 lalu dan puas sekali. Hotel ini adalah tempat saya pertama kali membawa Mama dan adik saya liburan di Bali saat saya mampu menghasilkan uang sendiri dari pekerjaan formal pertama saya. Jadi sudah jelas, membawa memori yang indah bagi saya. Dulu bersama Mama dan adik, kali ini bersama suami dan anak. Cerita tahun 2006 lalu bisa dibaca di sini. Tapi harap maklum nggak ada fotonya. Maklum tahun segitu blognya pun masih rada abal-abal hahah (lah, sekarang juga abal2, Non!). Dibandingkan dengan hotel yang kemarin, memang harga kamar di sini on the steep side, tetapi worth the service and the experience. Masih lebih banyak lagi hotel yang jauh lebih mahal daripada ini. FYI, ratenya dimulai sekitar IDR 3 mio/ night including breakfast. Tapi namanya hotel, ratenya berubah-ubah terus, apalagi kalau high season, makanya mendingan langsung di cek ke webnya.

Ukuran minimal kamar di sini adalah 45m2, dengan amenities yang sangat baik dan lengkap. Semua kamar dilengkapi dengan balcony kecuali yang lantai 1 ada opsi langsung ke pool atau istilahnya lagoon. Lobby terletak di lantai 3, dan kamar kita ini ada di lantai 4. Di Bali, kalau di tepi pantai, biasanya lantai tertinggi untuk hotel-hotel baru adalah 4 lantai, karena tidak boleh melebihi tinggi pohon kelapa.

King size bed, lengkap dengan baby cot. Eh iya, housekeeping masuk kamar itu dua kali sehari. Kalau pagi mereka beresin kamar, kalau sore, mereka akan masuk lalu menyiapkan keset dan sandal di sebelah ranjang kita.  Sisi kanan itu pintu menuju balcony, sisi kiri ada pintu geser ke kamar mandi. Kalau lagi honeymoon, buka aja terus, sambil berendem bisa sambil ngobrol sama yang nongkrong di atas ranjang hihihi...

Jarak dari ranjang ke televisi dan meja rias lumayan besar, Abby girang banget pas masuk kamar ini, dan langsung "do the business" if you know what I mean. Betah dia hahahaha.

Huge tub, dengan shower room di sebelah kiri, 

Nah pintu satu lagi yang burem-burem itu, adalah toilet. Jadi terpisah antara shower dan toilet, mirip dengan Hilton Bandung.

Perlengkapan mandinya semua dari Aromatheraphy Associates

Yang mengejutkan saya adalah perhatiannya terhadap amenities untuk si kecil. Ada popok, sabun mandi, wipes, shampoo, baby oil, bedak, bahkan sampai ke bib! Selimut anaknya juga halus.

Buah gratisan, lengkap pakai salak Bali.

Selutuh tehnya dari Twinings dengan berbagai rasa, dan pressernya maupun tekonya dari Bodum. Talking about details!

Anak-anak akan mendapatkan tas dari Kura-Kura Kids Club, lengkap dengan topi, dan voucher eskrim. Kalau monyetnya itu memang boneka ciri khas Conrad Bali. Di negara lain pakai Teddy Bear, hanya di Bali yang monyet dan bersarung :)

Sekali lagi, attention to detail! Ada payung, tote bag untuk membawa perlengkapan renang/ berjemur, bathrobe batik, dan juga, obat nyamuk! 
Waktu kita sampai itu, sudah di atas jam 10 malam, jadi kita cuma bisa foto interior aja. Ini juga karena ada yang request nih buat difoto-fotoin *wink sama yang request hihi*. Tapi lumayan juga jadinya ya ada kenangan.

Senin, 15 September 2014

Pagi-pagi bangun, langsung buka balkon dan ambil foto hehe. Sayangnya, karena kamar di lantai empat, dan pohon kelapa tingginya = 4 lantai, jadi deh, pemandangan depan kamar ketutupan pohon kelapa hauahhahaha.. Padahal itu di belakang pohon kelapa langsung pemandangan pantai loh! Gak apa-apa deh, tinggal ngesot juga buat ke pantainya hihihi.

Balkonnya lumayan luas untuk ngeteh/ ngopi cantik 

Nah tuhkan, beneran tuh, pohon kelapa tingginya tepat selevel sama kamar kita hihihi. Kelihatankah pasir pantainya? 
 Bangun tidur itu, kita langsung sarapan dulu tanpa ada yang mandi, soalnya rencana abis sarapan  langsung mau nyebur ke kolam renang. Puas-puasin deh main airnya!

Liat deh, ada yang baru bangun, langsung digantiin baju dan diajak sarapan hahaha. Gayanya minta ampun, ngerti kalo tasnya kudu dicantolin. Padahal isinya cuma botol air.

Perjalanan menuju Suku restaurant di lantai 1 dilakukan via lantai 3, dan kita lihat pemandangain ijo royo-royo khas Bali

Lengkap dengan air mancur yang menyejukkan walaupun cuaca panas.

Keren nggak gaya rambut saya Om dan Tante? Jebrik fresh from the bed!

Hari ini Abby breakfastnya habis 2 pancake, 1 sosis dan sepertiga croissant. Lumayan deh ya!
Yang saya suka dari Suku Restaurant ini adalah, walaupun ramai dan luas, tetapi egg stationnya ada empat, sehingga tidak ada customer yang harus menunggu lama! Yes empat, tiga yang biasa, dan satu yang halal. Jadi kalau yang biasa itu ham-nya pakai pork, kalau yang halal pakai beef. Kemudian ada lagi station pork sausage dan pork bacon yang dipisah dari deretan makanan lain. Jadi buat teman-teman yang Muslim kalau mau kemari, aman deh, karena jelas banget. Tau sendiri kan Bali kebanyakan sedianya daging babi. Dan satu lagi yang spesial adalah, adanya made-to-order breakfast yang sudah termasuk di dalam breakfastnya.

Kalau mau omellete bisa langsung ke egg station, tapi ternyata bisa juga pesan Egg Benedict, poached egg, dan boiled egg dari menu! Belum lagi ada European and Japanese breakfast juga. Tapi saya nggak pesan, udah cukup deh ambil yang dari buffetnya.

Kalau breakfast pemandangannya gini, asik juga kan hihihi...

Sekarang ngerti kenapa anak ini ngga bisa konsen pas breakfast? Lah udah nggak sabar untuk berenang!

Lari-lari terus ke kanan dan ke kiri! Tapi sabar dulu ya Nak, Papa Mama masih makan.

Ini dia poolnya kalau dilihat dari bar di lantai 3. Gimana nggak mau nyemplung??
 Setelah balik ke kamar untuk ganti baju, kita siap nyemplung!

Kolam renangnya itu sangat-sangat kids friendly, kalau masuk dari pinggir, akan dimulai dari area berpasir.

Kemudian pelan-pelan jadi kolam renang biasa. Kolam renangnya pun sangat family oriented, semuanya dalamnya 1.2M saja.

Main poolnya ada di tengah (di balik kursi-kursi), dan dikelilingi oleh kolam juga yang disebut lagoon yang bisa ditelusuri dari ujung ke ujung. 

Somebody is very ready to swim!

Masuk air, girangnya ampun-ampunan!

Asikkk... mama juga ikutan seneng karena udah lama ngga jadi kudanil alias nyentuh air

Biar panas yang penting asoy

Kolam pinggirnya luas kan? Tuh yang coklat bawahnya masih pasir, jadi lumayan Abby bisa latihan jalan di pasir.
Cuaca hari itu panasnya terik sekali, jadinya kita nggak jalan ke pantai untuk berjemur karena kata Papa Abby pasirnya panash! Untungnya di kolam ada pasir juga, jadinya Abby tetap bisa main sama pasir dan keruk-keruk.

Serius amat Dek ngeruk pasirnya

Biar dekil yang penting hepi!
Tapi tetap dong, ngintip-ngintip ke pantai yang sebenernya langsung sebelah kolam.

Walkway menuju pantai. Di sebelahnya itu ada open concept restaurant. Romantis juga kali ya kalau dinner di situ hihi. Kalau bawa baby mah jadi gak terlalu romantis :P

Walkway lain dari pantai ke kompleks hotel, ijo banget. Seneng liatnya. Jadi pengen punya rumah berhalaman luas *abis gitu mikir gimana ngurusnya*

Bahkan tamu hotel juga lebih milih di kompleks hotel daripada langsung jemuran di pasirnya.

Pemandangannya kok kapal TNI semua ya? Emangnya lagi mau perang apah?
Sehabis puas berenang dan main pasir, hari itu kita lanjutkan perjalanan ke Ubud. Papa Abby yang jagoan neon itu, ternyata bisa juga nyetir di jalan berkelok-kelok di Bali dan sampai ke tujuan. Saya aja mabok! Siang itu kita makan di Warung Murni. Eh, kok Warung lagi? Hahahaha... Warung Murni di Ubud ini suasananya tenannnggg banget, dengan pemandangan lembah. Suasana juga adem, pelayanan bagus, dan yang jelas, makanannya enak!

Abby manis banget ya di sini hihihi. Di sebelah kita itu adalah lembah yang curam. Ijo dan sejuk.

Tapi pas foto sama mama, malah angkat-angkat HP!

Nasi Ayam Tutu (alias Ayam Betutu). Ayamnya dimasak selama lebih dari 8 jam, rasanya resep banget! Plus kita juga dikasih kuah on the side untuk dimakan bareng nasinya. Manteb lah.

Nasi Campur Bali, lengkap dengan daging babi dan daging ayam. Kalau versi halal bisa pesan daging sapi. Sambel matahnya segar.

Sate sapi yang empuk dan lezat

Yang ini mashed potato dengan milk and cheese, dipesankan khusus untuk Abby. Dan..anaknya GAK MAU! Jadi lagi-lagi balik ke kentang goreng. Ada apakah gerangan dengan Abby yang biasanya doyan makan?

Es Cendol Bali dengan nangka. Lebih encer tapi lebih cocok untuk saya, karena nggak terlalu begah jadinya.
Jadi kalau ke Warung Murni itu, agak mirip dengan Four Seasons Hotel Ubud ya konsepnya. Jadi kita masuk dari lantai paling atas, dan kita makin turun step by step untuk ke dining roomnya. Saya sendiri tadi makan di lantai paling bawah.

Nah keliatan kan kalau saya tadi turun dari tangga itu.

Patung Dewa Wisnu, dengan latar belakang lembah

Lantai atasnya ada lounge dan bar

Sofa nyaman untuk konkow-konkow sambil memandang lembah

Lantai paling atas warungnya

Bagian depan dari Warung Murni. Keliatan sederhana ya? Tapi ternyata dalamnya bagus banget (dan harganya gak gitu sederhana hahahaha)

Jembatan cantik di depan Warung Murni. Ubud ini memang sejuk dan suasana pedesaannya dapet banget ya!
Sore itu, kita mengejar sunset ke Tanah Lot. Kalau kata Ibu waitress yang di Warung Murni, kayaknya gak bakalan keburu. Tapi somehow Papa Abby yakin kalau masih keburu. Yah dia lebih tau areanya ya daripada saya. Dan dalam perjalanan ke Tanah Lot itu, kita kan jalannya belok-belok terus nggak karuan. Saya sendiri memilih untuk merem-merem aja. Kata suami, saya sampe ketiduran. Sementara Abby sendiri gak bisa tidur karena tadi dari hotel ke Ubud dia udah tidur nyenyak. Pas saya bangun dari ketiduran itu, saya lihat Abby gelisah, kemudian kayak mau ngeluh, tapi nggak bisa ngomong. Kemudian saya taruh dia di pangkuan saya di mobil, dan JACKPOT!!! Goodbye lunch yang dimakan dengan susah payah. Untungnya saya siap bawa baju ganti Abby, dan juga tissue basah sudah siap untuk bersih-bersih. Ternyata, kata suami, sejak dari Ubud, Abby udah ngoceh-ngoceh kayak ajak dia ngomong, tapi saya nggak denger karena ketiduran. Rupanya, Abby MABOK DARAT! Sehabis dia jackpot dan nangis keras, mendadak wajahnya happy, happy banget kayak beban alias rasa eneg sudah lewat. Phewww... dan untungnya lagi, kita sudah dekat dengan Tanah Lot. Tapi, apa kita masih sempat kejar sunset?


Akhirnya, gendongan Aprica Fitta kepake juga!! Gak sia-sia dibeli dulu! *selama ini belum pernah dipake jalan-jalan huahahahaha*
Sampai di Tanah Lot, kita langsung menuju ke atas bukit, tempat di mana ada cafe-cafe dan resto untuk kita menikmati sunset. Soalnya kalau ngandelin tempat gratisan, yang ada kita akan berjubel kayak semut, dan kasian si unyil. Jadi mama Abby dengan kekuatan Ayam Betutu, mendaki dan sampai di atas dengan selamat hihihi *lebay*

Tuh kan, ajaib kan? Abis jackpot di jalan, anaknya bisa happy banget gini.

Turis-turis, mostly foreigners, lagi nangkring nungguin sunset. FYI, ibu yang di foto ini yang lagi tumpang tangan, demennya minta ampun sama Abby. Sampai sesudah matahari terbenam, dia nyamperin Abby khusus untuk ngajak ngomong dan muji-muji kalau Abby itu beautiful and adorable. Emaknya jadi ikut senang deh :)

Yay! Mataharinya belum terbenam, masih nangkring di garis atas pantai. Mission accomplished!

Satu-satunya foto bertiga yang mendingan, difotoin sama turis Jepang.

Anddd... the sun is set

Loh, Abby tangannya kemana? Hihihi

Pas kita turun ke bawah, masih tetap banyak orang nangkring di tepi pantai

The colors of tukang dagang. Kalau malam warnanya makin kelihatan
Dari Tanah Lot, kita lanjut untuk makan malam di daerah Seminyak. Kali ini, menunya favorite saya dong, yaitu Mexican Food! Kita menuju ke Taco Casa. Taco Casa ini cabangnya ada juga di Ubud, tapi yang pertama ada di Seminyak. Restaurannya kecil, tetapi sibuk dan yang jelas, my oh my, semua ingredientsnya, segarrr! Very recommended!

Open kitchen, lengkap dengan seluruh bahan terpampang. Jadi ingat dengan Chipotle (buat yang pernah tinggal di US pasti tau Chipotle)

Nacho Grande. Generous portion!

8 Layers Burrito with Beef for me

8 Layers Burrito with Chicken for Papa Abby
Very fresh lime juice. Kalau ngga inget kalau ini family trip, mungkin pesen margarita huahahaha.


Abby sendiri, dipesenin nasi putih, dan kita suwirin ayam, tapi ngga mau makan juga :(. Dia cuma mau nyemilin Nachos. Pulang dari sini, mampir KFC dulu for the rescue! Padahal udah cape banget, tapi demi anak hahahaha. And guess what, kita malam itu memecahkan misteri, kenapa Abby ngga mau makan. Ternyata dia lagi tumbuh gigi, sekali tumbuh banyak banget sampai graham belakang! Mystery was found! But was not solved yet hehe. Pantesan aja dia berasa ngga nyaman kalau makan.

Selasa, 16 September 2014

Last day in Bali. Hu hu hu... masih pengen liburan. Kok liburannya bentar amat sih!

Abby sih mau ngambil semua. Tapi yang dimakan 1 piece of cake dan 1 piece of hashrown. Donat cuma diisep-isep gulanya haha. Pasrah deh.

Foto makan sosis dalam keadaan sopan. Aslinya gragas haha. Itu kanan telor dadar dipesen khusus buat Abby.

Gerakan Tutup Mulut berlanjut, walaupun sudah disogok eskrim. Padahal eskrimnya enak banget. Gimana ortunya ga mau tambah gendut ini, ngabisin pesenan anaknya.
Sebelum pulang, harus main lagi di kolam, alias ngga mau rugi. Yuk nyemplung kembali!

Langsung semangat kalau jalan masuk ke kolam.

Mama juga ikutan happy

Papa juga mau difoto posenya sama

Ealah, ada pasangan Korea lagi foto prewed!!
Eh iya, ada hal menarik nih tentang turis Korea. FYI, hotel ini tuh isinya 95% turis asing. Pas saya nginap di sana, kalau lihat dari yang breakfast, turis Indonesianya cuma ada saya, sama ada satu bapak-bapak bawa anak. Untuk foreignersnya banyak Japanese and Koreans plus Caucasian. Kalau Caucasian and Japanese itu, jangan ditanya deh, di pinggir pantai langsung buka lapak dan berbikini, doesn't matter bentuk body kayak apaan. Tapi kalau turis Korea, especially Korean Moms, semuanya pada pakai baju renang lengan panjang, dan berenang sambil pakai topi! Mereka not even mau bener-bener berenang loh, rata-rata suaminya yang nyemplung, istrinya main-main air aja dikit. Bener-bener takut item! Sebegitunya kah saking mau melindungi kulit? Atau jangan-jangan takut lumer? *gak penting ya benernya haha*


Kalau pergi ngga bawa anak, kebayang leyeh-leyeh di sini, ngga mikirin mesti makan jam berapa. Kalo sekarang, anak pasti lari-larian entah kemana hahahaha.

Very nice and quiet

Haiiii!!

Harus foto di pantai pokoknya!! Harus! Biar panas kayak apapun! Hihihi

Siap-siap pulang deh. Huks!
Setelah check-out, kita berangkat makan siang ke Laota yang sudah terkenal dengan buburnya yang nikmat banget.
Bubur Seafood dengan dua porsi cakwe

Sapo Tahu Seafood ala Hong Kong. Lettucenya masih krenyes-krenyes

Demi anak, pesen Kerapu Asam Manis, saos dipisah. Ehhhh cuma dimakan 3 potong. -_-

Terakhir sebelum terbang, makan tempe goreng di Lounge Ngurah Rai Airport. 

Eh iya, gossip lagi dikit. Lounge Airport ini, walaupun makin lama makin diketatkan yang bisa masuk (alias kartu kreditnya makin terbatas), manusianya seringkali ajaib-ajaib. Contohnya kemarin ini, ada ibu-ibu, mentang-mentang bisa ambil makan sepuasnya, ngambilnya tuh kayak gunung! Belum lagi ngambil lemper sampai lima biji, kue-kue berbiji-biji. Dan yang bikin nyeseknya lagi, ngga diabisin! Sementara tau sendiri di beberapa lounge airport, apalagi di daerah, makanannya keluarnya slowwww banget, dan banyak yang ga kebagian. Kapan ya orang-orang bisa mengubah sikap kayak gini, biar lebih toleransi gitu.

Sepanjang perjalanan pulang, as usual, Abby bobo lagi di pesawat, jadi ngga ada drama-drama kuping sakit atau nangis di perjalanan. Hallelujah! Pulang pergi, dua-duanya mulus.

Sampai Soetta, Abby laper, makan oatmeal cookies buatan mama. Trus kita nunggu koper lama banget! Eh gak taunya, Angkasapura salah taro nomer pesawat di layar baggage claim beltnya, dan koper kita ternyata ada di belt sebelah. Soetta oh Soetta... cape deh!
Saya lupa mentioned sebelumnya, kalau perjalanan tamasya kali ini, adalah perjalanan kami kali pertama tidak bawa Suster dan tidak bawa pre-prepared food. Kebetulan pas Sus sakit thypus selama dua minggu itu, bikin kami latihan juga untuk urus Abby sendiri, dan ternyata we could do it! Kapok ngga liburan bertiga aja? Ya jelas ngga! Walaupun ada drama GTM (yang ternyata karena tumbuh gigi), perjalanan kami ini diberkati banget. Semua rencana kami terlaksana, timingnya tepat, cuacanya baik, kami sehat dan selamat semua, intinya sih God is great!

Demikianlah edisi Abby Tamasya ke Bali kali ini, ditunggu edisi Abby Tamasya selanjutnya ya!

PS: Garuda, kapan sih pulang pergi ke Bali  pas masuk pesawatnya naik belalai, masak sampe sekarang masih naik bus dan tangga terus sih :(... *lirik ke Ooh-nya Abby*

Share It