Monday, November 23, 2009

Antara Diare dan Maag

Kepada bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian, mohon maaf atas segala keterlambatan penulisan blog yang sudah agak lama tidak diupdate. Bukan maksud hati (memeluk gunung apadaya tangan tak sampai.... eh salah ya?) untuk menyepelekan blog ini, apalagi sekarang sudah jaman Facebook, namun memang saya mempunyai alasan (yang bukan dibuat-buat) sehingga blog ini agak terlantar selama lebih dari 10 hari...huks...

Oke oke, saya tau, entry yang sebelumnya ini adalah soal diare, dan kali ini naik ke atas sedikit, problemnya berpindah menjadi ke lambung. Hari Sabtu tanggal 14 November lalu, mendadak saya jadi tidak bisa makan. Makanan layak terakhir yang saya makan adalah makan siang, dan setelah itu mendadak lambung saya kacau balau. Cium bau makanan, kok eneg, terus baru masuk makanan seiprit, eh mau muntah. Sampai malam hari, makanan yang bisa masuk ke dalam badan saya cuma nasi 2 sendok, padahal belinya nasi semangkok di Beppu Plaza Indonesia lengkap dengan daging sapi dan telur. Untung ada adek saya si Recycle Bin yang bersedia menampung semua sisa makanan yang saya pesan hehehehe... Tapi beneran deh, sebelum ke Beppu itu, kan kita nyemil sore di Sushi Tei Plaza Senayan, adik saya sih dengan santainya makan Dragon Roll sendirian, sementara salad secomot aja gak bisa masuk ke perut saya. Akhirnya 1 mangkok wakame salad masuknya ya ke Recycle Bin (alias my bro).

Sampai pulang dari nonton dan jalan-jalan sama teman-teman, saya cuma bisa lemas. Di rumah, boro-boro bisa tidur. Yang ada, lambung saya seperti ngajak brantem. Bahkan coklat sepotong kecil saja ditolak! Yang ada saya malah muntah2 air, dan airpun tidak bisa masuk, mau minum aja rasanya beraaattt banget. Padahal eh padahal, tanggal 15 Novembernya itu saya mesti bertugas sebagai MC/ Lektor di gereja untuk pernikahan sepupu saya tercinta. Pagi-pagi sekitar pukul 6, saya sudah gak kuat lagi. Tanpa tidur, dan tanpa makan, rasanya sudah hampir pupus harapan untuk berpartisipasi di perkawinan saudara.

Tapi jam 6 itu, saya ingat untuk menelepon Oom saya yang dokter, dan saya ceritakan kalau sebelumnya saya diare dan dikasih obat ini itu. Ternyata, kata oom saya, obat dokter yang dikasih sebelumnya untuk diare itu memang agak keras. Langsung si oom came to the rescue, tante saya datang ke rumah membawakan obat lambung 3 macam, dan langsung saya konsumsi saat itu juga! Mendadak, keadaan lambung membaik, saya sudah mulai bisa makan sepotong kue! HOREEEEEE !! Dan badan sayapun mendadak segar, mulai bisa bergerak, mandi, dan akhirnya di gereja, bisa sukses menjadi MC/Lektor. Puji Tuhaaannnnnn...!!

Sampai malampun, saya masih tetap segar. Masih sempat ke salon untuk nata rambut, kemudian di pesta juga ceria, bertemu dengan teman-teman kuliah. Oh iya, sebagai pemberitahuan, sepupu saya yang dulu sempat berdomisili di Milwaukee, menikah dengan teman kuliah saya dari Madison. Jadi bisa dibayangkan, saya berlarian, dari mulai anak Madison, trus ke anak Milwaukee, trus ke saudara-saudara juga hahahah. Nggak tau tuh bisa dapet energy dari mana, yang pasti, thanks to those medicines, I survived the day!

Cerita Extra: Di tengah-tengah acara pesta, mendadak nama saya dipanggil MC. Beneran loh! Dipanggil, full name! Saya pikir, ada apa ini ? Apakah saya mau dikerjain ke atas pelaminan ? Deg deg deg deg.... Akhirnya, setelah tiba di atas panggung, yang terjadi adalah: Saya dapat buket bunga! Langsung dari mempelainya! Gak pakai acara lempar-lemparan loh! Katanya, karena saya telah berjasa, mempertemukan kedua sejoli ini. Hehehe... ceritanya, dulu itu Spring Break 2002, karena saya di Amerika belum ada mobil, saya minta tolong si mempelai pria untuk mengantar saya menemui sepupu saya di Milwaukee. Ternyata.... eh ternyataaa..... begitu ketemu, ada getaran cinta di antara mereka hihihihi.... Tapi beneran loh, sudah 2 kali, dengan jarak sebulan, saya mendapatkan buket bunga. Moga2 pertanda baik yahhhh... AMIN.

Thursday, November 12, 2009

Aduh Mak...

WARNING!! Postingan ini, dikhususkan bagi anda yang tahan akan kejorokan. Kalau tidak, sebaiknya di skip saja.

Akhirnya... hari ini saya bebasssssssssssssss !!! Bebas dari si pengganggu super annoying yang bernama: DIARE!

Hari Senin pagi, pukul 6 kira-kira, bangun tidur, perut bergejolak tak karuan. Bolak balik wece sampai beberapa kali, diakhiri dengan muntah. Diarenya kali ini ultimate, sudah bener-bener gak ada solid-solidnya sama sekali, tapi full cairan. Diapet 1 tablet dikonsumsi. Lemas minta ampun, tapi yang namanya manusia pemberani, saya tetap nekad ke kantor. Maklum hari Senin, apa kata si boss nanti kalau saya gak masuk ? Dipikirnya saya kebanyakan berpesta pora di weekend... padahal nggak sama sekali. Hari minggu cuma ke sangjitan saudara sepupu dan makan2 di sana, terus sore ke gereja, nonton Michael Jackson's This is It, dan dinner di Pizza Hut lantaran semua tempat udah pada tutup. Makan sambel aja nggak loh!

Di kantor, baru sampai, langsung 2 kali bolak balik.... kondisi makin drop. Tablet imodium pun dikonsumsi. Dan setelah itu, masih 2 kali lagi bolak balik. Makan siang cuma berani makan nasi dan kuah sup bening. Gak berani makan yang lain. Pukul 15.00, saya gak kuat lagi, akhirnya ijin pulang sama bos. Puji Tuhan masih ada energy buat menyetir, dan akhirnya sampailah saya di rumah dengan selamat, langsung ganti baju, menuju tempat tidur dan BLEK...sampai pukul 18.30. Bangun2, disambut oleh nasi tim. Kata mama, makan nasi tim aja, biar gak kotor perutnya. Dan enak sekali, udah gak sakit perut lagi loh. Mungkin karena imodiumnya worked very very well. Tidur malam juga lumayan enak. Sampai.....

Pukul 04.30 pagi.... MULESNYA GAK KIRA2 !! Bolak balik bolak balik bolak balik... malah kayaknya lebih parah daripada hari sebelumnya. Cairan yang keluar banyak banget! Langsung minum diatabs 2 tablet. Habis gitu berusaha tiduran lagi karena lemes. Ehhhhh.... dasar kecepatan mencret itu lebih cepat dari kecepatan cahaya, tiba2 celana saya agak2 basah, dan saya gak nyadar! Pas bangun baru berasa gak enak di blakang... duh... bener-bener udah kayak anak kecil! Bikin maluuuuuuuuu.... langsung diatabs lagi 2 tablet. Menu makan siang, lagi-lagi nasi tim. Huks.

Dan... akhirnya... kesusahan ultimate tiba... di saat: KENA PEMADAMAN LISTRIK DARI PLN, TANPA MEMILIKI GENSET! Huks huks.... kenapa sih, PLN adil dan merata banget. Padahal baca di jadualnya, mestinya kita kena pemadaman hari Jumat loh ! Dan yang terparah adalah, berhubung ini rumah pinjeman (rumah orisinil saya lagi di re-build), rumah ini ternyata gak ada PAM! Jadi kalau pompa listrik gak bisa jalan = gak ada air! Diare, kepanasan, gak ada air, KOMPLIT! Tapi Tuhan adil loh! Selama pemadaman itu, saya sama sekali gak sakit perut, ataupun ada urgency untuk membuang hajat! Hihihihhhi....

Malamnya akhirnya saya ke dokter. Setelah menunggu 1.5 jam lantaran pasiennya bejibun (dan semua rata-rata mempunyai keluhan batuk pilek dan diare), akhirnya tiba giliran saya diperiksa. Kata dokter sih, kemungkinan salah makan dan kondisi saya lagi lemah. Jadinya reaksinya langsung berlebihan. Pas diperiksa pakai stetoskop, dokter bilang perutnya masih gak stabil, jadi jangan kaget kalau masih ada sisa diare 1-2 kali setelah minum obat. Akhirnya dikasih deh 3 jenis obat, mulai dari anti mual sampai antibiotik, dan sementara harus menghindari sayur, buah, dan susu. Duh, moga2 cepat sembuh.

Rabu, saya sudah kembali ke kantor, tapi kondisi masih belum stabil2 banget. Sempat keluar keringat dingin pas di kantor, dan rabu malam sempat muntah juga sedikit. Tetapi setidaknya diarenya sudah stop. Dan akhirnya Kamis ini, baru saya merasakan kelegaan yang lumayan. Tadi pagi si hajat sudah solid :) Horeee.....!! Dan sepertinya kondisi badan juga sudah membaik, makanya bisa nulis entry ini :P (alesan...). Namun ada satu yang saya benar-benar bosan. Yaitu menu makanan saya.

Senin: Nasi + Kuah Bening, Nasi Tim
Selasa: Nasi Tim, Nasi Tim
Rabu: Nasi Tim, Bubur
Kamis: Nasi Tim

TIDAAAAAAAAAAAKKKK please take me away from Nasi Timmmmm. Mamaaaa... tolong jangan beli nasi tim lagi buat malem ini...

Monday, November 02, 2009

Resto Keren, Service Jeblok

Hehe, lumayan lama juga ya belum update blog. Tau-tau udah bulan November lagi. Barusan habis ngecek di kalender. Ada 11 undangan perkawinan lagi yang mesti dipenuhi sampai akhir tahun, dan itu yang sudah ketahuan. 3 di antaranya adalah sepupu-sepupu saya, so sudah pasti yang 3 itu, satu harian penuh waktu bakalan tersita. Yakin banget, masih ada lagi undangan yang akan nyusul... Cape de... But on the other hand seneng juga kalo bisa reunion bareng temen2 dan keluarga via acara perkawinan.

Back to the topic shown in the title... kali ini mau ngebahas dikit, soal resto baru yang bermunculan di Jakarta. Bukan hanya sekedar resto, tempat ini dirancang untuk memenuhi berbagai syarat sebuah tempat nongkrong. Ambiance yang asik, makanan enak, list minuman yang panjang, dan musik yang menunjang. Dan itulah yang saya harapkan saat Jumat 2 minggu lalu diajak teman-teman saya untuk makan malam di sebuah restaurant yang baru buka sekitar 1 bulan berlokasi di sebuah gedung perkantoran mewah di Jakarta (yang lobbynya mirip Fullerton). Just call it "B". Buat para penggemar tempat-tempat nongkrong di Jakarta, mungkin sudah langsung ngeh, apa tempat yang dimaksud.

Begitu masuk ke sana, yang saya tangkap adalah, WOW! Bagus banget interiornya. Memang restaurant ini di rancang menggunakan konsep sebuah perpustakaan di Eropa. Langit-langitnya tinggi, penerangannya remang-remang dengan lilin-lilin panjang di setiap meja. Kursi-kursinya klasik dan besar-besar (juga berat hahaha). Ada seperti balkon perpustakaan di lantai 2, yang dilengkapi dengan meja-meja dan kursi juga, serta rak buku berisi buku-buku tua (yang entah mereka dapat dari mana). Dindingnya dari kayu, dan juga ada cermin-cermin besar, menambah kesan maskulin dan tangguh interior tempat ini. Ada juga tempat duduk di bagian luar, dikelilingi oleh pagar baja dan pohon-pohon. Pokoknya, kalau kita sudah ada di dalam, rasanya bukan seperti di Jakarta lagi. Orang-orang yang makan di sana, rata-rata berdandan tampan dan cantik, sempat membuat saya kurang percaya diri karena saya langsung dari kantor dengan pakaian jeans, kaos, dan cardigan seadanya.

Menu makanan, mostly Western and Mediterranean. Steak, pasta, kebab, menjadi pilihan utama di sana. Drink listnya ada satu buku terpisah, mulai dari yang non-alkohol, mixed drink, dan wines. Harganya, lumayan OK. Tidak bisa dibilang murah, tetapi tidak terlalu mahal untuk restaurant dengan ambiance seperti itu. Tapi, ternyata, penilaian saya yang sudah sangat positive itu, ternoda cukup banyak oleh servicenya yang lumayan kacau. Tidak mengerti apa itu disebabkan karena restaurant hari itu cukup sibuk dengan banyaknya manusia tumpah ruah, ataukah memang karena kurangnya training yang diberikan oleh management. Tapi bisa dibilang untuk restaurant sekelas ini, agak cukup mengkhawatirkan. Di bawah ini ada beberapa point yang menurut saya lumayan mengganggu.

1. Saya memesan mixed juice yang namanya Jungle Juice dan pesanan sudah datang. Teman sebelah saya birnya sudah habis, sehingga dia juga ingin memesan minuman lagi. Kemudian dia minta waiternya untuk bikinkan minuman yang sama dengan saya, dan waiternya bilang, “Oh, Jungle Juice”. Ditunggu... lama...lama...lama... sampai teman saya sudah mau habis makanannya, akhirnya dia panggil lagi waiter itu, dan akhirnya juicenya datang juga. Pas tiba, juicenya beda sekali dengan yang saya punya. Saya punya warna pink, dia punya warna kuning. Tetapi karena sudah haus, dan capek nunggu, akhirnya sudah malaslah kita meminta ganti lagi dengan si waiter. Sampai sekarang masih jadi misteri, entah yang benar yang mana yg namanya Jungle Juice itu, yang pink atau yang kuning ya ?

2. Saat waiter menanyakan, teman saya, memesan Sirloin Steak sebagai menu utama. Setelah menunggu dan menunggu, 20 menit kemudian, sang waiter kembali lagi, “Maaf Pak, steak yang tadi bapak pesan, mau medium, atau medium well atau apa, Pak ?” Ya ampun..... mestinya steak itu sudah siap dong ya dalam 20 menit ? Eh ini baru ditanyakan mau dimasak dengan tingkat kematangan apa. Apakah tidak ada prosedur untuk menanyakan pemesanan steak ?

3. Saat itu kami memesan Caesar Salad with Grilled Chicken sebanyak 2 piring untuk dibagi-bagi sebagai appetizer. Kami menunggu dan menunggu terus, semua main course mulai keluar satu-satu (ada sekitar selusin orang di rombongan kami), dan saladnya sama sekali belum kelihatan. Sampai main course terakhir keluar, saladnya tetap belum keluar. Akhirnya, kami memanggil waiter, dan meminta untuk membatalkan pesanan tersebut. Tapi yang terjadi adalah, waiternya malah kembali, dan membawakan Caesar Salad kita! (Yang tentu saja momentnya sudah basi karena main course saja sudah selesai). Akhirnya salad tersebut hanya termakan sedikit, karena orang-orang sudah keburu kenyang.

4. Ini yang paling ultimate tulalitnya. Mengenai pesanan saya Spaghetti Aglio Olio with Mixed Seafood. Setelah saya melakukan pesanan, Spaghetti saya datang. Saya melongok, dan melihat, tidak ada satu tanda-tandapun mengenai adanya seafood di dalam Spaghetti saya. Karena saya penasaran, saya tanya pada yang mengantar, “Pak, ini with Seafood ya ?” Dan waiter menjawab, “Iya bu, with seafood.” Sayapun mulai membongkar-bongkar spaghetti saya, dan tidak menemukan 1 potong seafood pun di dalamnya! (Bayangkan, seorang waiter tidak bisa mengetahui jenis makanan di restaurantnya sendiri!) Akhirnya, saya panggil lagi waiter yang ada untuk mengganti pesanan saya. Tak beberapa lama kemudian, pesanan saya datang lagi, kali ini lengkap dengan beberapa potong udang. Oh, akhirnya datang juga...kata saya dalam hati. Sayapun mulai makan. Ketika makanan di piring saya tinggal sisa seperempatnya, tiba2 ada waiter lain lagi datang, dan berkata,”Spaghetti Aglio Olio with Seafood !” Lah...? Itu kan pesanan saya ? Saya lihat ke piring itu, lengkap, ada cumi-cumi dan udangnya! Sementara yang saya punya tadi, kok cuma udang saja? Saya lantas bilang ke waiternya, “Mas, mestinya pesanan saya mixed seafood itu ada cumi2nya ya ?” Terus dia bilang, “Iya, Bu”. “Jadi kalau begitu, boleh dong itu piring yang baru ditinggal saja, karena yang tadi pesanannya salah.” Waiternya bilang lagi, ”Oh bu, sebentar saya tanyakan ke chefnya”.... dan diapun pergi, dengan membawa sepiring Spaghetti Aglio Olio yang seharusnya milik saya, dan TIDAK PERNAH KEMBALI LAGI! Bahkan dia tidak kembali untuk mengabarkan apapun! What a mess!

Untungnya, hari itu, saya bertemu dengan banyak teman-teman yang asyik dan seru. Jadinya, waktu menunggu yang lama, kesalahan-kesalahan para waiter itu tidak terlalu terasa dengan obrolan-obrolan yang menyenangkan. Namun, jika mereka tidak memperbaiki servicenya, bisa-bisa ditinggalkan pelanggan. Itu opini saya semata. Tapi yang saya perhatikan, di Jakarta ini, sepertinya orang tidak terlalu peduli dengan service. Asal tempatnya enak, fancy, dan lagi hip di Jakarta, orang akan terus berdatangan. Makin mahal, makin prestigious, makin ngantrilah manusia Jakarta.

Ada yang pernah punya pengalaman di situ juga ? Atau, mungkin ada yang lain yang mau coba ?

Tuesday, October 20, 2009

Cerita Kondangan

Ngomong-ngomong, semua pembaca blog ini tau kan artinya kata "kondangan"? Hehehe... harap maklum saya nanya, soalnya "kondangan" kan sebenernya bahasa yang agak unik ya, mirip sama kata "loteng", gak semua orang tahu. Padahal, lumayan sering dipakai loh. Nah, entry kali ini bukan buat membahas arti kata kondangan (yang berarti menghadiri resepsi perkawinan) atau kata loteng (yang berarti mempunyai tingkat ~ biasanya digunakan untuk rumah yang mempunyai lebih dari satu lantai), tetapi sedikit bercerita mengenai kisah kondangan di hari Jumat minggu lalu. Yang menikah adalah V dan L. V adalah kakak kelas saya pas kuliah dulu, dan kita juga tanpa disangka akhirnya bekerja di kantor yang sama dengan selisih tanggal masuk satu bulan.

Pertama kali menerima undangan dari sahabat saya, saya agak-agak bingung, loh, kok perkawinannya hari Jumat, di hotel Shangri-La. Itu kan hari kerja, dan trafficnya, pasti gak kira-kira ramai dan padatnya. Tetapi kata V, si calon mempelai wanita, itu adalah hari baik berdasarkan penanggalan dan kepercayaan. Dan ternyata sepertinya memang benar loh, karena Hotel Mulia saja juga di book untuk sebuah resepsi perkawinan. Wow! Baru ngeh, kalau akhir-akhir ini, seringkali ada perkawinan di hari biasa. Nanti di akhir November saja, ada sahabat saya yang menikah pada hari Senin di sebuah hotel berbintang, dengan alasan yang mirip yaitu berdasarkan perhitungan hari baik.

Oke, mari kita berlanjut ke hari H. Kira-kira pukul 5 sore di hari H tersebut, kami kembali dikejutkan dengan: GEMPA !!! Ya, gempa lagi saudara-saudari, bumi gonjang-ganjing. Bedanya kali ini adalah, semua teman-teman kantor sudah tidak panik seperti dulu lagi, karena sudah diajarkan, kalau gempa justru tidak boleh lewat tangga. Kali ini semua cukup keluar dari ruangan di pinggir jendela menuju ke tengah-tengah. Dan syukurlah, gempa kali ini tidak sedahsyat gempa Tasikmalaya yang baru lalu. Kali ini pusat gempanya di Ujung Kulon dengan kekuatan 6.4 SR. Makanya guncangannya tidak terlalu parah.

Setelah pukul 5 itu, mulailah orang-orang panik. Bukannya panik karena gempa, tetapi panik karena dandan ! Maklum gara-gara resepsinya hari Jumat, tidak ada waktu lagi untuk pulang dan mandi, terpaksa semua ciwi-ciwi pada dandan di kantor. Saya sih biasa aja, sampai jam 6 kurang pun, saya masih santai, blum dandan, blum ganti baju. Yang mengagetkan adalah, beberapa teman saya, tiba2 kok rambutnya sudah dicatok semua, melingkar-lingkar. Ternyata eh ternyata, sodara sodari... salah satu ruangan di dekat tempat duduk saya, sudah berubah menjadi salon express! Lengkap dengan resepsionis kita yang menjadi tukang salonnya, plus catokan ! Dan para ciwi2 di kantor adalah clientnya. Duh, sayangnya saya lupa memfoto ruangan tersebut, kalau nggak, kan mayan, kali aja bisa dipropose buat jadi salon di kantor heheheheh...

Lanjut lagi, cerita perjalanan ke Shangri-La dari kantor saya. Pas keluar kantor, waktu menunjukkan pukul 18:50. Saya naik mobil berdua dengan adik saya yang nyusul ke kantor. Sebetulnya tinggal nunggu 10 menit lagi sampai lepas 3 in 1. Tetapi saya nekad keluar, karena saya pikir jaraknya dekat, dan teman saya juga sudah pernah bilang, kalau dekat sih santai aja lah, kan habis gitu belok di sebelah Wisma BNI. Tapi ternyata eh ternyata, saya distop sampai 2 kali !!! Polisinya sudah melambai2kan senter panjang merah itu, dan dengan kegilaan menjadi-jadi, saya terobos saja itu polisi ! 2 kali !! Beneran 2 kali !!! Maaf ya Pak Polisi.

Dan masa deg-degan itu pun berlalu. Suasana pesta menyenangkan, karena diadakannya Jumat, jadi tidak terlalu ramai. Ambil makanan juga gampang dan tidak sampai ngantri. *tapi anehnya kok saya gak makan banyak ya, cuma sekali ambil makan buffet tengah....that's it, padahal banyak makanan stallsnya... kata temen saya, itu tanda2 penuaan* Malam itu, saya sumbang suara. Dan berdasarkan permintaan dari V, dia mau lagunya lagu Indonesia yang ceria. Nah loh.... bingung banget. Sampai 1 jam sebelum berangkat ke resepsi, masih bingung mau nyanyi lagu apa. Akhirnya diputuskan lagu-nya jeng Vina Panduwinata, yaitu “Di Dadaku Ada Kamu”. Tapi berhubung si mempelai pria gak berkumis, di bagian “ada kumismu”-nya saya ganti jadi “ada bibirmu” hehehehe... Pas saat saya nyanyi itu, si pengantin berdua lagi mingle2 diantara tamu2. Begitu selesai, saya hampiri si V, dan saya bilang,”Udah ya, gue udah nyanyi.” Terus si V reaksinya, “Hah? Elu udah nyanyi ? Gue gak dengerrrr.... ulang lagi dongggg.” Ya ampunnnn... akhirnya saya bilang, “Udah ah, elu nanti liat via video aja.”

Acara dilanjutkan dengan lempar-lemparan hehehehe. Yang wanita dapat giliran lempar bunga, yang pria dapat giliran lempar garter belt. Nah, buat yang belum tau apa itu garter belt, garter belt itu adalah karet berenda yang dilingkarkan di paha untuk menahan stocking wanita. Jadinya sebelum sang mempelai pria melempar garter belt, tentulah dia harus usaha menyelam di bawah gaun mempelai wanita untuk mengambil beltnya hihihih. Kalau di Amerika, memang biasa seperti ini, dibagi dua crowdnya pria dan wanita. Makanya saya senang banget hal ini dilakukan di resepsi kali ini, karena biasanya kalau lempar bunga saja, yang menang banyakan yang pria, karena mereka memang niat kayak orang gila demi mendapatkan hadiahnya (bukan demi enteng jodohnya ~yang sebenarnya merupakan tujuan utama dari pelemparan buket bunga itu).

Setelah sekian lama saya tidak pernah ikut-ikutan acara lempar bunga, akhirnya setelah saya menjadi single lagi, ini kali pertama saya kembali ikutan acara lempar bunga. Gak ada ekspektasi apa-apa, lantaran gak pernah menang sekalipun. Saya maju ke depan cuma untuk ngerame-ramein aja, soalnya ciwi-ciwinya pada malu-malu sih. Dipandu MC, V mulai bersiap-siap melempar bunga.. satu...dua.. tiga... , ehhh ternyata gak dilempar... Diulang lagi... Satu.... Baru hitungan ke-satu, lemparan bunga itu melesat, dan mampir di wajah saya. Kontan kaget, shock, dan gak ada reaksi lain, selain mengatup tangan di depan muka dan menangkap bunganya. Sama sekali nggak pakai rebutan, bunga itu hinggap di tangan saya. What a surprise! Seumur-umur, baru kali ini saya mendapatkan buket bunga!! Didoakan ya teman-teman, moga-moga saya bisa segera menyusul mempelai... biar enteng jodoh. AMIN !

Acara diakhiri dengan foto bersama, dan saya percaya, si photographernya (Edward Suhadi ~ check him out, he’s such a talented photographer), pasti menanggap saya banci foto lantaran sering bolak balik ke atas panggung. Mulai dari pas dapet bunga, pas bersama teman-teman kantor, dan bersama teman-teman kuliah. Hahaha.... blum lagi dia sering jepret-jepret pas sebelum saya dapet bunga, pas lagi ngucapin selamat di video. Tapi saya hampir bisa memastikan, dari ribuan foto, palingan ngga ada yang masuk di album kecuali photo bersama di pelaminan hihihhi.

What a day! It was fun, it was crazy, it was unexpected!

Friday, October 09, 2009

Ditangkap Polisi (Again)

Mungkin ada beberapa orang yang pernah cerita soal ditilang ya. Salah satu yang saya ingat adalah kisahnya temen saya si Arman (yang ngakunya keren banget dan agak narsis itu heheheh). Dan yang namanya polisi di Amerika itu sudah jelas nggak akan mungkin bisa disogok seperti layaknya polisi Indonesia yang bisa pakai salam tempel. Sebagai pemberitahuan, sampai saat ini (alhamdulilah) saya tidak pernah sama sekali ditangkap oleh polisi di Indonesia. Tetapi, melihat mama saya ditangkap gara-gara melanggar marka jalan, ya pernah. Makanya kira-kira saya tahu, bagaimana proses salam tempel itu bekerja.

Oh iya... mungkin perlu saya ceritakan sedikit bedanya menghandle Polisi Amerika dan Polisi Indonesia, seandainya kita tertangkap melanggar peraturan lalu lintas. Yang versi Indonesia ini adalah versi jaman dahulu ya. Kalau yang jaman sekarang, saya belum update lagi sihhh... apalagi sejak ada issue yang katanya mendingan ditilang daripada nyogok.

Polisi Indonesia: Senyum sedikit, katakan selamat pagi (atau siang, atau sore, atau malam sesuai kebutuhan). Akan lebih akrab, kalau kita keluar dari mobil, kemudian bersalaman (kayak lagi lebaran). Kemudian ketika polisi meminta SIM, kasih liat aja sambil senyum-senyum, lanjutkan dengan basa basi sedikit, "Wah pak... gak usah repot pak..." plus, tambahkan gerakan tangan menyodorkan sejumlah dana ke genggaman polisi tersebut (yang tentunya cukup pantas untuk jenis pelanggaran yang dilakukan). Kalau polisinya masih sok galak, itu artinya jumlah yang anda kasih belum cukup menyenangkan hati si polisi. Biasanya kalau sudah begini caranya, tambahkan satu sampai dua lembar pecahan yang lebih kecil, dan bilang saja kalau tunai yang anda miliki tinggal segitu. Seandainya anda beruntung dan polisinya "baik" biasanya akhirnya anda dilepaskan dengan senyuman, dan diperingatkan, untuk hati-hati, lain kali tidak boleh begitu lagi.

Polisi Amerika: JANGAN sekali-sekali anda keluar dari mobil! Atau anda akan dianggap akan melawan, dan polisi Amerika tidak akan segan-segan untuk menembakkan peringatan ke udara. Walaupun niatan anda kepingin sok akrab, tetap saja pada posisi duduk anda, jangan lepaskan sabuk pengaman, dan tunggulah sampai pak polisi menghampiri. Bukalah kaca mobil anda, tersenyumlah kepada si polisi. Biasanya anda akan diterangkan mengenai kesalahan anda, kemudian anda berhak untuk menjawab jika beliau bertanya. Jangan sekali-kali anda sok tau maupun berkelit, karena biasanya mereka punya bukti berupa photo atau rekaman speed gun (pistol untuk mengukur kecepatan kendaraan). Berikan HANYA yang diminta oleh pak polisi, dan biasanya SIM anda (jangan berikan tambahan-tambahan yang lain). Sang polisi umumnya akan membawa SIM anda balik ke mobilnya untuk di cek, kemudian dia akan kembali dengan SIM anda plus surat tilang (jika anda memang ditilang). Kemudian biasanya anda boleh melanjutkan perjalanan. Kalau kesalahan anda cukup fatal, sampai fatal sekali, poin di SIM anda akan dikurangi. Kalau poinnya itu sampai 12 totalnya dalam satu tahun, SIM anda akan dicabut dengan sukses. Jangan lupa untuk bayar uang tilangnya atau appeal ke pengadilan di tanggal yang ditentukan jika anda merasa tidak bersalah, karena kalau anda tidak melakukan salah satunya, kesalahan anda akan terus terbawa di dalam SIM anda.... Hiyyyyy......seram....

Kali ini, akan saya ceritakan pengalaman saya, selama 3 kali ditangkap polisi. Dan semuanya itu terjadi bukan di Indonesia. Nasibbbb......

1. Tempat: University Avenue, Madison, Wisconsin, USA.
Waktu: Summer 2003, sekitar pukul 1.30 pagi.
Saat distop oleh polisi itu, saya betul-betul tidak tahu apa kesalahan saya. Asliiii.... Pas polisinya nyamperin, eh, polisinya ganteng loh! Dia celingak celinguk, kemudian nanya saya, apakah saya tahu kesalahan saya. Saya bilang, kalau saya bener-bener gak tau. Dan ternyata kesalahan saya adalah: Lupa menyalakan lampu mobil !!! Padahal itu kan tengah malam. Kemudian polisinya bertanya, saya dari mana jam segitu baru pulang. Saya jawab, saya dari fitness center. Saat itu saya pakai kaus belel dan celana training pendek, muka keringetan, pokoknya jelek banget lah. Maklum, yang namanya student, waktu luangnya gak jelas, waktu tidurnya gak jelas, waktu belajarnya juga nggak jelas. Anehnya, kenapa ya saya bisa gak sadar kalau saya nggak nyalain lampu ? Ternyata eh ternyata, itu karena jalanan University Avenue itu terang benderang menyala, sehingga tanpa lampu mobil pun, jalanan bisa terlihat dengan jelas. Saat SIM dikembalikan, ternyata saya cuma dikasih warning hihihihih... Dia juga memberitahu saya, kalau kecepatan saya itu sebenarnya melebihi normal, yaitu 10 mil/jam di atas normal, tapi kali ini dia maafkan (Mungkin karena sebenarnya saya cukup cantik juga, sehingga dia terpesona...cuih cuih). Asikkkkk....bebassss.....

2. Tempat: East Washington Avenue, Madison, Wisconsin, USA.
Waktu: Spring 2006 (kalau gak salah), kira-kira pukul 8.00 pagi
Kali ini, saya bukan lagi student, tapi seorang auditor, dan berpakaian layaknya seorang auditor (kemeja kaku, celana kaku, tampang kaku hiehieehheieh). Waktu itu saya sudah bukan tinggal di Madison lagi, tetapi tinggal di Milwaukee. Saya berangkat dari Milwaukee menuju client saya di Madison, dan saat exit dari jalan tol memasuki East Washington, memang gak bisa langsung kecepatan saya dikurangi dari 70mil/jam menjadi 35mil/jam dong. Jadi disaat saya di dalam proses mengurangi kecepatan itu, rupanya polisi sudah mengintai dari balik jembatan, kemudian menyalakan sirene dan menghentikan saya. Ya sudah lah, saya berpasrah, saat itu katanya sih kecepatan saya 45mil/jam. Ya sudah lah saya terima, mana polisinya kali ini sudah tua, gemuk, dan berkumis. Kemudian dia tanya, saya mau apa, kerjaan saya apa dll dll dll.... SIM saya diambil lagi.... Dan akhirnya dibalikin lagi... dan... tidak ada surat tilangnya....HORE HORE HORE !! Dia bilang, karena so far record saya bersih, jadi kali ini dia kasih warning saja. Tetapi sekali lagi saya melakukan kesalahan, sudah pasti ditilang. Amin.... Lolos lagiiiii !!

3. Tempat: Lakes Street, Mandurah, Western Australia
Waktu: 23 September, 2009 Sekitar pukul 1.30 siang
Ini dia, tangkapan polisi teranyar, makanya saya sampai ingat tanggal brapa. Bayangkan saja, lagi liburan Lebaran kemarin, sempat-sempatnya ditangkep polisi! Saat itu saya sebenarnya sedang santai saja menyetir di Lakes St. bersama dengan Mama dan adik saya menuju ke arah pantai. Tapi gak tau kenapa, tiba-tiba di belakang tiba-tiba ada mobil sipil, Ford berwarna ungu, menguntit saya, dan tiba-tiba penumpang sebelah kiri mobil tersebut mengeluarkan sirene dan menyalakannya. Ya ampun! Apa salah saya ini? Saya pun menepi. Gimana nggak mau rada stress ? Di negeri orang, modal SIM Amerika, naik mobil sewaan, dan ditangkep pula! Ternyata itu adalah mobil polisi yang memang dandanannya seperti mobil sipil. Nah, saya baru ngeh, ternyata polisi di Australia ini, GALAK GALAK !!! Belum apa-apa, dia sudah marah-marah. Katanya saya menyetir terlalu ke tengah. Padahal saya yakin banget saya nyetirnya normal-normal saja, tapi saya nggak membantah. Saya cuma pasang muka memelas dan bilang sorry berkali-kali. Kemudian saat dia melihat SIM saya yang sim Amerika itu, dia ngoceh-ngoceh, katanya di Amerika juga gak boleh nyetir kayak begini! Bisa membahayakan, bisa nabrak orang bla bla bla bla.... Kemudian dia ambil SIM saya, dan sepertinya dia berdiskusi dengan temannya di mobil (mungkin mendiskusikan, apakah saya cukup dipanggang, direbus, atau dilepaskan kembali ke jalanan). Akhrinya dia kembali lagi menemui saya, mengembalikan SIM saya, dan kembali marah marah dengan aksen yang aneh..."YOU CAN GET VOIN !!" asli itu yang saya denger.... What Sir ??? "VOIN VOIN!!" Kata dia gitu... terus saya masih nanya, "Sorry, I don't know what you mean, Sir.." Terus dia bilang lagi:"If you drive like that, you can get voineedddd..." (mungkin sambil mengurut dada, saking bolotnya saya.....)... dan saya akhirnya ngeh, "Oooohhhh, you mean I can get FINEDDDD...." Ya ampun, aksen Australia ini memang sulit di mengerti ya terkadang. Apalagi di desa macam Mandurah. Dan diapun akhirnya merelakan saya pergi. Horeeee...lolos lagiiii !!

Begitulah, 3 kali ditangkep polisi, semuanya di luar negeri. Satunya masih jadi student, satunya lagi jadi karyawan, dan satunya lagi jadi turis. Kesian dehhhhh... Tapi syukurlah, semuanya bisa dilewati dengan damai... bener-bener damai... bukan "damai" versi Indonesia. Oh iya, denger-denger dari temen yang tinggal di Australia sana, katanya sih di kota kecil-kecil itu, justru polisinya suka tambah iseng. Pokoknya begitu salah sedikit aja, bisa langsung dikerjain, demi nambah-nambahin pendapatan kotanya. Kalau di Wisconsin, saya inget ada kota namanya Rosendale. Kalau orang mau nonton football di Green Bay dan jalan dari arah selatan, pasti harus melewati kota itu. Penduduknya cuma 500 orang, dan pendapatan tertinggi kota itu adalah dari nangkepin orang-orang yang ngebut. Dan sengaja, jalannya itu dibikin maksimum speednya 25mil/jam, supaya orang-orang di situ gampang banget ketangkepnya.

Intinya, nyetir di manapun harus waspada. Bukan cuma waspada terhadap keadaan di jalan, tetapi juga waspada sama polisinya. Apalagi di luar negeri, polisinya itu ngumpet di berbagai belahan, ada yang di dalam mobil, ada yang di balik pohon, ada yang di tikungan, dan mereka semua rata-rata pegang speed gun. Belum lagi, ada yang namanya speed camera dan red light camera. Jadi, tanpa ketemu dengan polisi pun, kita bisa aja difoto, kemudian tau-tau surat tilang sampai di rumah dengan selamat. Dan kalau sampai tidak dibayar... inget lohhh...kesalahannya akan terus menempel di SIM kita...hiyyyy... heheheheh

Tuesday, September 29, 2009

Kalau Tuhan Menghendaki

Kalau Tuhan menghendaki, orang yang sakit dalam kondisi terparah, bisa sembuh, bangkit, dan berjalan kembali.

Kalau Tuhan menghendaki, orang yang sehat wal afiat, terlihat bugar, bisa dipanggil ke hadirat-Nya secara mendadak.

Kalau Tuhan menghendaki, langit yang cerah mendadak bisa berubah menjadi kelabu disertai dengan hujan badai menderu.

Kalau Tuhan menghendaki, segala niat yang tidak baik, walaupun dilakukan dengan berbagai cara, tak akan mampu menggagalkan kehendak-Nya.

Kalau Tuhan menghendaki, meski kita harus menunggu sampai di detik terakhir, sampai jantung rasanya mau copot, Tuhan pasti tetap akan memberinya.

Rencana manusia bukanlah rencana Tuhan. Tetapi kita harus percaya, walaupun rencana Tuhan pada awalnya itu terasa menyakitkan, terasa melelahkan, pada akhirnya hasilnya pasti indah. Walaupun rencana manusia itu terlihat baik, segalanya terlihat indah, tetap yang jauh lebih baik dan lebih indah rencana Tuhan. Jadi, disaat kita merasa terpuruk, yakinlah, kalau itu hanyalah merupakan salah satu jalan dari Tuhan, untuk melatih kita agar kita mengetahui cara, untuk keluar dari keterpurukan itu. Kita akan jauh lebih kuat sesudahnya.

Kalau Tuhan menghendaki, tidak ada yang mustahil.

Friday, September 18, 2009

Gara-gara Bulan Puasa

Apa yang berbeda selama bulan puasa untuk saya yang memang tidak puasa ? Tentulah.... TRAFFICNYA ! Ampuuuuunnnnn..... *angkat2 tangan sambil angkat bendera putih....*

Sejak sehabis operasi akhir Januari lalu, saya meminta ijin kepada atasan saya dan kepada HRD, untuk pulang ke rumah pukul 4 sore setiap harinya. Di hari-hari non-bulan puasa, it works very well. Saya jadi tidak terlalu lelah, bisa beristirahat lebih awal di rumah, dan enaknya itu, saya jadi tidak kena sakit panas. Soalnya, sejak operasi itu, saya jadi agak sensitif, kalau capek pasti suhu badan agak naik. Nah, jadi pulang pukul 4 itu sangat membantu sekali buat saya.

Tetapi, di bulan puasa itu, ceritanya berbeda total. Di awal-awal puasa, saya coba pulang pukul 4, mau keluar dari gedung kantor aja, NGANTRI! Ngantrinya gak tanggung-tanggung, bisa sampai 30 menit cuma untuk keluar dari gedung kantor. Dan akhirnya, pas tiba di jalan Gatot Subroto yang notabene kena 3-in-1 itu, waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Dag dig dug minta ampun, mana polisinya banyak berseliweran mencoba mengatur jalan yang macetnya ngajubileh itu.

Pernah suatu saat, polisi mengatur giliran di Semanggi, antara yang keluar dari Sudirman dan yang lurus di Gator Subroto. Dan pas giliran saya di stop, itu sudah pukul 5 sore, dan polisinya itu benar-benar di depan muka saya ! Saya pikir, matilah saya.... kena deh nih... eh gak taunya Polisinya malah tenang-tenang aja. Mungkin buat dia, kalo sampe dia nangkep saya, itu macetnya bakalan gak kira-kira kali ya kacaunya. Dan saya lihat ke sebelah-sebelah saya, memang banyak sekali orang yang cuma sendirian. Abis gimana dong ? saya sudah terjebak macet itu dari pukul 4 sore, and there's no way I can get out!

Pulang kantor, yang biasanya hanya memakan waktu 30-40 menit, berubah menjadi 2 jam! Yihaaaa.... 10 km jarak antara rumah dan kantor, berarti, hanya 5km/jam saja! What a waste of energy, what a waste of fuel! Itu kan sama aja dengan jalan kaki selama 2 jam dong? Jadi setelah minggu pertama itu, saya memikirkan alternative lain untuk membebaskan diri dari jebakan 1 jam di Semanggi area itu. Mulai dari lewat Senayan (hari pertama masih oke, eh hari kedua, muacetnya gak kira-kiram jadi dicoretlah ini dari list), lewat Pejompongan kemudian masuk tol (yang ini lumayan, setidaknya masih jalan, walaupun pernah juga 2 jam stuck di jalan tol), kemudian lewat Casablanca (yang ini terparahhhh.... pernah 2.5 jam..*sambil mengharu biru melihat bensin yang habis jauh lebih cepat daripada biasanya*).

Nah... hari ini, semuanya itu telah berlalu. Jalanan Jakarta tiba-tiba lengang, sepi.... magical !! Kayaknya, gak ada hari lain yang lebih sepi di Jakarta kecuali pada saat Lebaran. Inilah saatnya mengucapkan:

SELAMAT IDUL FITRI 1430 Hijriah
Mohon maaf lahir dan batin yaaahhh :)

PS: Setiap pagi dengerin radio, sering banget ada pembicaranya si Uztad selalu bilang "Meminta maaf itu penting, tapi yang lebih penting lagi adalah memberi maaf." Sama saja loh kayak doa Bapa Kami untuk umat Kristiani, "Ampunilah kesalahan kami, seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami." Jadi bisa dilihat, sebelum kita memohon ampun kepada yang kuasa, marilah kita duluan mengampuni alias memberi maaf kepada orang yang bersalah kepada kita. Moga-moga kita bisa ya.