Thursday, June 23, 2016

Abby Tamasya Ke Wellington - Bagian 2

Kita lanjut lagi nih Abby Tamasya-nya edisi New Zealand ke Wellington. Nah, sebenernya nih, dari kemarin tuh kita belum bahas soal Wellington-nya loh, soalnya seharian kemarin isinya perjalanan menuju Wellington dengan lewat kota-kota lain. Baru deh nih, di hari kedua, kita mencoba explore Wellington seharian, tapi disesuaikan dengan pace bawa anak kecil yang harus santai, plus menyenangkan. Kalau belum baca bagian 1, mampir dulu ya di sini. Sekarang kita lanjut ke hari kedua.

Wednesday, June 15, 2016

Abby Tamasya Ke Wellington - Bagian 1

Bertemu lagi dalam edisi Abby Tamasya! Sudah lama nih kita nggak jalan-jalan keluar kota dalam rangka liburan. Terakhir rasanya pas Desember 2015 lalu, Abby Tamasya ke Semarang. Setelah itu kita sibuk pindahan, grabak grubuk sana sini, nyari kerjaan dan sebagainya, boro-boro mau mikirin liburan. Waktu Papa Abby belum dapat kerja, kita pernah ngomong-ngomong sendiri, seandainya Tuhan kasih kerja pada waktunya, kalau sempat kita mau ke Patung Bunda Maria Our Lady of Lourdes di Paraparaumu, Kapiti Coast, mengucap syukur atas kebaikan Tuhan melalui perantaraan Bunda Maria. Ternyata Tuhan kasih semua passss banget. Di Minggu pertama Papa Abby kerja, weekendnya kita ketemu long weekend karena Senin, 6 Juni 2016 lalu libur nasional Queen's Birthday. Ini adalah satu-satunya hari libur yang tersedia buat Papa Abby sampai nanti ketemu hari libur lagi di bulan Oktober 2016. Jadi begitu dapat kepastian kerja, kita langsung rencanakan trip singkat 3 hari 2 malam, di awal musim dingin yang brrrrr ini.

Thursday, June 02, 2016

Mencari Pekerjaan di Auckland: Mudah atau Susah?

Hampir dua tahun lalu, saat kami mulai memikirkan opsi untuk pindah ke Selandia Baru, kami sadar kalau tidak mungkin kami hanya sekedar pindah tanpa pikir panjang. Biaya hidup di sini adalah salah satu yang termahal di dunia, yang berarti kami setidaknya harus bisa memastikan, kalau nanti saat sudah pindah, salah satu dari kami (dalam hal ini suami saya) bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Layak di sini bukan berarti berlebihan dan bisa berfoya-foya, tapi setidaknya bisa untuk menutupi biaya kami hidup sehari-hari. Waktu itu, karena jenis pekerjaan suami termasuk di dalam bidang yang demand (permintaan)-nya cukup tinggi di sini yang membuat poin kami juga bertambah untuk kualifikasi permanent resident, kami cukup yakin kalau suami tidak akan mendapatkan kesulitan saat mencari pekerjaan. Saya dan suami selama ini termasuk bukan orang yang sulit mendapatkan pekerjaan karena kami punya kualifikasi yang cukup dan pengalaman yang mumpuni. Jadi pokoknya, kami optimis sekali bisa mendapatkan pekerjaan dalam waktu singkat. Lalu faktanya bagaimana?