Wednesday, October 22, 2014

Make It Personal, Different, But Not Tacky ~ Another Post for Bridezilla

Selamat ya rakyat Indonesia, untuk Presiden barunya, Pak Joko Widodo dan wakil presiden barunya, Pak Jusuf Kalla. Dan di bulan penuh BER-BER-BER alias musim kawinan ini, semoga Presiden dan Wakil Presiden baru kita juga banyak diberikan BERkah oleh Tuhan, sehingga menjadi BERkat untuk bisa membawa rakyat Indonesia menjadi BERsatu, BERdaulat, adil dan makmur.

Tau nggak sih kenapa Pak Jokowi dianggap sebagai angin segar di dunia politik Indonesia bahkan di dunia? Karena, Pak Presiden kita yang satu ini mirip sama judul saya di atas, yaitu PERSONAL (alias pendekatannya sangat membumi terhadap orang-orang di sekitarnya, sangat pribadi), DIFFERENT (berbeda dari presiden yang kita punyai selama ini, sehingga kita sampai dibuat terpana dan mengingat gerak-geriknya), tapi NOT TACKY (tacky = bad taste, alias selera jelek. Semua pilihan Pak Jokowi dilakukan secara seksama serta mempunyai alasan tersendiri yang justru membuat kita kagum).

Nah, event lima tahunan sekali aja, Pak Jokowi kepingin bikin yang sangat berkesan untuk rakyatnya. Apalagi kalau para pengantin ingin nyiapin acara yang cuma sekali seumur hidup, alias kawinan, saya yakin seyakin-yakinnya, kalau semua orang kepingin acara nikahannya berkesan. Masih nyambung dengan postingan saya minggu lalu soal milih-milih vendor dan perkenalan saya dengan Bridestory, saya kepingin banget berbagi cerita soal pilihan-pilihan kecil yang saya buat saat saya menikah dulu, yang saya usahakan banget supaya memenuhi prinsip Personal, Different, and Not Tacky yang saya kemukakan di atas. Dan yang terpenting, sebenernya untuk memenuhi prinsip di atas, tidak membutuhkan biaya extra loh, melainkan melakukan pilihan yang tepat. Tapi kalau menurut para pembaca di sini, saya masih kelewat general, dan similar sama yang lain, plus tetep tacky, maafkanlaaahhhh.... (pake nada lagu Inul Daratista-Goyang Inul).

1. Cincin Pernikahan

Waktu jaman saya menikah dulu, yang lagi ngetrend adalah, cincin nikah bermerek terkenal (macam C*rtier atau B*lgari) atau cincin dengan mata berlian. Kalau duitnya extra, kata "atau" tadi ditukar dengan kata "dan" hihihi. Saya sendiri sempat mampir ke Plaza Indonesia di mana cincin bermerek tersebut di jual, tetapi pada akhirnya merasa, kok jadi mirip-mirip dengan orang lain dan terasa seperti beli merek. Padahal cincin ini kan dipakai seumur hidup. Kalau datang ke toko perhiasan, rata-rata ditawari cincin bermata. Baik yang permatanya kicik2 asal ada kilap, sampai yang permatanya besar. Kemudian saya dan suami mikir, dulu orang tua kita memakai cincin nikah itu rata-rata simpel dan mulus. Tetapi kalau kita bikin yang super polos juga nggak seru. Akhirnya kita sepakat bikin dengan bahan polos sama seperti cincin nikahan orang tua kita, tapi pakai emas putih, dengan grafir nama di luar, mirip-mirip cincinnya Lord Of The Rings, tapi tulisannya adalah nama dan tanggal pernikahan kita. Nunggunya memang lama sampai 5 bulan lebih karena digrafir bukan di Indonesia, tapi kita puas sama hasilnya, dan surprisingly, lebih murah daripada budget planning kita! IHIY! 

Nah, keliatan ya tanggalnya. Gak berasa udah mau tiga tahun aja kita nikah

2. Buku Misa

Kalau bikin buku panduan misa (untuk yang Katolik), biasanya itu bukunya disusun oleh pengantin, lalu isinya difotokopi, dan dikasih cover cantik yang dipesan di tukang undangan. Rata-rata lagu hanya diketik terkadang ada liriknya, terkadang tidak ada liriknya, dan rata-rata lagu-lagunya sering memakai lagu-lagu sekuler (alias sebenarnya  lagu pop, tetapi dipakai di gereja). Jujur saya agak prihatin sih, kok bisa-bisanya di gereja entrancenya pakai lagu soundtrack Twilight. Untuk pernikahan saya waktu itu, saya benar-benar memilih lagu yang sudah disetujui oleh gereja Katolik (gabungan antara Puji Syukur dari Indonesia dan Gather Book dari Amerika) supaya kesakralan tetap terjaga. Kemudian untuk lagu yang berbahasa Inggris, saya tuliskan terjemahan dari lagu tersebut, supaya umat bisa membaca apa maksud dari lagu tersebut dan menyadari keindahan dari kata-katanya, bukan hanya sekedar indah didengar. Sebagai pencinta musik dan lirik, saya sungguh menghargai karya besar para composer, jadi tidak lupa juga saya cantumkan nama composer dan arranger-nya. Lebay ya? Biarin deh! Tapi hati puas. Daaannn seluruh lembarannya gak pakai fotokopi, melainkan dicetak off-set printing, pakai tinta warna ungu tua! Huahahahaha....

3. Mobil Pernikahan

Sudah sejak lama saya mengidamkan naik mobil pengantin warna merah. Orang tua saya pas menikah di tahun 1981 dulu memakai Mercedes Tiger warna merah cabe. Kalau orang Tionghoa bilang, warna merah itu melambangkan prosperity and happiness, dan kepinginnya, mobilnya antik, Kalau perlu di Jakarta cuma ada satu-satunya! Pertama kita dapat mobil Chevrolet Bel Air tahun 1957 convertible berwarna merah, dan hati sudah seneng banget, sampai kira-kira sebulan sebelum nikah, mendadak ownernya telepon saya, kalau mobil tersebut ditawar oleh seorang Jendral, dan dia tak kuasa menolak. Metong deh, apa kita mesti ngulang lagi car hunting dari awal? Eh dasar rejeki nggak kemana, ownernya bilang, beliau akan ganti dengan mobil kesayangannya dia, yang selama ini belum pernah disewakan ke orang lain.... dan mobilnya ternyata warnanya merah hati! We finally had the red car! Ayo, di Jakarta ada lagi nggak selain yang ini? 

1940 Ford Deluxe di depan hotel pas suami mau brangkat jemput saya. Sangar gak?
4. Souvenir

Kalau kita milih souvenir, menurut saya cuma satu kuncinya. Golden rules. Tanyakan pada dirimu sendiri, apakah kamu akan senang menerima souvenir tersebut jika kamu datang ke nikahan orang lain. Walaupun buat beberapa orang souvenir mungkin tidak terlalu penting, tetapi itu adalah salah satu hal yang akan dibawa pulang sebagai pengingat kalau kamu menghargai kedatangan tamu tersebut (selain tentunya konsumsi yang melimpah ruah, bakalan diingat terus. Kalau konsumsi kurang, apalagi diingetnya double hahahaha). Cerita soal souvenir saya, bisa dilihat di sini. Dan sampai saat ini, banyak yang udah jadiin kainnya itu baju atau rok. Plus kalau ada teman yang habis melahirkan, surprisingly pas saya nengok beberapa ada yang pakai sarungnya. Jadi berasa seneng juga!

5. Prosesi Masuk Resepsi

Kalau soal ini, saya bukan cuma mau ngomong soal gimana cara kita masuknya, tetapi juga soal pemilihan lagunya. Kalau bisa nih, saran aja, pilih lagu jangan karena lagu tersebut terdengar keren atau grand semata, atau ikut-ikutan yang lagi  ngetrend saat itu, contohnya "I Finally Found Someone" (a.k.a "THIS IS IT... OHHH.." song) atau "A Thousand Years" yang udah saya denger (ibaratnya) a thousand times. Pilihlah lagu yang benar-benar berkesan untuk kita dan pasangan kita, serta kita berdua secara tulus suka dengan lagu tersebut. Untuk prosesi masuk wedding kami, kami milih lagu yang bener-bener sesuai dengan apa yang dirasain dalam masa pacaran kita, yaitu bahwa kita berdua ini memang "Accidentally in Love", alias ngga sengaja jatuh cinta. Makanya lagu Counting Crows tersebut kita pilih jadi entrance song kita, dimainkan secara live (alias gedumbrengan) oleh band, untuk mengiringi bridesmaids, groomsmen, dan pasangan pengantin tak tahu malu berjoged goyang gergaji dan goyang kayang... TARIK MANGGG!

Habis ini gayanya lebih parah.... ini baru permulaan. Bener deh, ga boong!
Dan setelah entrance yang ajaib (dan agak tak terkendali itu), tamu-tamu malah jadi penasaran apa acara selanjutnya...

6. Nyanyi Bareng

Walaupun suara saya kayak comberan, dan suara suami suka false, tapi kami lumayan hobi menyanyi. Masih inget waktu dia pertama kali ngajak saya karaoke, dia nyanyi lagu "Can You Feel The Love Tonight"-nya Elton John, tapi hampir gak ada nada yang pas huahahaha *buka aib*. Malam itu, kami juga pingin menghibur tamu-tamu yang sudah menyempatkan diri hadir ke resepsi kami. Kedua mempelai nyanyi mah udah biasa dong ya? Tapi kalo mempelainya duet nyanyi lagu NAIF? Siapa yang nyangka di kawinan Leony, dia nyanyinya lagu Naif? Saya mah yakin penonton mikir saya bakalan nyanyi lagu Celine Dion atau Mariah Carey! *halah, kayak nyampe aja, Non* Nah lagi-lagi balik ke pemilihan lagu yang bener-bener personal dan ngena banget di kita, sehingga kita nyaman banget pas nyanyi walaupun kita bukan penyanyi professional. Siapa yang nyangka ternyata lagu Naif ini romantis banget. 

Karena Kamu Cuma Satu - Naif

Kau yang paling setia, kau yang teristimewa
Kau yang aku cinta, cuma engkau saja

Dari semua pria, aku yang juara
Dari semua wanita, kau yang paling sejiwa

Denganmu semua air mata, menjadi tawa sukaria
Akankah kau selalu ada, menemani dalam suka duka
Denganmu aku bahagia, denganmu semua ceria
Janganlah kau berpaling dariku, kar'na kamu cuma satu... untukku

Kau satu-satunya, dan tak ada dua 
Apalagi tiga, cuma engkau saja

Denganmu semua air mata, menjadi tawa sukaria
Akankah kau selalu ada, menemani dalam suka duka
Denganmu aku bahagia, denganmu semua ceria
Janganlah kau berpaling dariku, kar'na kamu cuma satu... untukku

Suwer deh... kamu cuma satu untukku! CIYUS!
7. First Dance

Lemme tell you guys and girls... first dance ini bukanlah acara wajib cuma supaya keliatan keren pas di foto. Saya tuh udah sampe cape ngeliat pengantin first dance cuma biar keliatan gaya ada dancenya, karena.... anda akan keliatan kaku kayak robot! Namanya aja first dance, jadi first dance itu adalah pembuka untuk second dance, third dance, dan seterusnya sampe tepar... Jadi jangan cuma dijadiin formalitas aja. Menurut saya, jadinya kurang asik dan kurang sincere. Seringkali sehabis first dance kaku tersebut, pengantin balik ke pelaminan...and that's it. Malah masih ada acara salam-salaman dan foto-foto, and the dance itself never came back. *padahal seringkali saya gatel pengen goyang kaki karena bandnya bagus*. First dance saya saat itu, yang nyanyi adalah adik saya. Lagunya "Cinta Terakhir" dari Ari Lasso. Dari dulu adik saya semangat banget, pokoknya cici nikah, dia mo nyanyi lagu itu. Kita enjoy banget dancenya, lumayan santai, walaupun kita berdua bukan penari. Ngaco-ngaco koreo jadi ngga gitu keliatan. Setelah itu, baru dilanjutkan dengan acara seseruan yang gak ada seriusnya.

Yang ini namanya gaya sweetheart, cocok buat mesra-mesraan  ngeliat bulan di langit
8. Lempar Bunga dan Garter Belt

Satu lagi tradisi yang saya agak bingung dari orang Indonesia adalah, adanya bagi-bagi hadiah di saat kawinan. Sebenarnya, tradisi awalnya itu adalah lempar bunga. Konon yang dapat bunganya bisa enteng jodoh. Dapet bunga aja udah syukur alhamdullilah, eh ini masih ditambah hadiah lagi. Lebih ekstrim lagi, buketnya dari duit! Ckckckck... Yang lebih anehnya, lempar bunga itu mestinya khusus untuk wanita-wanita lajang loh, dan maksudnya supaya enteng jodoh! Laki-laki nggak termasuk. Tetapi di Indonesia, baik laki-laki maupun perempuan, semuanya rebutan bunga, sehingga rata-rata yang dapat tuh laki-laki karena loncat dari jauh, pakai gaya American Football/ Rugby, sambil nyeruduk orang demi sebuket bunga (dan tentunya sejumlah hadiah). Belum lagi, ada juga yang bagi-bagi boneka, lalu yang dapet malah dikerjain di panggung sama MC-nya. Jadi esensi dari tradisi tersebut hilang begitu saja. Di nikahan saya sendiri, saya bagi dua crowdnya. Untuk yang wanita lajang, ikutan lempar bunga, dan untuk yang laki-laki lajang ikutan lempar garter belt. This is a tradition, if we wanna do it, do it right! Jangan cuma gara-gara mau kasih hadiah/ doorprize, kita jadi seenaknya. Justru gara-gara saya ngikutin tradisi aslinya, malah jadi kelihatan beda. Bingung kan? Hahahaha...

Si Abang lagi nyari harta karun buat dilempar ke para pria lajang hwehehehehe
9. After Party

You can have all the alcohol in the world, but making people dance and have fun in your party is another story. Jadi gini ya bapak, ibu, sodara-sodari sekalian, saya sudah beberapa kali diundang ke acara pernikahan yang ada after partynya, dan instead of dancing the night away sambil minum dan seseruan, seringkali yang ada DJ-nya mainin musik sendiri dan dicuekin, orang-orang cuma duduk-duduk aja sambil minum dan ngerokok (hoek) dan begitu bride and groomnya masuk, yang ada mereka muter-muter sambil foto-foto sama temen-temennya sambil toast-toast-an, kemudian diakhiri dengan cekok-cekokan alkohol sampe teler. Nobody actually danced! Kalau ngadain after party jangan cuma karena gengsi atau ikut-ikutan. Hawanya gak dapet! Namanya party, masak isinya cuma cekok-cekokan alkohol sih? Itu dia yang bikin saya lama-lama jadi males ikut after party, soalnya cuma beberapa kali yang bener-bener kita berasa fun, where the fun was not only from the alcohol. Waktu saya dan suami memutuskan untuk mengadakan after party (dan mendapat restu orang tua), kita memutuskan kalau kitalah yang harus menjadi motor dari after party itu sendiri. Kita harus dance, ngajak orang-orang seneng, kalau perlu waktu itu sampai nyeker karena keasyikan dance. Lightingnya mumpuni, jadi orang kebawa asik, sound system juga harus oke (plus ngga ada rokok). Ada yang got drunk? Ya ada, masak gak ada. Tetapi kita semua masih enjoy dan ngga ada tuh yang namanya cekok-cekokan minum. Dan tolak ukur dari after party yang sukses adalah.... 

OM SAYA SENDIRI AJA IKUT JOGED!!! 

Canda euy hihihihi... Maap ya Om :P

Nah, segitu deh kira-kira my Personal, Different, but Not Tacky parts of my wedding. Itu yang saya lagi inget sekarang ya. Intinya sih, nggak masalah ngikutin orang lain, asal jangan karena kamu mau ngikutin orang lain, ujung-ujungnya justru kamu gak jadi dirimu sendiri, dan memaksakan diri. Sebagai contoh, kamu bisa ambil inspirasi banyak sekali dari Bridestory, dan kamu bisa saja naksir vendor ini itu dan kontak langsung ke masing-masing vendor, karena Bridestory bikin nyari vendor jadi lebih mudah. Tetapi untuk menjadikannya spesial, kamu buatlah acaramu itu sesuai dengan kepribadian kamu. Remember, this is not about spending too much money, but making the right decision. Having more options to see and to inspire in Bridestory, will help you and your partner in determining which one that will fit your personality, in the end the decision is yours. Do it wisely.

Monday, October 13, 2014

Untuk Para Bridezilla

Tulisan ini saya dedikasikan khusus untuk para bridezilla, ex-bridezilla, dan semua yang mampir ke sini gara-gara nyari info soal kawinan. Hayo, pada ngacung! Saya tuh ngerasa pembaca di blog saya itu meningkat sejak saya nikah loh, alias sejak posting foto kawinan.

Banyak banget blogger yang jadi punya blog, gara-gara nyiapin kawinan. Katanya biar terkenang-kenang memori pada saat menyiapkan. Tapi yang sering terjadi adalah, kita kelewat kepingin perkawinan yang sempurna luar biasa, nyari-nyari vendor dan deal terbaik sampai kalap, dan ujung-ujungnya, CAPE! Berapa banyak saya liat calon pengantin di luar sana lelah banget saat mempersiapkan acara perkawinan yang cuma satu hari itu. Belum lagi penuh brantem dan drama-drama, yang seringkali justru mengancam kelangsungan hubungan itu sendiri. Dalam hidup saya ini, sudah banyak teman saya yang gagal menikah justru karena banyak selisih paham di saat mempersiapkan pernikahan.

Padahal, persiapan pernikahan itu merupakan hal yang seharusnya paling dinikmati loh. Waktu saya mempersiapkan perkawinan sendiri, saya merasa saat-saat itu nikmatnya minta ampun. Karena apa? Karena kita justru tidak menghabiskan akhir pekan kita yang berharga itu cuma untuk ngurusin vendor pernikahan semata. Kita lebih banyak pacarannya. Bayangin, kalau suami saya yang jemput saya dari Jakarta Barat, ngelewatin macet tol dalam kota ke Jakarta Timur untuk ngejemput saya, dan kita cuma ngurusin wedding vendors, geez, rugi banget. At that moment, there was almost no stressful moment. Ketemu vendor itu, bisa dihitung pakai jari, dan jari satu tangan doang! Sayangnya, ngga terlalu banyak yang mempersiapkan wedding bisa santai. Sering banget denger temen-temen curhat soal keribetan nyari vendor. Bukan cuma cewe yang curhat, cowonya juga curhat kalau cewenya banyak maunya.

Jaman saya mempersiapkan pernikahan itu sampai sekarang pun, kalau mau nyari vendor, cara yang ngetrend masih pameran wedding, dan forum. Dan kalau pembaca blog ini pernah liat posting saya sebelumnya, saya gak suka banget ke pameran wedding dan baca-baca forum yang bikin gila. Di dunia social media yang makin ganas ini, saya yakin orang-orang makin pada bingung untuk melihat banyak opsi yang tersedia. Beberapa waktu lalu, teman saya nulis di status Facebooknya, kalau foto preweddingnya dia (yang kebetulan diambil di Prague) di feature di instagramnya Bridestory, dan kayaknya dia seneng banget. Sebagai orang yang sudah nikah, saya biasanya gak gitu ambil pusing, tapi karena teman sendiri yang mentioned soal web itu, saya jadi tertarik, dan meluncurlah saya ke situ. Pas liat webnya, saya langsung mikir, coba dari dulu ya ada web macem Bridestory ini, jadi kan saya nggak sempet terjebak ke forum wedding yang isinya seringkali cuma banggain vendor sendiri dan jelekin vendor lain, ataupun terjebak di pameran wedding raksasa yang bikin saya nahan pipis gara-gara antrian kamar kecilnya kayak antri sembako.

Coba deh, buat yang belum nikah maupun yang udah nikah, mampir ke sana. Saya sendiri mampir, karena saya penasaran, feature apa sih yang bikin dia beda dari website perkawinan sejenis. Dan jujur nih, feature yang saya paling suka di Bridestory ini adalah adanya opsi milih vendor berdasarkan BUDGET! Berapa banyak coba, orang yang pusing tujuh keliling gara-gara kepentok budget pada saat nyiapin pernikahan. Sementara di Bridestory ini, kita bisa langsung lihat dan sortir. Kalau misalnya tanda $-nya satu artinya terjangkau, $$ artinya sedang, kalau tanda $$$, ya artinya lebih premium harganya. Itu baru satu. Belum lagi, pas buka halaman pertama aja, kita udah bisa dapetin gambar-gambar yang menyejukkan mata dari vendor-vendor yang akan diupdate berkala, dan tinggal di klik aja nama vendornya. 

Buat yang mau nyari inspirasi, dijamin pas buka Bridestory udah bikin kita feel inspired. Sebagai manusia yang sangat terstruktur dan sistematis, saya seneng liat tampilannya, karena kita juga bisa mengklasifikasi langsung berdasarkan jenis vendornya, misalnya mau bridal, catering, fotografi, tinggal di check and uncheck aja untuk mengkategorikan, langsung deh dia sortir otomatis sesuai yang kita mau lihat. Ademmmm...Feature lain yang saya suka adalah, untuk search vendor juga gampang banget, gak usah browsing-browsing sampai tulalit, tinggal masukin nama vendor di sisi kanan atas, terus langsung ada suggested pagenya. Langsung deh kontak sama si vendor, gak usah ribet. Ih enak banget deh! Lucky you buat para calon pengantin jaman sekarang. Itu sih yang menurut saya kepake banget sama saya ya. Saya sih yakin kalau kita ke sana, kita pasti bakal nemuin feature lain yang kita suka.

Kebetulan, beberapa vendor yang saya dulu gunakan juga ada di Bridestory. Nih saya jadi ngoprek foto-foto lama saya deh. Kali-kali bisa kasih inspirasi buat yang lain hihihi.

Yang ini namanya Ko Willy Wahyudi, dari W2 Hair and Make-Up yang ngedandanin saya biar hari itu jadi princess (biasanya preman)

Ini lobby dari lokasi resepsi kita Ritz Carlton, Mega Kuningan

Kalau ini dekorasi kita hasil karya dari Vica Decoration

Last but not least, itu yang nyempil lagi iseng motret kita di dalam lift, Edward dari Edward Suhadi Production
Jadi, buat para calon pengantin, selamat mencari vendor yang sreg di hati. Daripada makin banyak kamu ketemu orang, makin kamu mabok. mendingan liat aja portfolionya di Bridestory, kontak langsung, kalau cocok dengan selera dan harganya, tinggal janjian ketemu sekali dua kali, beres deh!

PS: Di bawah ini adalah analisa sotoy saya kenapa nama websitenya adalah Bridestory.

Yang paling ribet kalau nyiapin kawinan dan sampe udah kelar kawinan masih suka terbayang-bayang sama vendor dan masih suka ngecek-ngecek kawinan orang lain tuh pasti BRIDE-nya. Yang suka ngambek kalau nyiapin kawinan, itu pasti BRIDE-nya. Yang hobinya nawar minta ini ono sama vendor, pasti BRIDE-nya. Bride itu emang paling banyak punya story. Makanya nama websitenya Bridestory. Coba kalau groom, yang penting kalo kondangan: MAKAN! huauhahhaa... Makanya namanya bukan Groomstory kan? Plus, kagak ada tuh Groomzilla.

Bride oh bride....

Monday, October 06, 2014

Rekrut(e)men

Saya yakin banget, di antara anda-anda yang baca ini, pasti pernah ada yang jadi "korban" rekrutmen entahlah produk MLM, Asuransi, atau apapun sejenis itu dari temen sendiri, makanya postingan kali ini saya kasih judul rekrut(e)men.

Tidak pernah dalam hidup saya, saya ingin menjelekkan profesi apapun selama itu adalah profesi yang halal, termasuk juga orang yang bergelut dalam bidang Multi Level Marketing. Entah itu produknya berupa kosmetik dan alat-alat kecantikan, barang-barang kesehatan, atau apapun itu. Begitu pula untuk orang-orang yang bergerak di bidang asuransi. Menurut saya, jadi agen asuransi itu adalah hal yang baik, apalagi anda bisa membantu orang lain, dengan cara yang halal pula. Kalau moneygame, saya angkat tangan, karena menurut saya itu gak halal. 

Yang saya suka keki dari orang-orang yang bergelut di bidang itu adalah, cara-cara mereka merekrut orang yang kadang suka ngeselin! Kalau orang tersebut tidak saya kenal, ya sudah lah ya, kita dengan lebih mudah untuk menolak kalau diajak ketemuan. Tapi kalau orang tersebut adalah orang yang dekat bahkan sahabat kita, itu baru yang kadang agak repot. Seperti yang saya kemukakan sebelumnya di postingan Blunt v. Harsh, kalau di Indonesia kita mau blunt alias terus-terang kalau kita tidak suka dengan cara  mereka mendekati kita, nanti kita malah dibilang harsh. Repot kan? Jadi selama ini, saya berusaha banget untuk meladeni dan "ngikutin" mau mereka dulu. Biarlah mereka keki di akhir, tapi saya nggak kasar nolak mereka dari awal. Biar gimana, mereka ini adalah orang-orang yang dekat dengan saya.

Saya ceritain aja ya beberapa kejadian rekrut(e)men ini, mulai dari yang menyenangkan, sampai yang menyebalkan. Yang ada di sini, yang sudah terpilih aja ya hehehe. Kalau semuanya dijembrengin nanti kebanyakan. Saya anggap saja suatu kehormatan buat saya yang sering dicoba direkrut ini, artinya saya dianggap punya potensi untuk jadi "downline" (ataupun alasan lainnya bisa jadi karena sekarang saya mulai jadi pengangguran). 
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Maminya Temen Baik Ngajak Ketemuan

Waktu itu saya baru banget balik ke Indonesia, kemudian saya diajakin ketemuan sama temen saya dan maminya. Ketemuannya di salah satu gedung di daerah Thamrin situ di hari Sabtu pagi. Karena sudah lama nggak ketemu sama teman itu, jadilah saya berniat juga untuk ngobrol dan lepas kangen (sama temen saya ya, bukan sama maminya hahaha). 

Pas sampai sana, tau-tau saya diajakin ke sebuah seminar, daftar, duduk, yang saya nggak tau itu seminar apaan. Mendadak ada pembicaranya berbicara dengan semangat, yang tipenya, "APA KABAR??" Lalu seluruh peserta menjawab dengan teriak, "LUAR BIASA!! YES YES YES!!" Matek dah eike! Apaan sih ini? Ternyata ini seminar isinya adalah rekrutmen buat agen asuransi! Jadi ceritanya, ada beberapa orang bersaksi di situ, kalau dengan ikut asuransi tersebut, hidup mereka yang terpuruk sampai akhirnya bisa travel keliling dunia, beli mobil baru, pendapatan sekian miliar per tahun, dan lain-lain. Bukannya kenapa-napa sih, tapi saya kok berasa kejebak aja diajakin ketemuan temen-tapi akhirnya malah berujung pada kebengongan saya melihat orang-orang semangat teriak YES YES YES!! Totally not my thing at that moment.

Sesudah selesai seminar itu, maminya temen ngajak saya dan beberapa orang ke kantornya, dikasih segepok map mengenai recruitment plan, komisi, dan lain-lain. Saya kaget berat, dan saya bisa melihat kalau temen saya sendiri sebenernya mukanya menunjukkan rasa nggak enak hati. Saya sih tanggepi saja pas maminya ajak ngobrol, tapi jujur ngga ada yang masuk ke otak saat itu. Yang ada bawaannya saya pingin cepet kabur. 

Siang itu, saya lunch bareng sama temen saya. Berdua aja. Di situ dia nanya saya, apakah saya tertarik untuk join? Dia bilang, kalau dia sebagai anak mau nggak mau harus bantu maminya untuk merekrut orang baru. Tetapi di dalam hati kecilnya, kelihatan dia sendiri pun nggak terlalu suka ada di bidang itu. Saya bilang sama dia, kalau itu bukan bakat saya, saya sungguh gak tertarik. Tetapi teman saya ini cukup baik, dia milih mempertahankan persahabatan kita dan tidak mengejar saya lagi soal rekrutmen. Kalau kita ketemuan selanjutnya, dia sama sekali nggak pernah membahas soal itu dan menjadikannya kenangan masa lalu (yang kayaknya bikin dia nggak enak hati juga hehe).

Setahun berikutnya, saya lihat dia sendiri pun melepaskan urusan asuransi, dan membuka apa yang jadi passion dia yaitu e-commerce, dan ternyata sukses besar. Kalau ada yang langganan majalah business SWA, dia sudah masuk beberapa kali sebagai top 10 young entrepreneurs di Indonesia. Di situ saya lihat, kalau memang orang bakatnya bukan di MLM/ Asuransi, biar ortunya agen besar sekalipun, belum tentu mau ngikutin orang tuanya. 

Temen Kantor Punya Istri Yang Pengen Kenalan

Kejadiannya ini saat saya masih ngantor dulu. Saya punya temen baik di kantor. Posisi sudah lumayan tinggi, sudah sukses. Dan saya pun sering ngobrol sama orang ini baik di kantor maupun di luar kantor. Suatu hari, dia bilang istri dia kepingin kenalan sama saya. Saya pikir apa salahnya toh ya. Soalnya dia waktu itu nikah di Bali, jadinya nggak bisa undang semua orang kantor. Jadi kita janjian ketemuan after works, terus katanya mau lanjut dinner. 

Saat jam pulang kantor tiba, saya ketemuan sama istrinya di lobby. Temen saya sendiri katanya masih ada kerjaan di atas, jadinya saya ngobrol-ngobrol aja sama istrinya. Terus saya diajak jalan kaki ke gedung sebelah, dan diajak naik ke lantai atas. Katanya mau ditawarin produk wajah yang bagus banget. Dia nanya saya apa saya bisa tebak umur dia brapa. Ya berhubung saya udah kenal sama suaminya, ya saya tebak aja umur dia sekian. Dan ternyata bener! Gagal deh pancingan, padahal mungkin dia berharap saya nebak umurnya jauh lebih muda HWAHAHAHA... *ketawa ala genderuwo* 

Pas sampai di tempatnya, saya bingung, banyak banget ibu-ibu di situ, terus mereka kasak kusuk dan negur istri temen saya itu. Komennya, "Udah diamond ya? Tas Chanelnya keren banget. Asli ya." Dalam hati saya, habis deh ini, MLM nih kayaknya, mana ada diamond-diamond-an kalau bukan MLM. Setelah itu, saya diajakin untuk test kulit, katanya supaya nanti produknya itu bisa diapply dan langsung bisa dilihat perubahannya. Jadi saya diminta hapus bedak pakai pembersih, supaya gak ketutupan sisa make up. Begitu saya test kulit, dia berharap bakalan ketemu keriput, flek hitam, dan lain-lain, supaya nanti efek produknya langsung keliatan. Apa daya, pas habis test, ternyata hampir gak ada problem ditemukan di kulit saya! Dia sendiri nampak cukup putus asa saat itu. Tapi tetep dong, harus apply produk di sisi kulit sebelahnya, supaya keliatan katanya beda kanan dan kiri. Ternyata lagi, setelah diapply, gak keliatan bedanya sisi kanan sama sisi kiri. CAPEK GAK SIH?

Akhirnya si suami nyusul. Terus si suami bilang gini ke istrinya, "Apa gue bilang, dia mah kulitnya baek-baek aja, gak bisa ditawarin produk. harus ditawarin yang lain." Haduh, mulai makin mencium gelagat gak enak nih saya. Habis gitu, acara dilanjutkan sama dinner, di restoran yang cukup bagus di Jakarta. Mulai deh tuh, baik istri maupun suami, ngerayu saya ikutan dia jualan, dan merekrut banyak orang. Ngomongin keuntungannya sekian-sekian, didukung pula oleh suaminya yang saya tau penghasilannya udah tinggi, dengan bilang, "Lu percaya gak Le, istri gue ini penghasilannya lebih tinggi dari gue." Saya he-eh he-eh aja dah, sambil terus ngeganyem. Maklum laper. Padahal omongannya rada masuk kuping kanan, keluar kuping kiri. 

Jadilah, malam itu, plan suami istri gagal total. Pertama, jelas saya nggak butuh produknya. dan kedua, jelas saya emang gak tertarik ditawarin jadi agen MLM, walaupun produknya eksklusif. Tapi itung-itung, saya dapet makan gratis deh. Asik! Tapi setelah itu, rasanya kok hubungan kita jadi menjauh dan jarang kontak-kontakan lagi sampai sekarang. Huks!

Sahabat Baik Saya Hampir 20 Tahunan, Kangen Ingin Ketemu

Yang terakhir ini, sebenarnya agak sulit saya ceritakan, karena dia ini adalah kawan baik saya dari masih SMP. Tetapi kenapa saya nekad cerita, karena menurut saya, ada batas antara business dan persahabatan yang garisnya itu sudah memudar yang membuat suasana jadi kurang enak. 

Setelah kawan saya ini menikah di tahun 2007, rumah dia jadi jauh di bilangan Jakarta Barat, sementara saya masih di bilangan Jakarta Timur. Kemudian saat saya mau melahirkan di akhir 2012, saya juga pindah di bilangan Jakarta Barat. Sehabis saya melahirkan, dia kontak saya, katanya mau nengok, karena rumahnya dekat sekarang, dan juga kangen sama saya sudah lama nggak ketemuan. Waktu itu dia akhirnya datang ke rumah saya, sama suami dan anak-anaknya, sekalian nengok. Saya sendiri senang sekali sudah lama nggak bersua sejak resepsi pernikahan saya di 2011. Jadi rasanya kepingin banget catch up. 

Beberapa minggu setelah dia nengok itu, dia kontak saya lagi di Whatsapp. Katanya kangen mau lihat Abby, jadi kepingin datang lagi ke rumah. Saya pun bersedia dia datang ke rumah, karena pas pertemuan pertama juga belum bisa ngobrol banyak. Saat itu saya terima dengan senang hati, dan yang saya bingung dia datang bersama suaminya. Jadi ya mau cerita gimana juga ya, namanya ada suaminya mana bisa bebas? Dari ngobrol mulai ngalor ngidul, saya mulai digambari ini itu soal investasi, soal penyakit kanker, dan lain-lain, dan ujung-ujungnya nawarin asuransi. Mulai dari asuransi kesehatan, pendidikan, unit link, jiwa, segala macam produk deh.

Suasana mulai tidak nyaman, karena saat itu saya masih menyusui langsung setiap 1 jam sekali, dan mereka nggak mau pulang-pulang! Saya sampai repot menyusui di rumah sendiri harus pakai apron, dan sesudah lebih dari 3 jam, mereka tetap masih ngendon di rumah. Mertua saya waktu itu dateng, dan mereka masih tetep nggak mau pulang juga loh! Hebat nggak tuh. Saya sampai ngga enak hati karena mertua saya agak cuekin. Akhirnya saya capek, saya bilang saya butuh istirahat dan makan siang dulu. Baru deh mereka pulang.

Saya pikir semuanya sudah selesai. Setiap kali dia Whatsapp saya, bawaan saya jadinya deg-degan, ngeri mau ditawarin ini itu lagi. Sesudah setahun lebih cuma ngobrol basa basi di Whatsapp, kira-kira dua bulan lalu, dia kontak saya lagi, katanya kangen sama Abby dan pingin main ke rumah. Waduh, gawat dalam hati saya. Terus saya bilang aja kalau mau ketemuan, gimana kalau saya saja yang main ke rumah dia, toh saya sudah jadi IRT jadi bisa nyetir siang-siang. Tapi dia nolak, dan akhirnya dia nawarin untuk ketemuan di mall. Saya bersyukur banget bisa pindahkan lokasi ke mall. Setidaknya saya tau kalau di mall, nggak bakalan bisa lama-lama juga. Akhirnya kita ketemuan di food court, ngobrol-ngobrol, lalu dilanjutkan ke area bermain anak. Kebetulan di sana dia ketemu dengan kawan lain, dan saat itu sudah jam tidur siang Abby. Suasananya juga sangat berisik, sehingga tidak nyaman. Lalu saya pamit sama dia, saya bilang Abby mau bobok siang. Toh kita juga sudah lebih dari 2 jam ketemuannya. Hore! Gak ditawarin apa-apaan hihihi.

Di saat (lagi-lagi) saya pikir semua sudah selesai, seminggu lalu teman saya itu kontak lagi hari Rabu pagi-pagi. Dia bilang hari itu juga mau main ke rumah saya. Saya bilang saya nggak bisa karena mau nganter kado, ada teman yang mau lahiran (Mel O), udah keburu janji mau anter. Lagian kok mau dateng, ngasih taunya mendadak. Terus dia nanya, Kamis bisa nggak? Saya bilang saya ada di rumah, tapi saya mau sambil baking karena mertua saya anniversary. Terus dia bilang, kalo gitu Jumat pagi bisa nggak? (gile ngga nyerah-nyerah). Akhirnya saya bilang bisa. Gak enak kan ditembak terus sampai ketemu kata "bisa". 

Jumat itu, pagi-pagi banget dia udah nelepon saya lagi, padahal saya masih tidur. Tau-tau dia udah di depan aja gitu loh! Saya cuma sempat sikat gigi lalu nemuin dia. Dan saudara-saudara... dia nggak pulang-pulang aja gitu! Sampai sudah mau jam makan siang! Luar biasa nggak sih? Lagi-lagi dia datang sama suaminya, ngobrol ngalor ngidul, tapi disisipin, "Menurut lu, investasi yang bagus itu sekarang apa, Le?" Langsung saya jawab, "Properti." Terus dia mulai ngomong lagi ngalor ngidul, terus mendadak dia nanya, "Menurut lu, pekerjaan seperti yang gue dan suami gue lakukan gimana, Le?" 

Saya jawab, "Pekerjaan lu dan suami itu bagus banget. Buat orang-orang yang berbakat dan punya passion di bidang itu, pekerjaan lu itu sangatlah menghasilkan. Bahkan gue tau banyak orang-orang di sekitar gue yang sukses menjalankan pekerjaan sebagai agen asuransi. Elu berdua adalah contohnya. Tetapi memang tidak semua orang mempunyai bakat yang sama di bidang itu, bahkan gue punya temen pun, ada yang ortunya sangat sukses dan punya agency besar, tetapi anaknya tidak mau nerusin karena tidak punya passion." Lalu saya cerita dikit soal teman saya yang tadi saya ceritakan itu, yang sekarang punya e-commerce. 

Saya tambahin, "Kalau gue, gue sama sekali nggak bisa. Gue sudah sering ditawarkan, bahkan ikutan seminarnya, dan gue merasa awkward. Itu bukan dunia gue. Tapi itu adalah dunia kalian berdua. Kalian cocok dan punya bakat." Teman saya dan suaminya itu manggut-manggut. Saya pikir bakalan kelar loh, ternyata masih belum mau pulang juga. Padahal udah tiga jam lebih hu hu hu. Saat itu perut saya sudah krucukan, maklum belum sarapan. Akhirnya saya ijin, saya mau ke dapur untuk menghangatkan nasi dan sayur untungnya masih ada sisa sayur semalam, bayangin biasanya saya masak loh, hari itu sampai belum sempat masak karena meladeni agen asuransi. Akhirnya saat saya mulai ke belakang, ambil-ambil sayur dari kulkas dan angetin di microwave, mereka baru mulai mau pamit on LUNCH TIME! Phewww.... 

Bayangin, sudah dua kali ke rumah buat nawarin asuransi dan merekrut, sudah dua kali pula berjam-jam ngga mau pulang. Saya sih salut dengan persistensi mereka. Tapi sekarang saya merasa persahabatan saya bisa jadi di ujung tanduk. Saya sudah bilang sama diri saya sendiri, sekali lagi dia kontak saya untuk ketemuan, saya mau bilang sama dia, tolong untuk sama sekali tidak bicara soal asuransi, investasi, apapun itu. Saya lebih senang kita membahas petualangan masa kecil kita, masa remaja kita, membahas guru-guru kita, ataupun membahas soal anak-anak. Please, I don't want to put our friendship at stake. :(

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Temanku, kalau seandainya kamu sempet baca ini, mungkin kamu mengerti, kalau tidak semua orang nyaman diperlakukan seperti itu. Buat seluruh agen-agen, asuransi ataupun MLM, ataupun apapun, saya mengerti banget kalau kalian itu usaha terbesarnya bukan jualan, tetapi merekrut orang. Saya tau kamu ingin income yang besar, berkeliling dunia, punya mobil mewah, punya warisan. Saya mengerti buanget-buanget karena dulu saat seminar itu, kita diajarkan untuk mengajak siapa saja yang kita kenal. Tetapi tolonglah, jagalah hubungan baikmu dengan beberapa orang jika menurutmu itu berharga. Jangan sampai kamu kehilangan persahabatan baik cuma karena kamu ingin extra income. Coba-coba rekrut boleh, tapi lihatlah batasannya. Sahabat baik itu susah dicari, lebih susah dari pada nyari downline!

There you go, I said it. 

Friendship is always a sweet responsibility, never an opportunity ~ Khalil Gibran

Share It